Bagi umat Hindu di Bali, tradisi mebanten atau banten saiban merupakan ritual harian yang dilakukan seusai memasak. Sebagian kecil hasil masakan dipersembahkan sebagai bentuk rasa syukur atas sepiring nasi yang menjadi bekal untuk melanjutkan hidup. Namun, di tangan sastrawan Oka Rusmini, tradisi sederhana ini meluas menjadi sebuah filosofi yang lebih dalam. Ia mengangkatnya menjadi judul kumpulan puisinya, Saiban, sebuah buku yang kemudian berhasil memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa. Dari judulnya saja, pembaca seolah diajak melihat puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan juga sebuah bentuk persembahan.
Ditulis dalam kurun waktu 2008 hingga 2014, buku puisi tipis ini terasa seperti sebuah “upacara” tersendiri bagi sang pengarang. Enam tahun yang terangkum di dalamnya membuat Saiban seolah menjadi catatan perjalanan batin yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, bukan sekadar kumpulan sajak yang berdiri sendiri. Oka menghaturkan rasa syukur yang tak ada habisnya kepada Kosmis melalui kata-kata yang lahir dari rahim pikirannya. Di dalamnya, hal-hal yang tampak sederhana dapat berubah menjadi bahan perenungan: perjumpaan, kerinduan, tubuh, alam, kegelisahan, hingga kehidupan manusia yang terus bergerak. Seperti banten saiban yang diberikan sebagai persembahan setelah kegiatan sehari-hari selesai, puisi-puisi dalam buku ini pun terasa seperti sesuatu yang dihaturkan setelah pengarang melewati berbagai pengalaman dan pergulatan dalam hidupnya.
Membaca Saiban tidak serta-merta membuat saya langsung memahami seluruh isi puisinya. Ada bagian-bagian yang membuat saya harus berhenti sejenak, membaca ulang, bahkan menerka-nerka ke mana sebenarnya arah yang ingin dituju penyair. Ruang tanya, kemasygulan, kerinduan, dan kegetiran banyak hadir melalui sapaan “aku” dan “kau”, tetapi hubungan keduanya tidak selalu mudah ditebak. Justru di situlah saya menemukan daya tarik buku ini. Puisi-puisi Oka tidak selalu memberikan jawaban secara gamblang kepada pembacanya. Ia membiarkan beberapa makna tetap menggantung, sehingga pembaca memiliki ruang untuk memasukkan pengalaman dan perasaannya sendiri. Pilihan katanya pun terasa magis, memikat, dan menghunjam ke hati tanpa harus menjadi rumit atau terdengar cengeng.
Dari sekian banyak sajak di dalamnya, beberapa bagian memiliki daya cengkeram yang lebih kuat bagi saya. Salah satunya adalah puisi nomor 6 yang mengambil latar sebuah kafe. Ada sesuatu yang menarik dari cara Oka menghadirkan kerinduan di tempat yang sebenarnya begitu biasa. Kafe, secangkir kopi, suasana yang sunyi, dan seseorang yang dinanti perlahan berubah menjadi ruang bagi kenangan untuk tumbuh. Rindu dalam puisi ini tidak hadir sebagai perasaan yang diumbar begitu saja, melainkan seperti sesuatu yang diam-diam memenuhi ruang di antara “aku” dan “kau”. Saya menangkap adanya penantian yang panjang dan perasaan yang tidak sepenuhnya selesai. Semakin dibaca, suasananya justru terasa seperti labirin: pembaca tahu ada seseorang yang dirindukan, tetapi tidak selalu tahu apakah yang sebenarnya sedang dicari adalah orangnya, kenangannya, atau sesuatu dari masa lalu yang pernah mereka miliki.
