Hayuning Ratri Hapsari | Tika Maya Sari
Ilustrasi rumah gelap (Unsplash/Quenten Janssen)
Tika Maya Sari

Gimana jadinya kalau momen berbelanja kebutuhan rumah malah dapat bonus cerita seram? Hal ini dialami oleh ibuku sewaktu berbelanja keperluan dapur seperti sembako dan dunia persabunan di toko kelontong Mak Rum. Satu cerita yang membikin gempar, lantaran melibatkan penampakan pocong di teras rumah Mas Dandi.

Begini kisahnya.

“Gus, betulan berani pulang?” tanya Lutfi.

Agus mengacungkan jempol. “Harus segera pulang. Masih ada PR yang harus kukerjakan. Besok juga mengantar Emak kulakan ke pasar.”

“Tapi, Gus…”

Lutfi terdiam. Mereka berdua sedang berada di pos kampling barat dusun, dimana Pakde Walji dan para bapak-bapak sedang menonton pertandingan bola. Beberapa anak muda juga masih asyik bermain karambol.

“Gus, kamu nggak takut kalau lewat depan rumahnya Mas Dandi?” tanya Lutfi sembari berbisik. “Konon, tanah itu wingit dan banyak penampakannya.”

Agus mengibaskan sebelah tangan. “Masa iya? Tapi tiap sebelum subuh aku mengantar Emak ke pasar induk dan lewat situ, aman-aman saja.”

Lutfi menengok ke kanan dan ke kiri sebelum kembali berbisik. “Kata Lek War, tanah Mas Dandi itu ada pocongnya.”

Agus menggeleng, kemudian segera mengambil sandal jepitnya. “Masalahnya, hanya ada satu jalan buat pulang. Ya harus tetap melewati rumah Mas Dandi.”

“Apa minta bapak-bapak ini menemani?”

“Ngawur! Apa kata mereka nanti? Kita ini sudah kelas 2 SMP, mana anak laki-laki juga.”

“Tapi, Gus…”

Agus mengabaikan Lutfi sebelum mulai berjalan. Jarak pos kampling barat dengan rumahnya hanya sekitar 600 meteran. Jarak yang lumayan dekat, apalagi berada di satu jalur lurus. Dari sini pun, tembok gawang masuk ke rumah Agus kelihatan jelas.

Namun, begitu mendapat beberapa puluh meter, Agus tiba-tiba merasa tidak nyaman. Malam ini rasanya dingin dan sepi sekali meski masih jam sepuluh malam. Sarung yang dia ikat di perut pun, dia jadikan jaket dadakan.

“Tumben jam segini Pakde Roni nggak berkeliling? Biasanya masih mangkal di pos timur?” gumam Agus.

Pakde Roni adalah penjual bakso keliling yang sering mangkal di pos timur dusun. Barulah mangkal ke pos barat dusun, atau kadang jadwalnya dibalik. Terserah beliau saja. Namun, malam ini Pakde Roni tidak terlihat.

Saat melihat bangunan gereja sudah dekat, Agus merasa jantungnya malah bertalu-talu. Mungkin karena dia kepikiran perkataan Lutfi tadi. Mengenai sosok entahlah yang mendiami rumah Mas Dandi. Nah, masalahnya, rumah Mas Dandi berada di utara jalan dan berhadapan langsung dengan bangunan gereja.

“Absurd lah si Lutfi, bikin orang ketakutan saja.”

Agus mencoba tenang. Dia mengamati bangunan gereja yang memiliki sentuhan Eropa, berhiaskan lampu-lampu cantik. Bangunan itu sejatinya adalah bagian depan dari rumah seorang pendeta bernama Bapak Derian. 

Sebenarnya, Agus mengamati bangunan gereja supaya dia tidak perlu menoleh ke arah rumah Mas Dandi. Sebab nyalinya menciut dengan tiba-tiba, dan rasa takut mukai menggerayangi.

“Ah, sialan! Ngapain malah lihat rumah Mas Dandi sih?!” gumamnya kesal saat kedua matanya tidak mau diajak kerja sama. “Bagaimana kalau omongan Lutfi benar?”

Agus mencoba tenang, dan mengingatkan dirinya bahwa dia kerap pergi mengantarkan Emak ke pasar induk bahkan sebelum subuh. Melewati jalan ini, dan selalu aman-aman saja. Tanpa penampakan atau gangguan sama sekali.

Namun, malam ini sepertinya apes untuk Agus.

Kala dia mengalihkan pandangan dari bangunan gereja ke rumah bergaya joglo lama milik Mas Dandi, napasnya tercekat. Tubuh Agus membeku di tempat. Kedua matanya bersibobrok dengan sesosok yang terbungkus kain putih bersih, dengan bagian atas kainnya nyeprok (mengembang). Sosok itu tampak tergantung di teras rumah Mas Dandi.

Bukan, itu bukan karung beras, atau sekedar kain semata. Wujudnya seukuran orang dewasa, dan berdiam tanpa gerakan. Hingga angin sepoi berhembus menggetarkan Agus, menyadarkannya bahwa ucapan Lutfi mungkin bukan sekadar bualan.

Sosok itu mulai bergoyang tertiup angin. Mirip seperti kepompong yang bergerak, kemudian mulai bergerak memutar. Dibarengi dengan aroma wewangian menyengat, mirip aroma kembang-kembang.

Entah kekuatan darimana, Agus berhasil menyadarkan diri bahwa ini situasi berbahaya. Dia langsung lari tunggang langgang, meninggalkan entah apalah itu. Tiga ratusan meter kemudian, dia segera menggedor pintu rumahnya, tanpa bisa bersuara. Masih ada ketakutan yang menggerayangi.

“Opo sih, Gus? Kamu keluyuran darimana juga?!” oceh Emak yang tampak terkantuk-kantuk.

“Po–pocong…Mak…” kata Agus terbata.

Mata Emak melotot lebar. Dia segera menarik tangan Agus masuk dan menutup pintu. “Apa katamu tadi? Kamu lihat pocong?”

Agus mengangguk.

“Dimana?”

“Ru-rumah…rumah Mas Dan..dandi…”

Diluar prediksi, Emak malah mengangguk-angguk. Ekspresinya lebih mirip orang lega dibandingkan ngeri. Malam itu, Agus tidur dan minta ditemani oleh Emak.

“Jadi, rumah itu betulan berhantu ya, Mak Rum?” tanya Mak Sih.

Mak Rum mengangguk sambil menimbang beras. “Katanya sih begitu, Bu. Anak saya semalam malah ketemu sosoknya.”

“Tapi, tanah peninggalan Mbah Maripan itu kan memang sudah terkenal angkernya dari dulu,” imbuh Mak Nar. “Tanah yang sekarang melingkupi rumah Dandi, rumah Pak Raka, sawah milik Pak Rasyid, sampai rumah Lek Jan itu.”

Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apakah benar kisah demikian, sebab aku sendiri belum pernah melihat sosok itu. Kalau bisa jangan sampailah. Namun, aura rumah Mas Dandi memang sedikit aneh. Entah karena lampu teras rumahnya selalu dimatikan setiap malam, atau memang karena ada alasan lain.