Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Film (Unsplash/@jontyson)
Oktavia Ningrum

Apa yang ditonton masyarakat setiap hari perlahan membentuk cara berpikir, selera, bahkan pandangan politik mereka. Karena itu, memahami Indonesia modern tidak cukup hanya lewat pidato politik, buku sejarah, atau data ekonomi. Kita juga harus melihat apa yang ditonton masyarakatnya.

Fakta ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal tahun 2000-an. Tidak ada lembaga sosial lain di Indonesia yang mampu menyita perhatian publik sebesar media elektronik, terutama televisi. Orang bisa menghabiskan berjam-jam duduk di depan layar setiap hari.

Dalam banyak rumah, televisi bahkan lebih didengar daripada orang tua, guru, atau tokoh agama. Ia menjadi “anggota keluarga” yang diam-diam mengajarkan nilai, gaya hidup, dan cara memandang dunia. Apalagi di era ini di mana smartphone tak lepas dari genggaman selama 24 jam. 

Karena itulah kajian budaya populer menjadi penting. Jika tidak, kita akan gagal memahami Indonesia kontemporer secara utuh.

Selama bertahun-tahun, budaya populer sering dianggap hiburan receh. Film, sinetron, reality show, bahkan musik pop dianggap sekadar produk pasar yang tidak perlu dipikirkan serius. Padahal justru di situlah pertarungan gagasan berlangsung paling sengit. Budaya populer adalah arena perebutan pengaruh.

Kebangkitan film Indonesia setelah mati suri pada era 1990-an menunjukkan hal tersebut dengan sangat jelas. Saat itu perfilman nasional sempat runtuh akibat serbuan film Hollywood, maraknya VCD bajakan, dan dominasi televisi swasta yang menawarkan hiburan murah setiap hari. Publik kehilangan kepercayaan terhadap film lokal.

Namun situasi berubah ketika film Ada Apa Dengan Cinta? muncul pada 2002. Film karya Rudi Soedjarwo itu bukan cuma sukses secara komersial, tetapi juga menjadi simbol lahirnya generasi baru perfilman Indonesia.

Anak muda mulai merasa bahwa cerita mereka akhirnya hadir di layar lebar dengan bahasa yang dekat, modern, dan relevan. Bahkan media asing melaporkan bagaimana film tersebut mampu menyaingi dominasi film Hollywood di Indonesia.

Fenomena itu penting karena menunjukkan satu hal: masyarakat Indonesia sebenarnya haus akan representasi diri mereka sendiri. Mereka ingin melihat wajah, bahasa, dan kegelisahan mereka tampil di layar.

Setelah itu lahirlah gelombang baru perfilman Indonesia. Sutradara muda bermunculan. Film independen tumbuh. Teknologi digital membuat produksi film menjadi lebih murah dan demokratis. Anak-anak muda di berbagai kota mulai membuat film pendek dengan kamera sederhana dan anggaran minim.

Ketika sebuah stasiun televisi membuka lomba film pendek pada 2002, ribuan karya dikirimkan. Itu menandakan bahwa budaya visual bukan lagi milik elite industri semata, tetapi sudah menjadi bagian dari ekspresi generasi muda.

Namun di balik perkembangan itu, budaya populer juga menjadi medan konflik ideologi.

Kelompok politik, pebisnis, hingga organisasi keagamaan sama-sama sadar bahwa layar adalah alat pengaruh paling efektif. Karena itu, budaya pop kemudian diperebutkan. Ada yang memakai film dan televisi untuk menyebarkan nasionalisme, ada yang menggunakannya untuk promosi gaya hidup konsumtif, dan ada pula yang mencoba membatasi budaya populer atas nama moralitas.

Di titik ini, kita melihat bahwa perang budaya di Indonesia sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi di parlemen. Ia terjadi di layar kaca.

Sinetron religi, film nasionalisme, konten media sosial, hingga drama percintaan remaja semuanya membawa nilai tertentu. Tidak ada tontonan yang sepenuhnya netral. Bahkan pilihan tentang siapa yang dianggap “baik”, “modern”, “saleh”, atau “ideal” sering kali dibentuk oleh industri media.

Masalahnya, masyarakat Indonesia masih sering memandang budaya populer secara dangkal. Kita sibuk memperdebatkan artis, gosip, atau viralitasnya, tetapi lupa melihat ideologi di baliknya. Padahal media tidak hanya menjual hiburan. Ia juga menjual cara hidup.

Akibatnya, publik mudah terbawa arus tren tanpa sadar sedang diarahkan. Hari ini orang bisa marah besar karena simbol nasional dilecehkan di televisi atau media sosial, tetapi di saat yang sama lupa membahas ketimpangan sosial, krisis pendidikan, atau korupsi yang jauh lebih nyata dampaknya.

Inilah mengapa budaya populer perlu dibaca secara kritis. Sebab layar bukan sekadar hiburan pengisi waktu luang. Ia adalah ruang tempat identitas bangsa dibentuk, diperebutkan, dan dipasarkan setiap hari.

Dan mungkin, di era sekarang, siapa yang menguasai layar sebenarnya sedang menguasai cara masyarakat berpikir.