Sekar Anindyah Lamase | Ardina Praf
Novel How to Say Goodbye in Cuban (goodreads.com)
Ardina Praf

How to Say Goodbye in Cuban karya Daniel Miyares adalah novel grafis memoar yang mengisahkan Carlos, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang tumbuh di Kuba pada akhir 1950-an.

Cerita ini terinspirasi dari masa kecil ayah Miyares dan menghadirkan pengalaman sebuah keluarga yang harus menghadapi perubahan besar ketika Revolusi Kuba mengguncang kehidupan mereka. 

Dengan menggabungkan narasi sederhana dan ilustrasi cat air yang ekspresif, buku ini menjadi kisah tentang keluarga, kehilangan, ketakutan, kebebasan, dan arti sebuah rumah.

Pada awalnya, kehidupan Carlos terasa sederhana dan penuh kehangatan. Ia tinggal bersama keluarganya di Ceiba Mocha, sebuah kota kecil di pedesaan Kuba. Ia bermain bisbol bersama sahabatnya, Alvaro, dan menghabiskan waktu bersama Abuelo.

Namun, kehidupannya berubah ketika Papi memenangkan lotere dan menggunakan uang tersebut untuk mengembangkan bisnis furnitur sekaligus memindahkan keluarga mereka ke kota.

Bagi orang dewasa, perpindahan itu mungkin terlihat seperti sebuah kesempatan baru. Namun bagi Carlos, pindah rumah berarti meninggalkan tempat yang ia cintai.

Ia harus berpisah dari Abuelo dan Alvaro, beradaptasi dengan sekolah baru, serta menghadapi ejekan karena dianggap sebagai anak desa.

Perasaan tidak nyaman itu semakin kuat ketika situasi politik Kuba mulai berubah dan kehidupan sehari-hari keluarganya perlahan dipenuhi ketidakpastian.

Yang membuat kisah ini terasa kuat adalah cara Daniel Miyares melihat sejarah dari sudut pandang seorang anak. Carlos tidak sepenuhnya memahami politik dan ideologi yang sedang mengubah negaranya.

Ia hanya tahu bahwa orang-orang dewasa mulai takut, keadaan di sekitarnya berubah, dan ayahnya tiba-tiba menghilang.

Ketika ibunya mengatakan bahwa Papi telah pergi ke Amerika dan mereka akan menyusul, Carlos harus menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin harus meninggalkan satu-satunya rumah yang pernah dikenalnya.

Di sinilah How to Say Goodbye in Cuban menjadi lebih dari sekadar cerita tentang Revolusi Kuba. Buku ini juga berbicara tentang kecemasan menghadapi perubahan.

Carlos harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah.

Apakah ia akan bertemu ayahnya lagi? Apakah keluarganya bisa meninggalkan Kuba? Seperti apa kehidupan di tempat baru? Dan bagaimana seseorang mengucapkan selamat tinggal kepada rumah yang masih sangat dicintainya?

Pembaca akan terpesona oleh cara Daniel Miyares menggambarkan cahaya dalam ilustrasinya. Ada banyak keindahan artistik dalam buku ini.

Warna-warna cerah menghadirkan kehangatan masa kecil Carlos, sementara bayangan gelap dan halaman-halaman hitam-putih membantu membangun suasana penuh ketakutan dan ketidakpastian.

Ilustrasinya bukan sekadar pelengkap cerita, tetapi menjadi bagian penting dari cara emosi Carlos disampaikan.

Salah satu aspek yang paling menarik adalah bagaimana kecemasan Carlos divisualisasikan.

Ada gambar-gambar yang terasa seperti perwujudan ketakutan dalam pikirannya, termasuk gambaran mengerikan tentang bahaya yang mungkin dihadapi orang-orang Kuba ketika melarikan diri.

Penggambaran semacam ini membuat pembaca benar-benar masuk ke dalam pikiran seorang anak yang tidak sepenuhnya memahami situasi politik, tetapi sangat memahami rasa takut.

Detail-detail kecil, termasuk ilustrasi tarantula berbulu yang terasa terlalu nyata, memberikan karakter tersendiri pada buku ini.

Miyares memiliki kemampuan untuk membuat sesuatu yang sederhana terasa sangat hidup, baik melalui cahaya, warna, maupun ekspresi tokoh-tokohnya.

Kekuatan terbesar buku ini terletak pada emosinya. Carlos bukan pahlawan besar yang memahami sejarah atau politik. Ia hanyalah seorang anak yang ingin bermain, tinggal bersama orang-orang yang dicintainya, dan merasa aman.

Justru karena itulah kisahnya terasa dekat. Melalui Carlos, pembaca dapat melihat bagaimana gejolak politik besar memengaruhi kehidupan orang biasa, terutama anak-anak dan keluarga.

Namun, pembaca yang mengharapkan novel grafis dengan penjelasan sejarah yang sangat mendalam mungkin merasa konteks politiknya cukup ringkas.

Fokus utama buku ini memang bukan menjelaskan Revolusi Kuba secara akademis, melainkan menunjukkan dampaknya terhadap sebuah keluarga.

Secara keseluruhan, How to Say Goodbye in Cuban adalah novel grafis yang indah, emosional, dan menyentuh. Daniel Miyares berhasil mengubah kisah keluarganya menjadi cerita tentang seorang anak yang tumbuh di tengah perubahan besar.

Buku ini cocok untuk pembaca yang menyukai novel grafis memoar, kisah keluarga, sejarah dari sudut pandang personal, serta cerita coming-of-age yang emosional.

How to Say Goodbye in Cuban mengingatkan kita bahwa di balik peristiwa sejarah besar selalu ada kehidupan manusia biasa, anak-anak yang harus belajar memahami perubahan, keluarga yang terpaksa berpisah, dan orang-orang yang hanya ingin menemukan tempat yang aman untuk hidup.