Membaca novel Lalita karya Ayu Utami ini bagi saya laksana memasuki sebuah bangunan kuno yang megah. Indah, penuh detail, tetapi juga membingungkan.
Ini bukan sekadar novel yang bisa dinikmati dengan santai. Novel ini justru menuntut kesabaran, ketelitian, dan bahkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua lapisannya bisa langsung dipahami.
Dari semua karya Ayu Utami yang pernah saya baca, novel Lalita ini terasa sebagai yang paling ruwet, namun justru di situlah daya tariknya, bikin penasaran.
Novel ini merupakan bagian dari seri Bilangan Fu, yang sebelumnya telah memperkenalkan saya pada dunia penuh simbol, sejarah, dan spiritualitas yang khas.
Dalam novel Lalita, benang merah itu tetap dipertahankan, bahkan diperluas dengan lebih berani. Kisahnya berpusat pada pertemuan Sandi Yuda dengan seorang perempuan misterius bernama Lalita atau Ambika Putri. Sosok ini digambarkan seperti teka-teki hidup. Glamor, tertutup, sekaligus menyimpan luka dan obsesi yang dalam. Dari pertemuan itulah cerita berkembang, menyeret Yuda, Parang Jati, dan Marja Manjali ke dalam petualangan yang berlapis-lapis.
Secara umum, cerita bergerak dari sebuah misteri personal menuju pencarian yang lebih luas. Tentang sejarah, spiritualitas, dan makna kehidupan itu sendiri. Lalita memiliki keterkaitan dengan sebuah kitab bernama Indigo, yang berisi catatan perjalanan intelektual sekaligus spiritual kakeknya, Anshel Eibenschütz. Tokoh ini menjadi salah satu simpul penting dalam novel, menghubungkan berbagai disiplin. Psikoanalisis, sejarah Eropa, hingga mistisisme Timur.
Dari sinilah cerita mulai terasa kompleks. Ayu Utami dengan berani merajut tokoh-tokoh nyata seperti Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung ke dalam narasi fiksi. Bahkan, jejak legenda seperti Vlad III Dracula ikut disisipkan. Bagi pembaca yang tidak akrab dengan filsafat atau psikoanalisis, bagian ini bisa terasa berat, dan jujur saja, saya termasuk yang sempat tersesat di dalamnya. Namun ketika cerita kembali berpijak pada Borobudur dan mandala, saya seperti menemukan kembali pencerahan.
Salah satu kekuatan utama novel Lalita adalah cara Ayu Utami membangun cerita seperti mandala itu sendiri, berlapis dari luar ke dalam. Ia membawa pembaca dari Kamadhatu (dunia hasrat), menuju Rupadhatu (dunia bentuk), hingga Arupadhatu (dunia tanpa bentuk).
Struktur ini tidak hanya menjadi latar, tetapi juga cara membaca novel ini. Semakin dalam kita menyelam, semakin kita menyadari bahwa ini bukan sekadar cerita, melainkan refleksi tentang manusia, tentang bayangan diri, tentang sisi gelap, dan tentang pencarian makna.
Tema besar lain yang menarik adalah soal otentisitas. Ayu seperti mengajak pembaca mempertanyakan kembali apa yang asli di tengah dunia yang penuh kepalsuan. Baik dalam budaya, cinta, maupun identitas.
Melalui tokoh-tokohnya, terutama Lalita dan Anshel, novel ini mengusik keyakinan bahwa kebenaran tidak selalu bisa dicapai melalui akal semata. Ada jalur lain, yakni spiritualitas, intuisi, bahkan pengalaman personal yang tak terjelaskan.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa novel ini juga memiliki kelemahan. Kepadatan ide sering membuat alur terasa kehilangan fokus. Ada bagian yang terasa terlalu memaksa untuk menyampaikan gagasan tertentu, sehingga nuansa sastranya sedikit tergeser oleh argumentasi.
Selain itu, beberapa tokoh terasa kurang tergarap secara emosional, termasuk Lalita sendiri, yang justru menjadi pusat cerita. Saya pribadi merasa lebih terhubung dengan Marja dan Parang Jati dibandingkan dengan Lalita.
Meski demikian, Lalita tetap merupakan karya yang kaya dan berani. Ia tidak menawarkan kenyamanan, tetapi justru tantangan. Novel ini mengajak pembaca untuk tidak hanya membaca, tetapi juga berpikir, meragukan, dan bahkan tersesat. Dalam dunia sastra yang sering mengejar kemudahan, Lalita hadir sebagai pengingat bahwa kerumitan juga bisa menjadi bentuk keindahan.
Bagi saya, membaca Lalita mungkin belum sepenuhnya tuntas dalam sekali jalan. Ia seperti bangunan Borobudur itu sendiri, harus didatangi berulang kali, setiap kunjungan membuka makna baru. Mungkin, justru di situlah nilai sejatinya. Bukan untuk segera dipahami, tetapi untuk terus direnungkan.
Identitas Buku
- Judul: Lalita
- Penulis: Ayu Utami
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Cetakan: I, Juli 2023
- Tebal: 256 Halaman
- ISBN: 978-602-424-283-1
- Genre: Fiksi/Novel
Baca Juga
-
HUAWEI MatePad Air 2026: Tablet Tipis dengan Layar OLED 144Hz dan AI untuk Kerja Lebih Cerdas
-
iQOO Pad Ultra Segera Rilis: Bawa Kipas Pendingin Internal dan Touch Sampling 5.000Hz
-
Jika Boring, Jangan Lupa Touring: Menikmati Lautan Awan di Puncak Malangsari
-
TECNO Megapad 2 Resmi di Indonesia: Tablet Tipis dengan Layar 2,5K dan Sentuhan AI
-
TECNO Megapad SE 2 Resmi di Indonesia: Layar 9,7 Inci, AI Tutor, dan Harga Rp3 Jutaan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Poret Pendidikan di Pinggiran Kuala Mesuji dalam Novel Anak-Anak Kuala
-
3 Buku Parenting Rekomendasi Nikita Willy, Sukses Didik Anak Tumbuh Optimal
-
Review Serial 10 PM: Ketika Teknologi Membuka Pintu Menuju Dunia Lain
-
Review Avengers: Endgame Encore, Bocoran 4 Adegan Baru yang Menggoda Fans
-
Jika Boring, Jangan Lupa Touring: Menikmati Lautan Awan di Puncak Malangsari
Terkini
-
Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah
-
Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk
-
Bebas Kilap! 4 Physical Sunscreen Silica untuk Kontrol Sebum Kulit Sensitif
-
HUAWEI MatePad Air 2026: Tablet Tipis dengan Layar OLED 144Hz dan AI untuk Kerja Lebih Cerdas
-
Slow Dating: Tak Mau Terburu-buru atau Menghindari Hubungan Intens di Awal?