Pada Minggu (10/5/2026) kemarin, perjalanan liburan kami, dimulai dari Ledokombo pada pagi yang cukup cerah, dengan semangat yang bahkan terasa sejak kami masih bersiap di rumah.
Hari itu bukan sekadar jalan-jalan biasa. Kami sudah merencanakan liburan santai penuh kebersamaan menuju Roxy Square Jember. Saya berangkat bersama ibu tercinta serta dua anak saya, Agha dan Zidna, yang sejak awal sudah menunjukkan tanda-tanda tidak sabar ingin jalan-jalan.
Baru beberapa menit di perjalanan, suara khas anak-anak mulai terdengar, βKok lama sekali nyampeknya?β
Pertanyaan itu diulang berkali-kali, dengan intonasi yang kadang terdengar dramatis, seolah-olah kami sedang menempuh perjalanan lintas pulau. Padahal, jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu setengah jam. Namun, realitas jalanan berkata lain. Kami harus melewati kemacetan di beberapa titik, termasuk sekitar tujuh lampu merah yang terasa seperti menguji kesabaran.
Di setiap lampu merah, selalu ada cerita kecil. Agha mulai menghitung jumlah kendaraan di depan, Zidna sibuk menunjuk mobil mewah dari lawan arah, sementara ibu saya hanya tersenyum melihat tingkah cucunya yang menggemaskan. Sesekali beliau melontarkan candaan ringan, membuat suasana di dalam mobil tetap hangat. Bahkan kemacetan pun terasa lebih ringan ketika diiringi tawa.
Memasuki kawasan Kaliwates, suasana berubah. Jalanan semakin ramai, deretan toko dan kendaraan menciptakan denyut kota yang hidup.
Agha yang sejak tadi bosan, tiba-tiba kembali bersemangat, βIni sudah dekat ya?β
Kali ini, saya mengangguk mantap, dan sorak kecil pun terdengar dari kursi belakang.
Setibanya di Roxy Square Jember yang berlokasi di Jl. Hayam Wuruk No. 50-58, kami langsung merasakan suasana pusat perbelanjaan yang ramai namun tetap nyaman.
Area parkirnya cukup luas, dan setelah memarkir mobil, Agha dan Zidna langsung ingin berlari masuk, seolah-olah khawatir wahana bermainnya akan kabur jika mereka terlambat.
Berpose dengan Boneka Badut
Begitu memasuki mall, mata mereka langsung berbinar. Ornamen warna-warni, lampu terang, dan suara riuh pengunjung menciptakan atmosfer yang menyenangkan. Namun, satu hal yang paling menarik perhatian mereka adalah boneka badut berbentuk cangkir besar yang berdiri lucu di salah satu sudut. Tanpa banyak diskusi, mereka langsung merengek ingin berfoto.
Dengan biaya Rp10.000 sekali jepret, mereka bergantian berpose. Agha mencoba gaya cool, sementara Zidna lebih memilih gaya bebas dengan tawa lepas.
Hasil fotonya mungkin sederhana, tapi ekspresi kebahagiaan mereka benar-benar tak ternilai. Bahkan ibu saya ikut tertawa melihat gaya cucunya yang penuh percaya diri.
Petualangan berlanjut saat kami menaiki eskalator. Bagi orang dewasa, ini biasa saja. Tapi bagi Agha dan Zidna, eskalator adalah wahana tersendiri. Mereka berdiri dengan ekspresi takjub, seolah sedang naik kendaraan futuristik. Saya hanya bisa tersenyum melihat betapa hal sederhana bisa terasa luar biasa di mata anak-anak.
Anak Sedang Naik Kuda Mainan
Sesampainya di lantai permainan, energi mereka seperti meledak. Kami menuju area Happy Games, tempat berbagai permainan seru tersedia. Dari arcade modern hingga mobil-mobilan, semuanya membuat mereka bingung memilih. Agha mencoba kuda mainan yang bergerak naik turun dengan wajah serius, sementara Zidna tertawa tanpa henti dengan duduk di sampingnya.
Salah satu momen paling lucu adalah saat mereka berpose dengan patung Kung Fu Panda. Agha mencoba menirukan pose silat, meski hasilnya lebih mirip gaya superhero kelelahan. Zidna, di sisi lain, hanya tertawa melihat kakaknya. Momen itu pun berubah menjadi tawa bersama.