Namun, Saiban rupanya tidak berhenti pada urusan cinta dan kerinduan. Di antara sajak-sajak yang intim dan penuh pergulatan batin, Oka juga menyelipkan kegelisahannya terhadap kehidupan di sekitarnya. Polusi, perubahan akibat pariwisata, hingga hubungan manusia yang semakin dipengaruhi media sosial turut mendapatkan tempat dalam puisinya. Hal yang menarik bagi saya adalah cara persoalan-persoalan tersebut tidak disampaikan seperti sebuah pidato atau kritik yang menggurui. Oka tetap membungkusnya dengan bahasa puitis, sehingga persoalan yang sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat muncul dalam bentuk yang lebih samar dan mengajak pembaca berpikir. Dari sini saya melihat bahwa kerinduan dalam Saiban bukan hanya tentang kehilangan seseorang, tetapi juga tentang manusia yang perlahan berjarak dengan lingkungan, sesamanya, bahkan mungkin dengan dirinya sendiri.
kekuatan Saiban tidak hanya terletak pada tema yang dibawanya, tetapi juga pada cara Oka Rusmini merangkai kata. Nuansa ritual dan tradisi Bali hadir sebagai bagian dari napas puisi, tetapi tidak membuat buku ini terasa jauh bagi pembaca yang berasal dari latar budaya berbeda. Justru melalui kata-kata yang sederhana namun penuh lapisan, pengalaman yang sangat personal dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih universal. Ada kalanya saya tidak benar-benar yakin telah menangkap maksud sebuah sajak, tetapi suasana yang ditinggalkannya tetap melekat setelah halaman ditutup. Bagi saya, kemampuan untuk meninggalkan kesan bahkan ketika maknanya belum sepenuhnya terpecahkan adalah salah satu kekuatan Saiban. Oka seperti tidak memaksa pembacanya untuk menemukan satu jawaban, melainkan mengajak mereka tinggal sebentar di dalam suasana yang ia ciptakan.
Pada akhirnya, Saiban memang bukan buku yang sepenuhnya cocok dengan selera saya. Saya sendiri lebih menikmati novel seperti Tarian Bumi dibandingkan kumpulan puisi, sehingga ketika membaca buku ini, ada beberapa bagian yang terasa biasa saja dan tidak semuanya berhasil membuat saya tertarik. Meski begitu, saya tetap bisa melihat kekuatan Oka Rusmini dalam memilih kata dan memasukkan unsur tradisi Bali ke dalam puisinya. Bagi pembaca yang memang menyukai puisi, terutama puisi dengan tema kehidupan, kerinduan, dan kegelisahan sosial, Saiban mungkin bisa menjadi bacaan yang menarik. Namun bagi saya pribadi, buku ini cukup dibaca dan dinikmati tanpa meninggalkan kesan yang terlalu besar.
Baca Juga
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
Serdadu dari Neraka: Warga Sipil di Tengah Konflik Pemerintah dan GAM
-
Bayi Terapung yang Menjadi Wali: Menyelami Kisah Sunan Giri Lewat Saga dari Samudra
-
Si Anak Pemberani, Novel yang Diam-Diam Meracuni Orang untuk Membaca
-
Max Havelaar! Novel Legendaris Pelajaran SMA yang Mengguncang Belanda
Artikel Terkait
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
-
Desa Les: Fondasi Kolaboratif bagi Ketahanan Desa Berkelanjutan
-
Desa Sejahtera Astra Les Bali: Garam, Laut, dan Masa Depan Berkelanjutan
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
-
Bulan Terbaik untuk Liburan ke Bali, Kapan Waktu yang Paling Ideal?
Ulasan
-
10 Momen Kece yang Wajib Kamu Tahu sebelum Nonton Spider-Man: Brand New Day
-
Review House of the Dragon Season 3: Hancurnya Moralitas Para Penguasa!
-
Keinginan Remaja vs Orang Tua dalam How Could You Do This to Me, Mum?
-
Mawar Merah Matahari: Aksi Seru si Gadis Pembunuh Bayaran Mencegah Perang
-
Review Serial Our Sticky Love: Kisah Asmara Unik Mantan Petinju dan Jaksa
Terkini
-
4 Acne Micellar Water Bebas Alkohol, Rawat Kulit Berjerawat Tanpa Iritasi
-
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Desa: Perjalanan Kang Edai di Kemiren
-
Kang Edai, Penjaga Adaptasi Perubahan Iklim dari Desa Kemiren
-
Makna yang Tertinggal di Atas Kanvas
-
Gak Perlu Mahal! 5 Rekomendasi Smartwatch Berkualitas dan Ramah di Kantong