Diadaptasi dari novel karya Daniel Wallace, film ini tampil seperti dongeng penuh fantasi. Saya sendiri menonton film ini setelah ramai diperbincangkan karena dianggap mirip dengan novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye.
Film ini sendiri mendapat sambutan luar biasa sejak dirilis pada Desember 2003. Secara global, Big Fish meraih pendapatan lebih dari 122 juta dolar AS dan masuk dalam beberapa nominasi penghargaan besar, termasuk Golden Globe dan Academy Awards.
Sinopsis Film
Tokoh utama film ini adalah Edward Bloom, diperankan oleh Ewan McGregor saat muda dan Albert Finney saat tua. Edward adalah tipe ayah yang selalu mengubah hidup menjadi legenda. Ia bercerita tentang ikan raksasa yang sulit ditangkap, penyihir yang bisa memperlihatkan kematian seseorang lewat matanya, raksasa kesepian, manusia serigala, hingga kota misterius bernama Spectre.
Semasa kecil, putranya, Will Bloom, sangat mengagumi semua kisah itu. Namun ketika dewasa, Will mulai muak. Baginya, ayahnya tidak pernah jujur. Semua cerita terdengar seperti kebohongan yang dilebih-lebihkan demi mencari perhatian.
Hubungan mereka pun memburuk, terutama setelah Edward kembali menceritakan legenda “big fish” di pesta pernikahan Will.
Konflik inilah yang membuat film terasa begitu manusiawi. Banyak anak tumbuh dengan melihat orang tuanya sebagai sosok luar biasa. Namun ketika dewasa, mereka mulai sadar bahwa orang tua juga manusia biasa. Kadang berlebihan, keras kepala, bahkan menjengkelkan.
Will ingin ayahnya berhenti mendongeng dan mulai berkata jujur. Tetapi Edward justru percaya bahwa cerita-cerita itu adalah bentuk paling jujur dari dirinya.
Di titik ini, Big Fish menjadi menarik karena penonton dipaksa bertanya. Apakah semua cerita harus selalu faktual untuk menjadi benar?
Ketika Edward divonis mengidap kanker dan waktunya tak lama lagi, Will akhirnya pulang. Ia mencoba mencari kebenaran di balik seluruh kisah ayahnya. Sedikit demi sedikit ia menemukan bahwa tokoh-tokoh dalam cerita Edward ternyata memang nyata, meski versi aslinya tidak semagis yang selama ini dibayangkan.
Kelebihan dan Kekurangan
Adegan paling menyentuh muncul menjelang akhir film, ketika Edward terkena stroke dan meminta Will menceritakan bagaimana dirinya akan meninggal. Untuk pertama kalinya, sang anak ikut masuk ke dunia dongeng ayahnya.
Will akhirnya memahami bahwa Edward tidak sedang berbohong. Ia hanya memilih menjalani hidup dengan cara yang lebih indah.
Di sinilah Big Fish mengubah cara pandang tentang kematian. Film ini tidak melihat kematian sebagai akhir tragis, melainkan puncak dari sebuah cerita hidup. Seseorang mungkin akan mati, tetapi kisah tentang dirinya bisa tetap hidup dalam ingatan orang lain.
Terkait isu plagiarisme sendiri, selain alurnya sendiri hampir tidak ada bagian yang benar-benar mirip. Mitos yang digunakan pun berbeda jauh. Karena itu, menyebut keduanya identik terasa terlalu menyederhanakan karya yang sebenarnya memiliki ruh berbeda.
Namun apakah termasuk plagiarisme? Sepertinya perlu kajian literatur yang lebih serius dan ahli di bidangnya untuk menjawab persoalan ini.
Pesan Moral
Penutup film menjadi salah satu ending paling emosional dalam sinema modern. Saat pemakaman Edward berlangsung, Will melihat semua orang yang selama ini muncul dalam dongeng ayahnya hadir di sana. Mereka nyata.
Tidak persis seperti versi fantasi Edward, tetapi cukup untuk membuat Will sadar bahwa ayahnya selama ini hanya memperbesar kehidupan, bukan memalsukannya.
Dan mungkin di situlah makna terbesar Big Fish: manusia tidak selalu ingin dikenang karena fakta-fakta hidupnya, tetapi karena cerita yang berhasil ia tinggalkan.
Identitas Film
- Judul: Big Fish
- Sutradara: Tim Burton
- Penulis Novel: Daniel Wallace
- Tanggal Rilis: Desember 2003
- Genre: Drama, Petualangan, Fantasi
Pemeran Utama:
- Ewan McGregor sebagai Edward Bloom (Muda)
- Albert Finney sebagai Edward Bloom (Tua)
- Billy Crudup sebagai Will Bloom (Putra Edward)
- Jessica Lange sebagai Sandra Bloom (Istri Edward)
Baca Juga
-
Membaca Petualangan Pedagang Rempah: Sisi Gelap Kolonial di Indonesia Timur
-
20 Episode Penuh Teror Mouse: Saat Monster Tak Selalu Berwajah Seram
-
Ketika Demokrasi Dipimpin Satu Komando: Nasib Politik Islam Tahun 1959-1965
-
Membaca Mata yang Enak Dipandang: Cermin Retak Masyarakat Kita yang Masih Sangat Relevan
-
Dari Budaya Pop ke Kesadaran Publik: Kuasa Media di Indonesia
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mengupas Lirik Terima Kasih Sudah Bertahan: Pengingat bahwa Bertahan Juga Sebuah Pencapaian
-
Membaca Petualangan Pedagang Rempah: Sisi Gelap Kolonial di Indonesia Timur
-
Black Showman, Novel Misteri Cerdas dengan Twist Tak Terduga
-
20 Episode Penuh Teror Mouse: Saat Monster Tak Selalu Berwajah Seram
-
Ulasan Film Semua Akan Baik-baik Saja: Refleksi Indah tentang Arti Keluarga
Terkini
-
Selamat! Lagu Peace Sign oleh Kenshi Yonezu Raih Sertifikasi Gold dari RIAA
-
Wisuda Tinggal Menghitung Hari, Tapi Kenapa Saya Malah Merasa Takut?
-
Sinopsis Hanzaisha, Drama Kriminal Terbaru Issei Takahashi di Prime Video
-
Membawa Ruh Yogyakarta ke Bandung: Sinergi Budaya dan Bisnis LBC Hotels Group
-
Kim Da Mi, Lee Chung Ah, dan Jo Ah Ram Jadi Pembunuh di The Obedient Killer