Buku Sebelum Mengerti Belajarlah Menghormati karya Rusydi Anwar, M.Ag yang terbit pada Juni 2026 ini merupakan buku reflektif yang terasa sangat relevan dengan kondisi sosial hari ini. Kehadirannya terasa hangat sekaligus penting di tengah masyarakat yang perlahan kehilangan kepekaan terhadap adab, tata krama, dan akhlakul karimah.
Buku ini seperti hadir membawa kegelisahan yang selama ini dipendam banyak orang yang bertanya, "Mengapa manusia modern semakin cerdas, tetapi justru semakin mudah merendahkan sesama?"
Patut diapresiasi pula langkah Araska Publisher yang terus konsisten menghadirkan buku-buku bernas dan bermanfaat bagi publik. Di tengah derasnya arus informasi yang sering dangkal dan gaduh, penerbit ini tetap menghadirkan bacaan yang mampu memperkaya wawasan sekaligus memperhalus cara pandang masyarakat terhadap kehidupan.
Kehadiran buku ini menjadi bukti bahwa literasi bukan sekadar soal pengetahuan, tetapi juga tentang membangun karakter dan kemanusiaan.
Sejak halaman awal, Rusydi Anwar menulis dengan nada yang sederhana, tetapi mengandung ketegasan moral yang kuat. Ia tidak menggurui, melainkan mengajak pembaca bercermin pada realitas sehari-hari.
Kita hidup di masa ketika rasa hormat mulai dianggap kuno. Anak muda mudah membentak orang tua, murid kehilangan sopan santun kepada guru, media sosial dipenuhi caci maki, dan banyak orang merasa dirinya paling benar hanya karena memiliki kekayaan, jabatan, atau popularitas.
Melalui buku ini, penulis berusaha mengingatkan kembali bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada kecerdasan semata, melainkan pada akhlaknya. Bahkan, salah satu pesan paling kuat dalam buku ini adalah ungkapan para ulama bahwa “adab di atas ilmu.” Kalimat tersebut menjadi inti dari keseluruhan pembahasan buku.
Secara garis besar, buku ini membahas hubungan antara Khaliq, makhluk, dan akhlak. Penulis menjelaskan bagaimana Islam sangat menekankan pentingnya adab dalam setiap aspek kehidupan. Tidak hanya hubungan dengan manusia, tetapi juga hubungan dengan lingkungan, hewan, tumbuhan, bahkan cara berbicara dan bermedia sosial.
Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah pembahasan mengenai adab terhadap lingkungan. Penulis menghadirkan kisah-kisah penuh hikmah dari para tokoh Islam seperti Sunan Bonang dan Umar bin Khattab. Kisah Sunan Bonang yang menangis karena tanpa sengaja mencabut rumput terasa sederhana, tetapi justru menyimpan pesan spiritual yang mendalam, bahwa manusia harus memiliki rasa hormat kepada seluruh ciptaan Tuhan (halaman 132).
Di tengah krisis lingkungan yang semakin parah saat ini, pembahasan tersebut terasa sangat relevan. Banyak manusia modern berbicara tentang teknologi dan kemajuan, tetapi lupa menjaga alam. Buku ini mengingatkan bahwa akhlak kepada lingkungan bukan sekadar teori agama, melainkan kebutuhan moral untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia sendiri.
Selain itu, buku ini juga menarik ketika membahas bagaimana membangun sikap hormat dalam kehidupan sehari-hari. Lima cara yang dipaparkan penulis terasa praktis dan mudah dipahami. Mulai dari belajar dari pengalaman diri sendiri, menghargai pendapat orang lain, tidak berlebihan menilai diri, hingga berbicara sesuai kapasitas pengetahuan (halaman 144).
Di era media sosial sekarang, poin terakhir terasa sangat menohok. Banyak orang berbicara seolah paling tahu segalanya, padahal minim pemahaman. Akibatnya, ruang publik dipenuhi perdebatan kasar dan sikap saling menjatuhkan. Rusydi Anwar mengingatkan bahwa berbicara juga membutuhkan adab. Kepintaran tanpa etika hanya akan melahirkan kesombongan.
