“Ada bayangan di balik orang yang bersinar. Di balik kemegahan dan senyuman yang berseri-seri, ada kegelapan tersembunyi yang tak tampak.”
Kalimat di atas menjadi salah satu kutipan favorit saya dari Welcome to Samdal-ri. Kutipan tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahwa setiap orang yang dari luar tampak ceria dan baik-baik saja, bisa saja menyembunyikan luka yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun.
Menurut saya, kurang lebih seperti itulah gambaran dari beberapa tokoh utama di sini, terutama Cho Sam-dal dan dua saudarinya. Dari luar mereka tampak kuat dan ceria. Padahal, masing-masing menyimpan luka yang tidak pernah benar-benar mereka tunjukkan kepada orang lain.
Sejujurnya, saya awalnya merasa kalau alur drama ini cukup klise. Bertemu lagi dengan cinta masa kecil lalu cinta mereka bersemi lagi. Namun, setelah menontonnya sampai akhir, ternyata Welcome to Samdal-ri membawa pesan yang cukup dalam tentang kehidupan.
Jadi, drama ini bercerita tentang Cho Sam-dal (Shin Hye-sun), gadis asal Jeju yang berkarier sebagai fotografer terkenal di Seoul. Di sana, ia menggunakan nama samaran Cho Eun-hye. Namun, kerja kerasnya selama bertahun-tahun di bidang fotografi fashion harus hancur karena tuduhan palsu yang menyeret namanya.
Peristiwa tersebut akhirnya membuat Sam-dal dan dua saudaranya kembali ke kampung halaman mereka di Samdal-ri. Di tempat kelahirannya inilah, ia bertemu kembali dengan Cho Yong-pil (Ji Chang-wook), teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya yang kini bekerja sebagai ahli cuaca di badan meteorologi. Selain Yong-pil, Sam-dal juga bertemu dengan teman-temannya yang lain dan warga Samdal-ri yang begitu kompak mendukung dirinya.
Kalau bicara soal alur, drama ini memang terasa sederhana. Namun, yang membuat drama ini terasa berbeda adalah latar pedesaannya yang digambarkan secara detail. Mulai dari budaya gotong-royongnya, rasa kepedulian yang kuat, hingga suasana khas desa yang terlihat masih asri. Selain itu, kita juga disuguhkan dengan pemandangan indah Pulau Jeju yang membuat penonton merasa betah dan nyaman melihatnya.
Kemudian, hubungan antarkarakter di drama ini juga terasa hangat. Hubungan keluarga Sam-dal, persahabatannya dengan teman-teman masa kecil, hingga interaksinya dengan warga Samdal-ri membuat drama ini terasa hidup. Mereka mungkin cerewet dan terkesan sering ikut campur urusan orang lain, tetapi ketika ada satu orang yang terluka, seluruh desa seolah ikut berdiri di belakangnya. Saya merasa kehangatan itulah yang akhirnya membuat Sam-dal merasa memiliki tempat untuk pulang sekaligus menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura.
Dari sisi akting, Shin Hye-sun kembali tampil sangat meyakinkan. Ia mampu memperlihatkan perubahan emosi Sam-dal, mulai dari percaya diri, hancur, putus asa, hingga perlahan menemukan kembali semangatnya. Ji Chang-wook juga berhasil membawakan karakter Yong-pil sebagai sosok yang hangat, sederhana, dan penuh perhatian tanpa terasa berlebihan. Kedua karakter tersebut sukses menampilkan chemistry yang kuat dan membangun hubungan yang dewasa.
Dari kutipan yang sempat saya singgung di awal, Welcome to Samdal-ri mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan seseorang. Orang yang terlihat paling bahagia bisa saja sedang menyembunyikan luka yang dalam. Karena itu, sebelum menghakimi atau iri pada kehidupan orang lain, mungkin kita perlu mengingat bahwa selalu ada cerita yang tidak terlihat dari luar.
Selain itu, drama ini juga menyimpan pesan yang cukup kuat tentang kegagalan. Beberapa tokoh yang merantau ke Seoul memang sempat mengalami kegagalan hingga akhirnya kembali ke kampung halaman. Namun, dengan dukungan orang-orang terdekat dan tekad untuk bangkit, mereka berhasil menemukan kembali jalan hidupnya. Dalam hubungan percintaan pun, beberapa dari mereka yang sempat gagal juga berhasil mendapatkan cintanya lagi.
Kalau Sobat Yoursay sedang mencari drama yang hangat, penuh pesan kehidupan, dan mengingatkan kita untuk tidak mudah menghakimi kehidupan orang lain, Welcome to Samdal-ri layak masuk watchlist.
Baca Juga
-
A Shop for Killers Season 1: Ketika Didikan Keras Jadi Bekal Bertahan Hidup
-
Seoul Busters: Ketika Tim yang Dianggap Gagal Mengajarkan Arti Kerja Sama
-
Belanja Digital Gen Z: Saat Kebutuhan dan Keinginan Semakin Sulit Dibedakan
-
Taxi Driver dan Kritik Tajam tentang Hukum yang Gagal Melindungi Korban
-
Wujud Kasih Sayang yang Berbeda dari Dua Ayah di Agent Kim Reactivated
Artikel Terkait
Ulasan
-
Sembunyi di Bawah Meja Demi Nyawa: Tragedi Mei 1998 Lewat Mata Bocah Cina
-
Review Drama Wonder Wall, Misteri Uang 30 Juta Yuan di Balik Tembok Rumah
-
Review Film Colors of Evil: Black, Kematian dan Misteri Kota yang Bungkam!
-
Review The White Tiger: Potret Ketimpangan Sosial yang Memancing Dilema Moral
-
A Shop for Killers Season 1: Ketika Didikan Keras Jadi Bekal Bertahan Hidup
Terkini
-
High School Queen Konfirmasi Pemeran Utama, Premis Segar Jadi Daya Tarik?
-
Hidup di Layar: Mengapa Kita Cepat Lelah di Era yang Serba Mudah?
-
Salinan Film Fortitude Raib, Netflix Dinilai Lalai hingga Digugat $105 Juta
-
Film Spider-Man: Brand New Day Cetak Rekor Preview Tertinggi Sepanjang Masa
-
8 Film Bertema Mitologi Yunani yang Wajib Kamu Tonton Selain The Odyssey