Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Namia Belum Pulang (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Banyak cara untuk mengenang tragedi Mei 1998, mulai dari kacamata aktivis, jurnalis, novelis, pengamat sejarah, orang biasa, hingga anak-anak. Namun, melihat sejarah kelam itu dari mata seorang anak yang polos—yang tak paham apa itu politik, aktivis, ataupun krisis moneter—justru menghadirkan emosi yang jauh lebih menohok, dan semua elemen rasa itu menjadi napas dari novel bertajuk Namia Belum Pulang.

Novel ini berpusat pada Reno, di mana pemicu kisahnya bermula ketika ia melihat kericuhan demo Agustus tahun lalu dan tewasnya pengemudi ojol yang terlindas mobil Brimob di tengah kepungan massa, yang seketika menerbangkan ingatannya pada Namia, kawan masa kecilnya dari etnis Tionghoa yang hingga kini belum pernah pulang.

Hari-hari Reno dan Namia di masa lalu diisi kekonyolan khas anak sekolah zaman dulu seperti menempelkan upil di kolong meja, mencari belalang, bermain masak-masakan, hingga mencuri jambu tetangga. Reno sebenarnya enggan berteman dengan Namia karena ia seorang perempuan dan ayah Namia yang pelaut kerap mengata-ngatainya "banci" akibat tidak bisa bermain bola sampai kotor seperti anak lelaki lain.

Reno sendiri hidup bersama sang nenek sejak bayi dan dirundung tanya tentang keberadaan ibu kandungnya, sementara Namia adalah tetangga sebelah rumah yang keturunan Tionghoa, sipit, juling, dan kerap dicap bodoh karena dua tahun tidak naik kelas, belum lancar membaca, hingga dikeluarkan dari sekolah akibat sistem pendidikan konvensional yang sarat kekerasan fisik dan rasisme dari guru yang kerap memanggilnya dengan julukan kasar serta menjedotkan kepalanya ke papan tulis, meski Namia tidak cengeng dan selalu patuh pada pesan ibunya.

Seiring berjalannya waktu, hantaman krisis moneter atau krismon membuat uang jajan mereka menyusut dan hidup harus diperketat, hingga kerusuhan mulai merembes ke lingkungan sekitar tempat Nenek Reno—seorang penulis intelektual yang diam-diam menyembunyikan aktivis di rumahnya—menyaksikan ketakutan mencekam melanda warga Tionghoa.

Puncaknya tiba ketika tentara datang menginterogasi rumah Nenek secara kasar hingga berantakan, sementara pertokoan milik warga Tionghoa di kiri kanan jalan habis dibakar dan dijarah, membuat Reno dan Namia hanya bisa terpaku menyaksikan dari kolong meja saat orang-orang memperkosa Tante Liliana ramai-ramai serta memukul dan menginjak Nenek hingga tewas.

Meskipun Reno berhasil keluar dari kobaran api bersama Namia, dalam kepanikan tersebut tangan Namia lepas saat ia nekat mencari ibunya, yang berujung pada hilangnya Namia selama bertahun-tahun dengan kemungkinan terburuk ia tewas dalam amukan massa.

Sementara itu, misteri ibu kandung Reno turut terkuak sebagai seorang perempuan ODGJ yang dikurung Nenek di ruang bawah tanah dan hampir mencekik Reno sepulangnya dari kekacauan Mei 1998, membuat Reno yang kini sebatang kara harus tinggal bersama Tante Liliana.

Dari sudut pandang anak-anak, kengerian sejarah ini tidak hadir lewat teori politik yang rumit, melainkan lewat rasa takut bersembunyi di kolong meja dan kehilangan tempat pulang. Hal tersebut kemudian diterjemahkan oleh orang biasa melalui bahasa lugas dan membumi tanpa harus "menyastra tingkat tinggi" layaknya Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, sehingga justru semakin banyak orang yang mampu memahami efek nyata dari kemarahan massal yang disulut dendam.

Dari sudut pandang jurnalis, buku ini berfungsi sebagai laporan investigatif akar rumput yang merekam kekejaman xenofobia, penjarahan, serta impunitas aparat. Sementara itu, kaum aktivis melihatnya sebagai manifesto perlawanan terhadap impunitas HAM dan alarm keras bagi generasi muda agar tidak mengulang sejarah kelam yang sama demi tren media sosial semata.

Para novelis tentu akan mengapresiasi penggunaan narator anak-anak yang menciptakan ironic distance untuk mempertemukan kepolosan psikologis dengan kebrutalan realitas lewat estetika kelam. Di sisi lain, pengamat sejarah memandangnya sebagai rekonstruksi micro-history yang membongkar bagaimana krisis ekonomi dimanipulasi menjadi teror horizontal terhadap minoritas, menyisakan perasaan membekas agar tidak ada lagi korban sia-sia seperti pengemudi ojol di masa kini.

Identitas Buku:

Judul: Namia Belum Pulang
Penulis: Lommie Ephing
Penerbit: Penerbitkita 
Tahun Terbit: 2025
ISBN: 9786340446173