Sekar Anindyah Lamase | Gita Fetty Utami
We Are All Trying Here (Instagram/JTBC)
Gita Fetty Utami

Drama Korea We Are All Trying Here yang tayang di Netflix sejak 18 April 2026 lalu, terasa menarik bagi saya bukan karena konflik dalam industri perfilman. Melainkan karena keberaniannya membicarakan rasa gagal yang sering diam-diam dipendam orang dewasa.

Drama produksi JTBC Korea Selatan ini seperti sedang mengatakan bahwa, semakin bertambah usia seseorang, semakin sulit pula ia mengakui bahwa dirinya sebenarnya lelah, cemas, dan takut tertinggal.

Tokoh yang paling membuat saya memikirkan isu kesehatan mental di usia 40-an adalah Hwang Dong-man. Karakter yang diperankan secara matang oleh aktor Koo Kyo-hwan, adalah seorang (calon) sutradara film. Ia terlambat debut selama dua puluh tahun dibandingkan teman-teman kuliahnya.

Ketika teman-temannya sudah punya nama, dan masuk dalam jaringan industri, Dong-man justru masih di luar pintu. Padahal ia memiliki bakat bercerita, serta mencintai film. Situasi itu membuatnya tampak seperti orang yang terus mengejar kereta yang sudah melaju jauh.

Menurut saya, drama ini cukup realistis menggambarkan bagaimana rasa tertinggal bisa berubah menjadi gangguan kecemasan pada usia dewasa. Kecemasan Dong-man tidak muncul dalam bentuk menangis atau mengurung diri. Ia justru menutupinya dengan kebiasaan mengoceh tanpa henti, mengkritik karya sutradara lain, bahkan meremehkan film teman-temannya sendiri. Ia seperti selalu ingin membuktikan bahwa dirinya lebih paham film daripada orang lain.

Kebiasaannya ini membuat Park Gyeong-se, diperankan oleh Oh Jung-se, yang dulu akrab dengan Dong-man berbalik membencinya. Sebab Dong-man paling getol melontarkan komentar sarkas atas karya-karya Gyeong-se. Hanya Lee Jun-hwan, diperankan oleh Sim Hee Seop, yang masih menjadi pendengar setia ocehan Dong-man. 

Saya merasa karakter Dong-man mewakili banyak orang usia 40-an yang diam-diam mengalami krisis harga diri. Di usia itu, masyarakat sering menganggap seseorang seharusnya sudah “jadi”. Sudah mapan, sudah sukses, sudah stabil secara emosi. Akibatnya, ketika ada orang yang belum mencapai titik tersebut, ia merasa malu untuk mengakuinya.

Akhirnya kecemasan muncul dalam bentuk yang tidak disadari: mudah marah, terlalu defensif, sinis, atau gemar merendahkan pencapaian orang lain. Ia menjadi pribadi yang melelahkan untuk diajak bekerja sama. Dalam dunia kerja kreatif, kemampuan teknis memang penting, tetapi kesehatan mental dan kemampuan mengelola emosi juga menentukan apakah seseorang bisa bertahan atau tidak.

Selain Dong-man, saya juga tertarik pada karakter Byeon Eun-a (diperankan oleh Go Youn-jung), seorang produser yang bekerja di studio Choi Film. Berbeda dengan Dong-man yang meluapkan kecemasannya keluar, Eun-a justru menekan semuanya ke dalam dirinya sendiri. Ia terbiasa diam ketika dikritik, menahan marah, menahan kecewa, dan sambil terus bersikap profesional. 

Ia memilih diam karena mungkin merasa itulah cara paling aman untuk bertahan di lingkungan kerja. Dari luar Eun-a terlihat tenang. Namun setiap kali ia mengalami tekanan emosional maka ia akan mimisan.

Bukankah ini sering kita jumpai dalam kehidupan nyata? Ketika standar kedewasaan ditandai dengan kemampuan menahan emosi, maka sebenarnya kesehatan mental tengah dipertaruhkan. 

Karakter Eun-a mengingatkan saya bahwa tidak semua orang yang mengalami gangguan mental terlihat “bermasalah”. Ada orang-orang yang tetap bekerja tepat waktu, tetap sopan, tetap tersenyum, tetapi diam-diam sangat lelah secara psikologis.

Seiring perkembangan cerita, kita akan tahu alasan di balik kebawelan Dong-man, dan mimisan berulang yang dialami Eun-a. Ternyata masalah psikologis mereka tidak tercipta secara instan. Melainkan buah dari luka-luka batin di masa lalu, yang tidak terselesaikan dengan baik.  

Karakter-karakter lain yang hadir dalam drama ini pun bukan sekadar karakter pelengkap. Mereka punya latar masing-masing, yang membentuk sikap mereka sekarang. Ada Hwang Jin-man, kakak Dong-man yang berjuang melawan depresi akibat kehilangan putrinya.

Ko Hye-jin, istri Park Gyeong-se, yang menjadi tokoh paling obyektif, dan tegas dalam melihat masalah. Lalu Jang Mi-ran, aktris cantk yang hidup di bawah bayang nama besar ibu tirinya Oh Jeung-hui. 

Hal yang paling saya sukai dari We Are All Trying Here adalah pesannya yang sederhana: semua orang sebenarnya sedang berusaha bertahan dengan caranya masing-masing. Ada yang terlihat keras, ada yang terlihat tenang, tetapi keduanya bisa sama-sama rapuh.

Drama ini juga terasa relevan dengan kondisi sekarang, ketika banyak orang dewasa mengalami krisis akibat perbandingan sosial. Media sosial membuat orang mudah merasa tertinggal. Melihat teman sukses, menikah, punya karier stabil, atau terkenal sering membuat seseorang mempertanyakan hidupnya sendiri. Padahal setiap orang punya waktu dan perjuangan yang berbeda.

Menurut saya, drama ini tidak sedang mengajarkan bahwa semua orang pasti bisa sukses. Justru yang terasa penting adalah bagaimana seseorang belajar berdamai dengan ketidaksempurnaan hidupnya sendiri. Setelah itu, tetap menjalani hidup sambil terus berusaha. Walaupun hati penuh kecemasan, dan dunia terasa berjalan lebih cepat dari diri kita. 

Saya sungguh tak sabar menunggu dua episode terakhir drama ini, yang dijadwalkan tamat pada tanggal 24 Mei 2026 mendatang. Ayo, Dong-man, Eun-a!

Judul : We Are All Trying Here

Episode : 12

Platform : JTBC/Netflix

Genre : Slice of life, drama psikologis, melodrama

Cast : Koo Kyo-Hwan, Go Youn-Jung, Oh Jung-Se, Choi Won-Young, Park Hae Joon, Han Sun-Hwa