Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Josepha Alexandra, Peserta LCC 4 Pilar MPR RI 2026 dari SMAN 1 Pontianak (YouTube/MPR RI Official)
e. kusuma .n

Belakangan ini, media sosial ramai membahas polemik babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Potongan video yang memperlihatkan protes peserta dari SMAN 1 Pontianak mempertanyakan keputusan juri viral.

Saat melihat videonya, saya bukan hanya fokus pada persoalan nilai. Yang paling terasa justru suasana ketika seorang pelajar mencoba menyampaikan keberatan dengan tenang, tetapi respons yang diterima malah memicu perdebatan lebih besar.

Dan dari situ, saya merasa polemik ini bukan lagi sekadar soal lomba. Ini tentang bagaimana keberanian, keadilan, dan cara orang dewasa merespons suara anak muda dipertontonkan di ruang publik.

Ketika Jawaban yang Sama Mendapat Penilaian Berbeda

Polemik bermula saat peserta dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan terkait pemilihan anggota BPK oleh DPR dengan pertimbangan DPD. Namun jawaban itu dianggap kurang lengkap dan tim mendapat pengurangan nilai.

Tak lama kemudian, tim dari sekolah lain memberikan jawaban dengan substansi yang dinilai serupa dan justru mendapat poin penuh.  Hal inilah yang kemudian diprotes oleh pihak SMAN 1 Pontianak.

Sebagai penonton, saya bisa memahami kenapa banyak orang merasa bingung. Dalam lomba akademik, objektivitas adalah hal yang sangat penting. Hal inilah yang kemudian membuat peserta merasa perlu mempertanyakan keputusan juri.

Penilaian berbeda terhadap jawaban yang substansinya sama membuat publik mempertanyakan transparansi prosesnya. Dan menurut saya, wajar jika peserta merasa ingin meminta penjelasan.

Respons Juri dan MC yang Jadi Sorotan

Yang membuat situasi semakin ramai bukan hanya soal nilai, tetapi juga respons yang diberikan setelah protes muncul. Dalam video yang beredar, MC meminta peserta menerima keputusan juri, bahkan menyebut kalau mungkin itu “hanya perasaan” peserta saja.

Sementara juri juga menekankan soal artikulasi jawaban yang dianggap kurang terdengar jelas. Jujur saja, bagian ini yang menurut saya paling disayangkan. Juri dan MC terasa seperti kurang memberi ruang bagi peserta untuk didengar.

Padahal, dalam situasi seperti itu, yang dibutuhkan bukan hanya ketegasan, tapi juga empati dan keterbukaan. Karena bagaimanapun, peserta lomba adalah pelajar yang sedang belajar menyampaikan pendapat secara kritis.

Keberanian Josepha Alexandra yang Mengundang Simpati

Di tengah polemik itu, nama Josepha Alexandra menjadi perhatian publik. Banyak warganet memuji caranya menyampaikan keberatan dengan tenang dan tetap sopan meski berada dalam situasi yang menegangkan.

Menurut saya, keberanian Ocha, panggilan akrab siswi kelas XI SMAN 1 Pontianak, merupakan poin penting yang tidak boleh diabaikan. Tidak semua pelajar berani mengoreksi keputusan di ruang publik, apalagi di hadapan juri dan acara resmi.

Banyak pelajar mungkin memilih diam karena takut dianggap melawan atau tidak sopan. Tapi Ocha tetap mencoba menyampaikan jika timnya juga sudah memberikan jawaban yang benar.

Dan yang menarik, ia melakukannya tanpa marah-marah atau kehilangan sikap hormat. Bagi saya, sikap itu menunjukkan keberanian sekaligus kedewasaan dari seorang remaja.

Anak Muda Sering Diminta Kritis, Tapi Tidak Selalu Diberi Ruang

Hal yang membuat saya berpikir lebih dalam adalah bagaimana generasi muda sering didorong untuk berpikir kritis, berani berbicara, dan aktif menyampaikan pendapat. Tapi praktiknya, respons yang diterima tidak selalu nyaman.

Kadang dianggap membantah atau terlalu berani. Kadang malah diminta diam demi menjaga situasi tetap kondusif. Padahal, budaya akademik yang sehat justru seharusnya memberi ruang untuk diskusi dan klarifikasi.

Dan menurut saya, keberanian Ocha seharusnya dilihat sebagai bentuk keberanian intelektual, bukan ancaman terhadap otoritas.

Polemik yang Lebih Besar dari Sekadar Lomba

Saya merasa polemik LCC ini akhirnya menyentuh sesuatu yang lebih luas, yaitu soal rasa keadilan. Mungkin itu sebabnya publik begitu emosional melihat potongan video tersebut. Publik merasa senasib: di posisi benar, tapi tidak benar-benar didengar.

Karena itu, reaksi masyarakat bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah, tapi tentang bagaimana seseorang diperlakukan ketika mencoba mempertahankan pendapatnya tapi seolah dipaksa bungkam.

Dan menurut saya, institusi pendidikan maupun acara resmi seharusnya bisa menjadi contoh bagaimana menyikapi keberatan secara lebih bijak dan terbuka. Apalagi acara ini hajat milik wakil rakyat.

Keberanian Anak Muda Perlu Dihargai

Belakangan, beberapa pihak bahkan menyampaikan apresiasi terhadap Josepha Alexandra karena dinilai berani mengoreksi ketidakadilan. Ada juga dorongan agar evaluasi terhadap pelaksanaan lomba dilakukan secara terbuka.

Saya rasa, itu langkah yang penting. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang hafalan atau nilai lomba. Tapi juga tentang keberanian berpikir, kemampuan menyampaikan pendapat, dan sikap menghargai proses dialog.

Dan mungkin, dari polemik ini, ada satu hal yang bisa dipelajari bersama: anak muda tidak hanya perlu diajarkan untuk patuh. Mereka juga perlu didengar ketika berani bersuara dengan cara yang baik.