Meniru Pose Patung Kung Fu Panda
Tak jauh dari sana, kami juga mengunjungi Kidz Creative Playground. Di sini, suasana lebih edukatif. Anak-anak bermain mini kitchen set, pura-pura memasak, hingga menyusun balok. Zidna dengan serius memasak sambil menawarkan makanan hasil masakannya kepada kami, sementara Agha mencoba membangun sesuatu yang akhirnya lebih mirip menara roboh. Lagi-lagi, tawa menjadi bagian utama dari setiap momen.
Sementara anak-anak larut dalam dunia mereka, saya dan ibu berjalan santai mengelilingi mall. Kami mampir ke beberapa tenant, melihat-lihat pakaian, hingga membeli kebutuhan di supermarket. Di sela itu, kami menikmati camilan ringan di food court, berbincang santai sambil sesekali melirik ke arah area bermain.
Waktu terasa berjalan cepat. Tanpa terasa, sore mulai menjelang. Kami pun mengajak Agha dan Zidna pulang, meski sempat ada negosiasi kecil karena mereka masih ingin bermain. Namun akhirnya mereka setuju, mungkin karena energi mereka sudah benar-benar terkuras.
Dalam perjalanan pulang, suasana mobil berubah hening. Agha dan Zidna tertidur dengan posisi yang kreatif, masih menyisakan senyum di wajah mereka. Saya dan ibu saling berpandangan, lalu tersenyum. Hari itu mungkin sederhana, tapi penuh makna.
Bagi saya, perjalanan ini bukan hanya soal pergi ke mall atau bermain. Ini tentang kebersamaan, tentang tawa kecil di tengah kemacetan, tentang momen-momen sederhana yang justru paling berkesan. Karena pada akhirnya, yang akan selalu diingat bukanlah tempatnya, melainkan cerita yang tercipta di dalamnya.
Baca Juga
-
Masih Hangat!Honor X80 Pro Max Resmi Debut 22 Juni:Usung Baterai 11.000 mAh dan Layar 10.000 Nits
-
Hutan yang Menelan Rahasia dalam Buku Dosa di Hutan Terlarang
-
Membaca Tembang Talijiwo: Seni Menertawakan Kekacauan Hidup
-
Lenovo Yoga Slim Ultra 7 FIFA World Cup 26 Edition:Laptop AI Premium dengan Aura Sang Juara
-
Honor 600 Smart 5G: HP Baru dengan Snapdragon 4 Gen 4 Pertama di Dunia
Artikel Terkait
-
Profil Achmad Syahri As Siddiqi, Anggota DPRD Termuda yang Merokok dan Main Game di Tengah Rapat
-
Viral! Anggota DPRD Jember Terekam Main Game dan Merokok Saat Rapat Bahas Stunting
-
Naik Kapal Pesiar Bayar Berapa? Segini Harga Cruise 2026 dan Cara Belinya
-
Petualangan Penuh Makna ke Museum Blambangan dan Pantai Pulau Santen
-
Liburan ke Bogor Makin Lengkap, Nonton Sunset di Kebun hingga Healing ke Curug
Ulasan
-
Review Welcome to the Jungle: Kekacauan di Hutan yang Penuh Lelucon Absurd!
-
Drama Once Upon a Small Town, Ketika Dokter Hewan Kota Harus Pindah ke Desa
-
Membaca Papua Lewat Memoria Passionis: Catatan Luka dari Timur Nusantara
-
Novel Kereta 4.50 dari Paddington: Trik Pembunuhan di Luar Nalar
-
Paradoks Kekerasan dan Agama dalam Film In the Hand of Dante
Terkini
-
Anti Ribet! 5 Moisturizer Stick yang Bikin Wajah Lembap Seharian
-
Record of Ragnarok Season 4 Resmi Diumumkan, Janjikan Duel Pedang Intens
-
Djed Spence Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026: Muslim Pertama Timnas Inggris
-
Ambil Peran Ganda, Yoon Ji Sung Bintangi Musikal Portrait of a Boy
-
Song Hye Kyo Resmi Akhiri Kontrak dengan UAA Setelah 14 Tahun Bersama