Dahulu, potret kemiskinan jalanan yang dieksploitasi demi rating televisi pada jam tayang utama (prime time) sering kita sebut sebagai poverty porn. Kita mengutuk acara-acara yang menjual air mata demi iklan korporasi. Namun hari ini, di era ketika setiap orang memegang kendali atas medianya sendiri melalui layar gawai, industri komodifikasi kemiskinan tidak lantas mati; ia justru bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih liar, instan, dan minim sensor melalui fenomena "ngemis online" di live TikTok.
Belakangan ini, media sosial kembali diguncang oleh viralnya perdebatan mengenai akun-akun yang melakukan siaran langsung dengan cara-cara yang merendahkan martabat. Modusnya kian variatif dan manipulatif. Mulai dari aksi mandi lumpur berjam-jam di tengah kedinginan malam, melakukan gerakan ekstrem yang menyiksa fisik secara berulang, hingga sengaja mengeksploitasi lansia atau penyandang disabilitas untuk duduk pasrah di depan kamera.
Semua itu dilakukan demi satu tujuan yang seragam: memelas belas kasihan penonton agar mengirimkan gift atau hadiah digital yang bisa diuangkan. Ini bukan lagi sekadar kreativitas konten, melainkan bentuk pasung digital modern yang mengikis martabat kemanusiaan kita.
Akar dari menjamurnya fenomena ini adalah perkawinan silang antara keputusasaan ekonomi di dunia nyata dan cara kerja algoritma media sosial yang amoral. Platform digital dirancang untuk menahan perhatian pengguna (user retention) selama mungkin. Ketika sebuah konten ekstrem yang mengeksploitasi penderitaan berhasil memancing ribuan mata untuk menonton dan berkomentar—meskipun komentar itu berisi hujatan—algoritma membaca aktivitas tersebut sebagai konten bernilai tinggi dan menyebarkannya ke lebih banyak orang.
Bagi pelaku, ini adalah jalan pintas mengais rupiah. Di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan konvensional, godaan mendapatkan uang instan hanya dengan bermodalkan kuota internet dan rasa malu yang digadaikan menjadi pilihan yang sangat rasional.
Namun, yang paling mengerikan dari ekosistem ini adalah adanya keterlibatan agensi atau "makelar digital" yang beroperasi di balik layar. Banyak kasus mengungkap bahwa orang-orang rentan atau lansia yang tampil di depan kamera sebenarnya hanyalah buruh yang dieksploitasi. Pihak makelar menyediakan peralatan live, tempat, dan akun, lalu memotong keuntungan terbesar dari gift yang didapat. Ini adalah perbudakan gaya baru yang difasilitasi oleh teknologi.
Kita tidak bisa hanya menyalahkan para pelaku atau platform penyedia fitur. Ekosistem poverty porn digital ini tidak akan pernah bertahan lama jika tidak ada pasar yang menghidupinya. Kenyataannya, penonton memiliki andil yang sangat besar dalam melanggengkan lingkaran setan ini.
Mengapa orang-orang masih mengirimkan gift berbayar pada konten eksploitatif tersebut? Ada dorongan psikologis berlapis yang sedang bekerja di sini. Pertama, munculnya ilusi sebagai "pahlawan instan". Banyak penonton yang merasa telah melakukan aksi filantropi atau sedekah saat mengirimkan hadiah digital, tanpa menyadari bahwa jemari mereka sebenarnya sedang menyuap pelaku untuk menyiksa diri lebih lama di depan kamera.
Kedua, dan ini yang paling kelam, adalah pemuasan hasrat hiburan yang sadis. Terkadang ada kepuasan psikologis yang menyimpang di dalam benak manusia saat melihat sesamanya menderita atau merendahkan harga diri demi kepingan uang kecil yang dilemparkan dari balik layar kaca. Memberikan gift pada live eksploitatif seperti ini bukanlah bentuk kepedulian; tindakan tersebut adalah bahan bakar yang memastikan besok pagi akan ada lansia lain yang dipaksa duduk kedinginan demi memenuhi target setoran hadiah digital.
Fenomena ini pada akhirnya menyingkap tabir kemiskinan sistemik yang belum usai di dunia nyata. Ketika ruang publik fisik tidak lagi ramah dalam menyediakan lapangan kerja yang layak, layar gawai menjadi pelarian terakhir yang menjanjikan—sekaligus menjebak. Kita melihat sebuah ironi besar: di satu sisi, teknologi digital diglorifikasi sebagai motor penggerak ekonomi kreatif, namun di sisi lain, ia justru menjadi panggung eksploitasi baru. Kemiskinan tidak lagi disembunyikan dalam gang-gang sempit, melainkan dijajakan secara global demi memenangkan kompetisi algoritma.
