Ada buku yang selesai dibaca lalu dilupakan begitu saja. Ada pula buku yang meninggalkan gema panjang dalam hati pembacanya. Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim A Fillah termasuk jenis kedua bagi saya.
Ini adalah buku pertama karya Salim A Fillah yang saya baca, dan setelah menutup halaman terakhirnya, saya langsung memahami mengapa banyak orang begitu mencintai tulisan-tulisan beliau.
Cara bertuturnya lembut, puitis, tetapi tetap penuh makna dan ilmu. Ia tidak sekadar mengajak pembaca memahami konsep ukhuwah atau persaudaraan dalam Islam, melainkan juga mengajak merenung tentang hubungan manusia dengan sesama dan dengan Allah.
Isi Buku
Hal pertama yang paling membekas bagi saya adalah bagaimana buku ini membahas kisah Nabi Musa dan Nabi Harun. Selama ini saya tahu bahwa kisah Nabi Musa adalah salah satu kisah yang paling sering diulang dalam Al-Qur’an.
Namun melalui buku ini, saya mulai memahami alasannya. Beratnya ujian Nabi Musa ternyata bukan hanya tentang menghadapi Fir’aun, tetapi juga tentang bagaimana menjaga hati, kesabaran, dan hubungan dengan manusia.
Persahabatan Musa dan Harun digambarkan begitu indah dan menggetarkan. Ada kasih sayang, dukungan, dan ketulusan yang terasa sangat manusiawi. Saat membaca bagian itu, saya sampai berdoa diam-diam semoga Allah menghadirkan persahabatan seindah hubungan dua nabi tersebut dalam hidup saya.
Di zaman sekarang, buku seperti ini terasa relevan sekali. Kita hidup di era ketika orang semakin mudah curiga, saling menyudutkan, dan terlalu berhati-hati satu sama lain. Media sosial memperparah semuanya.
Sedikit perbedaan bisa berubah menjadi permusuhan panjang. Dalam Dekapan Ukhuwah hadir seperti pengingat lembut untuk kembali belajar husnudzan atau berbaik sangka.
Salim A Fillah mengajak pembaca meninggalkan “Narcissus”, simbol manusia yang terlalu mencintai diri sendiri, menuju teladan Rasulullah ﷺ sebagai pribadi perajut persaudaraan. Kalimat-kalimatnya terasa dalam sekaligus menenangkan. Ia mengingatkan bahwa ukhuwah sejati tidak mungkin lahir tanpa iman.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini menekankan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi juga tercermin dari cara kita memperlakukan orang lain. Ukuran iman terlihat dari apakah orang lain aman dari lisan dan tangan kita. Dan menurut saya, justru bagian itu yang paling sulit dilakukan di kehidupan sehari-hari.
Yang membuat buku ini istimewa adalah perpaduan isinya. Tidak hanya membahas ayat dan hadis, tetapi juga dipenuhi kisah sirah Nabi, cerita para sahabat, motivasi diri, hingga pemikiran tokoh modern seperti Dale Carnegie dan Stephen Covey. Semua dirangkai dalam bahasa yang hangat dan tidak menggurui.
Saya juga sangat menyukai bagaimana Salim A Fillah menulis sejarah. Ia tidak menggambarkan para sahabat sebagai manusia tanpa cela. Sebaliknya, beliau justru menunjukkan sisi manusiawi mereka tanpa menghilangkan kemuliaannya. Cara seperti ini membuat kisah-kisah sejarah terasa lebih hidup dan dekat dengan pembaca.
Salah satu bagian paling menohok bagi saya adalah pembahasan tentang prasangka baik kepada Allah. Di akhir salah satu bab, penulis mengisahkan Qalawun yang berkata, “Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Tapi kami selalu berprasangka baik kepada Allah.”
Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam.
Saya benar-benar tercenung ketika membacanya. Sebab saya sendiri pernah berada di titik ketika hidup terasa berat dan penuh ketidakjelasan.
Dalam kondisi seperti itu, sering kali satu-satunya hiburan hanyalah keyakinan bahwa Allah lebih tahu mana yang terbaik. Bahwa sesuatu yang tampak buruk menurut kita, bisa jadi justru jalan terbaik yang Allah siapkan.
Pesan Moral
Buku ini juga mengutip hadis qudsi yang sangat terkenal: Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Pesan itu terasa begitu menenangkan. Seolah Allah sedang mengingatkan bahwa harapan baik kita kepada-Nya tidak akan pernah sia-sia.
Namun tentu saja ukhuwah tidak selalu mudah. Buku ini juga jujur membahas bahwa persaudaraan membutuhkan kesabaran besar. Kita tidak bisa mendewakan ego ketika hidup berdampingan dengan orang lain. Akan selalu ada ujian, salah paham, dan perbedaan prinsip. Tetapi justru di sanalah letak keindahan ukhuwah.
Dalam Dekapan Ukhuwah bukan hanya buku tentang persaudaraan Islam. Buku ini adalah ajakan untuk menjadi manusia yang lebih lembut hati, lebih mudah memaafkan, lebih banyak berbaik sangka, dan lebih tulus mencintai sesama karena Allah.
Identitas Buku
- Judul: Dalam Dekapan Ukhuwah
- Penulis: Salim A. Fillah
- Penerbit: Pro-U Media
- Tahun Terbit: 2010
- Tebal: 472 Halaman
- ISBN: 9789791273664
- Genre: Pengembangan Diri/Islam
Baca Juga
-
Membongkar Fenomena Anti-Intelektual di Media Sosial: Apa yang Salah dengan Kita?
-
Guru Hebat Tak Cukup, Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah
-
Mohammad Hatta: Potret Kesederhanaan dan Integritas Sang Proklamator
-
Membaca Ulang Sang Mahapatih Gajah Mada di Buku Agus Munandar
-
Ledakan Pengangguran: Membaca Persoalan di Balik Ketergantungan pada MBG
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Law and The City: Drama Hukum dengan Nuansa Healing yang Hangat
-
Voicemails for Isabelle: Sulitnya Melepas Orang yang Telah Tiada
-
Toy Story 5 Angkat Fenomena Screen Time Addiction pada Anak-Anak
-
Mohammad Hatta: Potret Kesederhanaan dan Integritas Sang Proklamator
-
Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Misteri Ritual Kuno yang Mencekam!
Terkini
-
Teriak Demokrasi, tapi yang Beda Pendapat Dicap Buzzer: Sehat?
-
Punya Kulit Kering & Berjerawat? 4 Moisturizer Ini Aman Tanpa Bikin Pori Tersumbat
-
Bintang yang Mustahil Digapai
-
Jadi Ladang Korupsi, Program MBG Sudah Sepatutnya Dihentikan?
-
Dibalik Maraknya Kasus Deepfake di Kampus: AI Bukan Lagi Sekadar Alat Bantu