Ada masa dalam hidup ketika seseorang sudah berusaha sekuat tenaga, berdoa tanpa henti, tetapi hasil akhirnya tetap tidak sesuai harapan. Pada titik itulah manusia sering bertanya, “Mengapa aku diuji seperti ini?”
Buku Redha: Memaknai Rasa Berserah Kepada Tuhan Tatkala Takdir Di Luar Kawalan karya Irfhan Fitri hadir seperti teman yang menemani pembaca memahami bahwa menerima takdir bukan berarti tidak merasa sedih.
Buku ini membahas tentang makna rida dengan pendekatan yang lembut dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Irfhan Fitri tidak menulis dengan gaya menggurui, tetapi seperti seseorang yang sedang berbicara dari hati ke hati. Melalui kisah, refleksi, serta petikan nilai-nilai Islam, pembaca diajak memahami bahwa menangis, kecewa, dan merasa hancur bukan tanda lemahnya iman. Justru emosi itu adalah bagian daripada menjadi manusia.
Sinopsis: Ketika Rida Bukan Sekadar Pasrah
Sinopsis buku ini sebenarnya sangat sederhana tetapi mengena. Penulis membahas bagaimana manusia sering percaya bahwa setiap ujian pasti memiliki hikmah. Namun ketika musibah benar-benar datang, hati tetap terasa remuk. Kita tetap bertanya mengapa hidup terasa begitu berat.
Dari sinilah buku ini mengajak pembaca memaknai rida secara lebih mendalam, bukan sekadar pasrah, tetapi belajar menerima ketentuan Tuhan sambil tetap memproses rasa sedih dalam diri.
Salah satu kekuatan terbesar buku ini terletak pada gaya bahasanya. Penulis menggunakan bahasa Melayu yang ringan, hangat, dan mudah dipahami. Walaupun tema yang diangkat cukup berat, pembaca tidak akan merasa seperti sedang membaca buku agama yang kaku. Sebaliknya, buku ini terasa seperti jurnal refleksi yang menenangkan. Banyak kalimat yang sederhana tetapi mampu menusuk hati dan membuat pembaca berhenti sejenak untuk merenung.
Selain itu, isi bukunya juga terasa relevan untuk banyak orang, terutama mereka yang sedang berada di fase kehilangan, kecewa, gagal, atau merasa hidupnya tidak berjalan sesuai rencana. Buku ini tidak memaksa pembaca untuk langsung “ikhlas” atau “kuat”. Penulis justru menekankan bahwa rida adalah proses panjang. Ada luka yang memang perlu waktu untuk sembuh.
Jangkar Islami dan Penyembuh Overthinking
Menariknya lagi, Irfhan Fitri menyisipkan kisah-kisah dan pedoman Islami yang membuat isi buku terasa lebih menyentuh. Salah satu bagian paling membekas ialah kutipan tentang Rasulullah SAW yang tetap menangis ketika kehilangan putranya, Ibrahim. Dari sini pembaca diajak memahami bahwa kesedihan bukanlah dosa. Yang penting adalah bagaimana manusia tetap menjaga perkataan dan keyakinannya kepada Tuhan.
Dari segi penyusunan, buku ini juga nyaman dibaca. Isi halamannya tidak terlalu padat sehingga pembaca tidak mudah lelah. Beberapa bagian terasa seperti potongan refleksi pendek yang dapat dibaca perlahan-lahan. Buku ini cocok dibaca ketika malam hari, saat sedang sendiri, atau ketika hati sedang tidak baik-baik saja.
Walaupun begitu, buku ini tetap memiliki sedikit kekurangan. Bagi pembaca yang menyukai pembahasan mendalam dan lebih ilmiah, isi buku mungkin terasa terlalu ringan. Beberapa pembahasan juga cenderung repetitif karena tema utamanya memang berputar pada penerimaan takdir dan proses berdamai dengan keadaan. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat buku ini terasa dekat dan mudah dinikmati banyak kalangan.
Buku ini sangat cocok dibaca oleh remaja hingga dewasa muda yang sedang belajar menerima hidup. Terutama untuk mereka yang sering overthinking, kecewa dengan masa lalu, atau merasa hidupnya tidak seindah orang lain. Isi buku mampu memberikan rasa tenang tanpa terkesan memaksa pembaca menjadi kuat secara instan.
Secara keseluruhan, Redha: Memaknai Rasa Berserah Kepada Tuhan Tatkala Takdir Di Luar Kawalan adalah buku reflektif yang hangat dan menenangkan. Buku ini mengingatkan bahwa menjadi rida bukan berarti tidak pernah menangis, tetapi belajar tetap percaya kepada Tuhan walaupun hidup tidak berjalan sesuai keinginan. Bacaan yang sederhana, tetapi mampu meninggalkan rasa yang lama di hati pembaca.
Baca Juga
-
Bad Days Aren't Forever, Pelukan Kecil untuk Hari-hari yang Tidak Baik
-
Kisah Pip, Burung Kecil yang Mengajarkan Arti Kepedulian
-
Bukan Sekadar Cerita, Ini Petualangan Search and Find di Kota Tikus
-
Belajar Tidak Menilai Seseorang dari Ekspresinya Lewat Buku Frog Face
-
Ulasan Buku Look! A Bear!: Tentang Persahabatan yang Melampaui Perbedaan
Artikel Terkait
-
Review Buku Milenial Bisa Memimpin: Panduan Jadi Leader di Tengah Perubahan Zaman
-
Membaca Kelakar Madura Buat Gus Dur: Sebuah Buku Tentang Indonesia yang Menggelitik
-
Membaca Mata yang Enak Dipandang: Cermin Retak Masyarakat Kita yang Masih Sangat Relevan
-
Novel "Nyala yang Tak Pernah Padam": Saat Luka Tidak Membuatmu Menyerah
-
Membaca Perjalanan Mustahil Samiam: Sebuah Petualangan Mencari Akar yang Mengusik Logika
Ulasan
-
Mengulas Film 'Fall 2: Deadpoint' dan Ketakutan yang Tidak Selesai
-
Review Film Reawakened Man: Kombinasi Fantasi dan Laga yang Sangat Pas!
-
Ulasan Perahu Kertas: Kisah Cinta, Mimpi, dan Perjalanan Menemukan Diri
-
Batavia Awal Abad ke-20: Menyusuri Wajah Jakarta Era Kolonial
-
Menilik Makna Kepemimpinan di Captain America: Brave New World, Sudah Tayang di Disney+!
Terkini
-
Fenomena Information Overload: Terlalu Banyak Informasi, Terlalu Minim Jeda
-
Intip Sinopsis Street Fighter, Tayang 14 Oktober di Bioskop Indonesia
-
Bukan Earbud Biasa, Baseus MC2 NC Bawa ANC dan Baterai 60 Jam
-
Anime Walking Home with You Bagikan Visual Teaser, Tayang April 2027
-
Usia 20-an Bukan Batasan: Kita Boleh Melangkah Lebih Pelan saat Dunia Sibuk Berlari