Lebih jauh lagi, kita perlu bertanya pada diri sendiri sebagai sebuah masyarakat: sejak kapan rasa empati kita berubah menjadi komoditas barter digital? Keberadaan koin dan hadiah digital yang dengan mudah kita ketuk di layar telah mendistorsi makna solidaritas sosial yang sesungguhnya. Gotong royong yang dahulu berbasis pada kepedulian tulus tanpa pamrih, kini bergeser menjadi sebuah tontonan interaktif yang menuntut penderitaan sesama sebagai syarat utama pencairan dana.
Pihak platform digital harus berhenti bersikap abu-abu demi mengejar trafik visual. Kebijakan komunitas harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Akun-akun yang terindikasi melakukan eksploitasi fisik, anak di bawah umur, dan lansia demi keuntungan komersial harus diblokir secara permanen berdasarkan perangkatnya (device ban), bukan sekadar ditangguhkan sementara.
Selain itu, aparat penegak hukum dan dinas sosial tidak boleh abai dengan dalih "ruang privat digital". Ketika ada indikasi pemaksaan atau eksploitasi terhadap orang tua rentan oleh anggota keluarganya demi konten, hal itu sudah masuk dalam ranah kekerasan domestik dan eksploitasi manusia yang bisa dipidana. Negara harus hadir untuk menyelamatkan martabat warganya yang digadaikan di pasar digital.
Kemiskinan adalah masalah struktural yang berat, namun menyelesaikannya dengan cara menggadaikan rasa kemanusiaan di ruang digital adalah sebuah kemunduran moral yang parah bagi kita sebagai sebuah bangsa.
Sebagai pengguna media sosial yang bijak, langkah paling logis yang bisa kita lakukan hari ini adalah menerapkan digital starvation (membuat kelaparan digital) bagi akun-akun tersebut. Jangan ditonton, jangan dikomentari, dan yang terpenting: jangan pernah beri mereka satu gift pun. Ketuk tombol report atau laporkan akun tersebut segera setelah lewat di beranda Anda.
Sebab pada akhirnya, cara kita memperlakukan orang-orang paling rentan di sekitar kita—baik di trotoar jalanan nyata maupun di ruang live digital—adalah cerminan sejati dari seberapa jauh kualitas kemanusiaan yang masih tersisa di dalam diri kita masing-masing.
Baca Juga
-
Tumbler, Status Sosial Baru, dan Jebakan Elitisme Gaya Hidup Ramah Lingkungan
-
Apa Itu Eggshell Parents? Tipe Orang Tua yang Bikin Anak Hidup dalam Kecemasan Kronis
-
Beban Moral Busana Perempuan Desa: Ketika Kain Memicu Stigma
-
Malaysia Selangkah Lagi Jadi Negara Maju, Indonesia Masih Terjebak di Lantai Dasar
-
Slow Living: Gaya Hidup Berkelanjutan atau Privilege Kelas Atas?
Artikel Terkait
-
50 Nama Username TikTok Aesthetic yang Keren dan Berkelas
-
Sentil Isu Sensitif, Mahfud MD Ingatkan Pesan Prabowo Soal Masa Depan Bangsa
-
Diakui BPS, Ternyata Pemukhtahiran Data Desil Sempat Eror
-
Polemik Desil, Banyak Orang Terlihat Mampu tapi Sebenarnya Terlilit Utang
-
Punya Data Angka Kemiskinan yang Beda Jauh dengan Bank Dunia, Ini Alasan BPS
Kolom
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Begadang demi Pekerjaan: Benarkah Bekerja di Malam Hari Lebih Efektif?
-
Whoosh dan Jeratan Utang: Antara Siasat Penyelamatan dan Bom Waktu Fiskal
-
Pemerintah Rajin Membuat Program, Apakah Hidup Rakyat Makin Membaik?
-
Upah Tertinggal, Hidup Makin Mahal: Benarkah Masalahnya Kemalasan?
Terkini
-
Jelang Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Dijadwalkan Hadapi Tim Peringkat 63 Dunia di Kandang Lawan?
-
Belajar dari The Early Spring: Jangan Meremehkan Orang yang Sedang Berjuang
-
Review The Potato Lab: Kisah Cinta di Balik Laboratorium Kentang
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Bye Pori Tersumbat! 4 Cleanser Volcanic untuk Kulit Mulus Bebas Komedo