Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Sunshine Women's Choir (IMDb)
Ryan Farizzal

Sunshine Women's Choir (bahasa Mandarin: Yangguang Nüzi Hechang Tuan) merupakan film drama musikal Taiwan yang disutradarai oleh Gavin Lin (Lin Xiaoqian) dan dirilis pada 31 Desember 2025 di Taiwan. Film ini menjadi salah satu fenomena box office terbesar di negeri tersebut, bahkan dinobatkan sebagai film lokal Taiwan dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa, melampaui rekor sebelumnya seperti Cape No. 7.

Sebagai remake dari film Korea Selatan Harmony (2010), film ini mengadaptasi elemen cerita dengan sentuhan lokal Taiwan yang kuat, menggabungkan tema penebusan, persahabatan, dan kekuatan musik di tengah latar penjara wanita.

Di Indonesia, Sunshine Women's Choir tayang perdana di bioskop mulai 20 Mei 2026. Kehadirannya sangat dinantikan setelah kesuksesan besar di Taiwan dan penayangan di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Film berdurasi sekitar 134 menit ini dibintangi oleh Ivy Chen (Chen Yi-han) sebagai Li Hui-zhen, Judy Ongg (Weng Qian-yu) sebagai Yang Yu-ying, Ho Man-xi sebagai Liu You-xin, serta aktor pendukung seperti Sun Shu-mei, Amber An (An Xin-ya), dan Miao Ke-li.

Harmoni Harapan di Tengah Penjara Wanita

Tangkapan layar adegan di film Sunshine Women's Choir (IMDb)

Cerita berawal di sebuah penjara wanita ketika Li Hui-zhen melahirkan seorang bayi perempuan bernama Yun-shi di tengah nyanyian lagu ulang tahun dari rekan-rekan selnya. Hui-zhen, yang dipenjara karena membunuh suaminya yang kasar (dalam konteks pembelaan diri), diizinkan merawat anaknya hingga usia tiga tahun.

Ia berbagi sel dengan tiga narapidana lain: Huang Pei-ying (penipu ceria), Qiu Xiu-lan (yang temperamental), dan Yang Yu-ying (mantan penyanyi terkenal yang bijaksana, diperankan Judy Ongg). Kehidupan mereka yang penuh luka masa lalu berubah ketika seorang narapidana baru yang pemberontak, Liu You-xin, bergabung dan menciptakan konflik awal.

Ketika Yun-shi didiagnosis mengidap penyakit mata degeneratif yang memerlukan pengobatan di luar penjara, Hui-zhen menghadapi pilihan sulit: melepaskan anaknya untuk adopsi agar ia bisa mendapatkan pengobatan. Terinspirasi oleh kecintaan Yun-shi pada musik, Hui-zhen berinisiatif membentuk paduan suara penjara untuk memberikan kenangan indah terakhir bagi putrinya sebelum perpisahan.

Proses pembentukan paduan suara ini penuh tantangan—mulai dari konflik internal, sikap skeptis petugas penjara, hingga latihan yang penuh emosi—namun akhirnya menyatukan para narapidana dalam ikatan persahabatan yang mendalam. Film ini mengeksplorasi tema kehangatan keluarga yang terbentuk, pengampunan, dan harapan di tengah keterbatasan.

Ulasan Film Sunshine Women's Choir

Tangkapan layar adegan di film Sunshine Women's Choir (IMDb)

Gavin Lin berhasil menyajikan keseimbangan antara drama emosional dan adegan musikal yang menggembirakan. Adegan paduan suara tidak hanya teknis memukau tetapi juga sarat makna, mengubah ruang penjara yang sempit menjadi panggung ekspresi emosi. Musik, termasuk lagu-lagu pop Taiwan yang dikenal, menjadi medium penebusan bagi para karakter.

Performa akting ensemble sangat kuat; Ivy Chen menyampaikan pengorbanan seorang ibu dengan nuansa halus, sementara Judy Ongg memberikan kedalaman emosional pada karakter nenek bijak yang menyimpan rahasia tragis. Kalau kritik dariku pada idealisasi sistem penjaranya dan beberapa trope klise, film ini unggul dalam menyentuh hati penonton melalui optimisme dan kehangatan.

Salah satu adegan paling menyedihkan adalah momen ketika Hui-zhen harus melepas Yun-shi untuk adopsi. Adegan perpisahan ini dirancang dengan penuh kelembutan tapi menghancurkan: seorang ibu yang rela mengorbankan waktu bersama anaknya demi masa depan yang lebih baik, dikelilingi teman-teman sel yang telah menjadi keluarga.

Ekspresi wajah Hui-zhen yang menahan air mata sambil berusaha tersenyum untuk anaknya menciptakan rasa pilu yang mendalam. Adegan ini diperkuat oleh latar musik yang lembut, membuatku merasakan beratnya pengorbanan seorang ibu di balik jeruji besi. Banyak penonton di bioskop mengeluarkan tisu berulang kali di bagian ini, karena menyentuh naluri keibuan yang universal.

 Adegan paling berkesan dan kuingat setelah nonton film ini adalah penampilan akhir paduan suara Sunshine Women's Choir di hadapan publik. Para narapidana, yang dulunya penuh luka dan konflik, bernyanyi dengan penuh semangat dan harmoni, menyampaikan pesan harapan dan cinta.

Momen ini bukan hanya klimaks musikal, tetapi juga simbol transformasi: dari individu terisolasi menjadi komunitas yang saling mendukung. Aku dan penonton yang lain jadi ikut terbawa emosi hingga menangis bahagia, terutama ketika elemen plot flash-forward mengungkap dampak jangka panjang dari hadiah musik tersebut. Adegan ini meninggalkan kesan kuat tentang kekuatan seni dalam menyembuhkan luka dan menciptakan kenangan abadi.

Secara keseluruhan, Sunshine Women's Choir adalah film yang emosional dan inspiratif. Meskipun mengandung elemen manipulatif emosional khas genre weepie, ia berhasil menyampaikan pesan positif tentang harapan dan persatuan.

Sangat aku rekomendasikan untuk kamu yang menyukai drama keluarga, musik, dan cerita penebusan. Bawa tisu ekstra saat menonton ya guys, karena film ini siap menyentuh relung hati terdalammu. Dengan tayangan di Indonesia pada 20 Mei 2026, jangan lewatkan kesempatan menyaksikan salah satu film Taiwan paling fenomenal akhir-akhir ini. Selamat menonton!