Awalnya saya hanya ingin membuka media sosial selama lima menit. Namun tanpa sadar, satu jam berlalu begitu saja dan kepala saya terasa penuh.
Kalimat ini kerap familiar bagi banyak orang, termasuk bagi saya. Di tengah kehidupan yang serba digital, kebiasaan menggulir layar tanpa henti sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Bangun tidur membuka ponsel, sebelum tidur kembali menatap layar, bahkan saat makan atau bekerja, tangan rasanya refleks membuka media sosial. Ironisnya, semakin sering saya mengonsumsi informasi, semakin sulit pula saya mempertahankan fokus.
Fenomena ini semakin sering terjadi pada generasi sekarang. Media sosial dipenuhi berita buruk, drama, konflik, hingga video singkat yang terus memancing rasa penasaran. Kita seperti dipaksa terus terhubung dengan arus informasi tanpa jeda.
Akibatnya, otak menjadi lelah, cemas, dan sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Saya mulai menyadari bahwa kemampuan fokus saya tidak lagi seperti dulu. Membaca beberapa halaman buku saja terasa berat karena pikiran terus ingin memeriksa notifikasi.
Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah doomscrolling. Doomscrolling adalah perilaku terus-menerus menggulir media sosial atau membaca berita negatif secara berlebihan, meskipun hal itu membuat seseorang merasa stres atau kelelahan mental.
Aktivitas ini biasanya terjadi karena rasa penasaran, takut tertinggal informasi, atau dorongan untuk terus mencari update terbaru. Tanpa disadari, doomscrolling membuat otak terus menerima stimulasi cepat yang akhirnya mengubah cara kita memproses perhatian.
Bahkan, beberapa penelitian populer menyebutkan bahwa rentang fokus manusia saat ini hanya sekitar delapan detik, lebih pendek dibandingkan ikan mas yang disebut mampu mempertahankan perhatian selama sembilan detik.
Terlepas dari perdebatan mengenai angka pastinya, kenyataannya saya memang merasa semakin sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Video pendek berdurasi 30 detik kini terasa lebih menarik dibanding membaca artikel panjang atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan fokus mendalam.
Otak Saya Terbiasa dengan Distraksi Cepat
Saya mulai sadar bahwa media sosial membuat otak saya terbiasa menerima hiburan instan. Dalam beberapa menit, saya bisa melihat puluhan video dengan topik yang berbeda-beda. Otak dipaksa berpindah fokus secara cepat tanpa kesempatan untuk benar-benar mencerna informasi.
Lama-kelamaan, saya menjadi sulit menikmati aktivitas yang membutuhkan kesabaran seperti membaca buku, menulis, atau belajar.
Tidak hanya itu, saya juga merasa lebih mudah bosan. Ketika suatu hal tidak memberikan stimulasi cepat, perhatian saya langsung teralihkan ke ponsel. Bahkan saat menonton film atau berbicara dengan orang lain, saya sering terdorong untuk membuka media sosial.
Doomscrolling perlahan membuat kemampuan fokus mendalam semakin menurun karena otak terus dilatih untuk mencari distraksi baru.
Informasi Berlebihan Membuat Mental Saya Lelah
Setiap hari, media sosial dipenuhi berita buruk, konflik, dan opini yang saling bertabrakan. Tanpa sadar, saya mengonsumsi semua itu secara terus-menerus. Awalnya saya merasa hanya ingin mengetahui perkembangan terbaru, tetapi semakin lama justru membuat pikiran terasa sesak. Saya menjadi lebih mudah cemas dan sulit merasa tenang.
Terlalu banyak informasi juga membuat saya kesulitan memilah mana yang benar-benar penting. Otak seperti tidak diberi waktu untuk beristirahat karena terus menerima rangsangan baru.
Akibatnya, produktivitas menurun dan energi mental cepat habis. Saya mulai memahami bahwa bukan hanya tubuh yang membutuhkan istirahat, tetapi juga pikiran yang setiap hari dibanjiri informasi tanpa henti.
Fokus Menjadi Kemewahan di Era Digital
Di era sekarang, mempertahankan fokus jadi sebuah tantangan besar. Lingkungan digital dirancang untuk membuat kita terus bertahan di depan layar selama mungkin. Notifikasi, video pendek, dan algoritma media sosial membuat perhatian manusia mudah terpecah.
Padahal, fokus merupakan kemampuan penting dalam kehidupan sehari-hari. Ketika fokus menurun, kualitas belajar, bekerja, bahkan hubungan sosial juga ikut terdampak. Saya mulai mencoba membatasi waktu bermain media sosial dan memberi jeda pada diri sendiri dari banjir informasi digital.
Meskipun tidak mudah, saya sadar bahwa menjaga fokus kini menjadi bentuk perhatian terhadap kesehatan mental saya sendiri.
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan. Kebiasaan ini perlahan memengaruhi cara saya berpikir, berkonsentrasi, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, saya mulai menyadari bahwa kemampuan untuk berhenti sejenak dan benar-benar fokus adalah hal yang semakin berharga.
Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya lepas dari media sosial, tetapi setidaknya kita bisa belajar mengendalikan cara menggunakannya agar perhatian dan kesehatan mental tidak ikut hilang bersama derasnya arus informasi.
Baca Juga
-
Upaya Saya Merebut Kembali Makna Membaca di Tengah Gempuran Distraksi
-
Wisuda Tinggal Menghitung Hari, Tapi Kenapa Saya Malah Merasa Takut?
-
Melongok ke Dalam Gelapnya Depresi Lewat No Longer Human karya Osamu Dazai
-
Novel The Devotion of Suspect X: Sebuah Upeti untuk Logika yang Salah Jalan
-
Pink Tax Adalah Bentuk Diskriminasi yang Dijual Lewat Produk Perempuan
Artikel Terkait
-
Kedaulatan di Ujung Algoritma: Alasan Saya Stop Mengikuti Rekomendasi FYP
-
Saat Algoritma Lebih Berkuasa, The Devil Wears Prada 2 Terasa Lebih Relevan
-
Wellness atau Flexing? Jangan-Jangan Kamu Bayar Mahal Cuma Demi Algoritma Tanpa Ada Hasilnya
-
Saya Masih Suka Membaca, Algoritmanya Saja yang Tidak Mengizinkan
-
Menggugat Algoritma, Prof Harris Arthur: Hukum Harus Lampaui Dogmatisme Klasik
Kolom
-
Fast Fashion dan Krisis Sampah: Bisakah Perempuan Jadi Agen Perubahan?
-
Aku Cinta Rupiah: Ketika Lagu Masa Kecil Bertemu Realitas Ekonomi Hari Ini
-
Fenomena Zero Post di Media Sosial, saat Generasi Z Memilih Sunyi
-
Menakar Kebijakan Ekspor SDA: Mandiri atau Cuma Jadi Sapi Perah?
-
Belanja Atas Nama Healing: Self-Reward yang Diam-diam Menguras Finansial
Terkini
-
Ulasan Together: Film Horor yang Berani Menantang Batas Keintiman Manusia!
-
Romantis Abis, ZeroBaseOne Ungkap Pemujaan Mendalam di Lagu Terbaru 'Top 5'
-
Sutradara: Jinu di 'KPop Demon Hunters' Terinspirasi Karakter Song Joong Ki
-
Kritik Ekologi dalam Fabel Camar dan Kucing Karya Luis Seplveda
-
Toy Story 5: Saat Woody dan Buzz Lightyear Harus 'Melawan' Ancaman Gadget di Tangan Anak Modern