Sekar Anindyah Lamase | Ardina Praf
Novel Untuk Nama Yang Tak Berani Kusebut Dalam Doa (gramedia.com)
Ardina Praf

Novel Untuk Nama Yang Tak Berani Kusebut Dalam Doa karya Untuk Nama Yang Tak Berani Kusebut Dalam Doa merupakan buku monolog bernuansa islami yang berbicara tentang cinta, doa, dan keikhlasan.

Buku ini bukan novel dengan alur rumit atau konflik besar seperti kebanyakan cerita romance pada umumnya.

Sebaliknya, buku ini hadir seperti diary hati seseorang yang sedang belajar mencintai dengan cara paling diam: menyebutnya dalam doa tanpa berani mengungkapkan nama.

Buku ini berisi kumpulan monolog, renungan, dan potongan perasaan seorang perempuan yang jatuh cinta kepada seseorang yang dianggap baik agamanya.

Namun, alih-alih mengejar atau mengungkapkan rasa secara langsung, ia memilih menyimpan semuanya dalam doa.

Setiap malam, ia mengetuk “pintu langit”, berharap Allah menjaga perasaannya dan menentukan takdir terbaik untuk cintanya. Dari sinopsisnya saja, pembaca sudah bisa merasakan suasana melankolis yang lembut dan penuh penyerahan diri kepada Tuhan.

Hal paling menonjol dari buku ini adalah gaya penulisannya yang sederhana tetapi menyentuh. Temporarery tidak memakai bahasa yang terlalu berat atau puitis berlebihan.

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat isi buku terasa dekat dengan kehidupan banyak orang, terutama mereka yang pernah memendam rasa diam-diam.

Banyak kalimat pendek dalam buku ini yang terasa seperti suara hati pembaca sendiri. Tidak heran jika buku ini cocok dibaca perlahan sambil merenung.

Karena berbentuk monolog, buku ini tidak memiliki alur cerita yang jelas seperti novel pada umumnya. Tidak ada dialog panjang antar tokoh ataupun perkembangan konflik yang kompleks.

Isi buku lebih berupa curahan hati yang mengalir dari satu perasaan ke perasaan lain. Bagi sebagian pembaca, format seperti ini terasa menenangkan dan relatable. Namun bagi yang menyukai cerita dengan plot kuat dan banyak kejutan, buku ini mungkin terasa monoton.

Kelebihan lain dari buku ini terletak pada nuansa religiusnya yang lembut. Penulis tidak menggurui pembaca tentang agama, melainkan menunjukkan bagaimana seseorang berusaha menjaga cintanya agar tetap berada di jalan yang baik.

Buku ini mengingatkan bahwa jatuh cinta bukanlah kesalahan, tetapi cara kita menyikapi cinta itulah yang menentukan apakah perasaan itu membawa kebaikan atau justru luka.

Pesan seperti ini terasa hangat dan menenangkan, terutama untuk pembaca remaja dan dewasa muda yang sedang belajar memahami perasaan mereka sendiri.

Selain itu, setiap bagian monolog diselingi kutipan-kutipan singkat yang mudah diingat.

Banyak kutipan dalam buku ini yang cocok dijadikan caption media sosial atau bahan refleksi diri. Inilah yang membuat buku ini terasa ringan dibaca, tetapi tetap meninggalkan kesan mendalam setelah selesai.

Walaupun begitu, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Karena formatnya berupa monolog, beberapa isi terasa repetitif dengan tema yang berputar pada rindu, doa, dan keikhlasan.

Pembaca yang tidak terlalu menyukai buku reflektif mungkin akan merasa isi buku terlalu sendu atau kurang variatif. Selain itu, tidak adanya konflik besar membuat tensi cerita cenderung datar dari awal hingga akhir.

Meski demikian, Untuk Nama Yang Tak Berani Kusebut Dalam Doa tetap menjadi bacaan yang cocok untuk menemani waktu-waktu tenang, terutama saat malam hari atau ketika sedang ingin menenangkan hati.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh remaja hingga dewasa muda yang menyukai bacaan islami, reflektif, dan penuh perasaan. Pembaca yang pernah memendam cinta dalam diam kemungkinan besar akan merasa sangat dekat dengan isi buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini bukan hanya tentang cinta kepada seseorang, tetapi juga tentang belajar ikhlas dan percaya kepada ketentuan Tuhan.

Temporarery berhasil menyampaikan bahawa cinta tidak selalu harus dimiliki, dan terkadang bentuk cinta terbaik adalah mendoakan dalam diam lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Buku ini sederhana, lembut, dan mampu menjadi teman bagi hati yang sedang belajar menerima perasaan dengan lebih dewasa.