Kekuatan utama buku ini terletak pada relevansinya dengan kehidupan modern. Penulis tidak hanya membahas konsep akhlak secara teoritis, tetapi menghubungkannya dengan realitas kekinian, terutama kehidupan generasi muda dan penggunaan media sosial. Karena itu, buku ini terasa dekat dengan pembaca.
Bahasanya ringan, mengalir, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Penulis juga banyak menggunakan kisah teladan yang membuat isi buku terasa hidup. Pembaca tidak sekadar membaca teori, tetapi juga diajak merenungkan contoh-contoh nyata yang menyentuh hati.
Meski demikian, selaku pembaca saya berharap adanya pembahasan yang lebih mendalam mengenai tantangan moral generasi digital secara spesifik, misalnya budaya viral, cancel culture, atau fenomena flexing yang kini marak di media sosial.
Namun secara keseluruhan, buku ini sudah sangat bagus. Justru kesederhanaan penyampaiannya membuat pesan moral yang dibawa terasa lebih mudah diterima. Buku ini tidak hadir untuk membuat pembaca merasa paling suci, melainkan mengajak setiap orang memperbaiki diri sedikit demi sedikit.
Akhir kata, Sebelum Mengerti Belajarlah Menghormati bukan sekadar buku tentang sopan santun. Buku ini adalah pengingat bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar mulia tanpa akhlak. Pengetahuan dapat membuat seseorang dihormati, tetapi adablah yang membuat seseorang dicintai.
Di tengah zaman yang semakin bising oleh ego, kemarahan, dan kesombongan, buku ini hadir seperti oase yang menenangkan. Ia mengajak kita kembali memahami makna menjadi manusia yang bukan hanya pintar berbicara, tetapi juga tahu bagaimana menghormati sesama.
Identitas Buku
- Judul: Sebelum Mengerti Belajarlah Menghormati
- Penulis: Rusydi Anwar, M.Ag.
- Penerbit: Araska Publisher
- Cetakan: I, Juni 2026
- Tebal: 176 Halaman
- ISBN: 978-634-253-030-6
- Genre: Religion/Spirituality
Baca Juga
-
Honor X7e Plus 5G Lolos Sertifikasi Global,Usung Daya Tahan Ekstra dan Jaringan 5G
-
Benarkah PLTU Krisis Batu Bara hingga Jawa-Bali Terancam Gelap Gulita?
-
Oppo Reno 16 Global Siap Masuk Indonesia, Snapdragon Baru dan Kamera 200 MP Jadi Andalan
-
Tecno Camon 50 vs Camon 50 Pro 5G: Duel HP Tecno Terbaru 2026, Pilih Mana?
-
Beroeng Sorah: Tempat Pulang dari Penat di Tengah Persawahan Kalisat Jember
Artikel Terkait
Ulasan
-
Perjuangan Menjadi 'Mandiri' di Jakarta: Realitas Pahit yang Dibalut Komedi dalam Novel ANJAS
-
Bukan Asal, Menulis itu Ada Seninya! Membaca Buku Dunia Kata
-
House of the Dragon Season 1: Sebuah Pengkhianatan Terbesar di Westeros!
-
Cerita Sebelum Bercerai: Mengingat Kembali Alasan untuk Bertahan
-
Harry Potter and the Order of the Phoenix: Ketika Visi Gelap Menjadi Nyata!
Terkini
-
Misteri Lawang Putih: Jejak Gaib Masa Lalu
-
Komedi Adalah Kunci: Ketika Humor Menjadi Cara Bertahan di Tengah Tekanan
-
Hong Yi Seol Bantah Rumor Pacaran dengan Heo Nam Jun, Sebut Hanya Teman
-
Music Awards Japan 2026: sakanaction dan Kenshi Yonezu Dominasi Penghargaan
-
Tiga Hal Saja, dan Itu Sudah Lebih Dari Cukup