Bagi saya, drama yang berani mengangkat tema sensitif tidak selalu harus tampil provokatif atau penuh kontroversi. Justru, beberapa drama terbaik mampu membahas isu yang dianggap tabu dengan cara yang lebih elegan, sehingga penonton bisa melihat sisi lain dari topik tersebut tanpa merasa digurui atau dibuat tidak nyaman.
Hal itulah yang saya rasakan saat menonton A Virtuous Business. Drama rilisan 2024 ini datang dengan premis yang cukup unik dan berpotensi mengundang berbagai asumsi.
Namun setelah mengikuti ceritanya, saya merasa daya tarik utama drama ini bukan terletak pada temanya yang unik, melainkan pada perjalanan hidup para karakternya yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lewat pendekatan yang hangat dan ringan, A Virtuous Business berhasil menghadirkan cerita yang membuka ruang untuk melihat persoalan sosial, perjuangan perempuan, dan perubahan cara pandang masyarakat.
Lantas, mengapa drama ini berhasil meninggalkan kesan yang lebih dalam daripada yang ekspektasi penonton? Simak ulasan lengkapnya.
Sinopsis A Virtuous Business
A Virtuous Business merupakan drama besutan sutradara Jo Woong yang mengambil latar di desa Geumje pada tahun 1992. Ceritanya berpusat pada empat perempuan yang memiliki latar belakang kehidupan berbeda, yaitu Han Jeong Suk, Oh Geum Hui, Seo Young Bok, dan Lee Ju Ri.
Han Jeong Suk adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Kondisi keluarganya membuat ia harus mencari cara untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Di tengah kebingungan tersebut, ia menemukan peluang bisnis yang menawarkan komisi cukup besar. Namun, ada satu hal yang membuatnya ragu, yaitu produk yang harus dijual ternyata merupakan produk dewasa.
Di sisi lain, ada Seo Young Bok yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan harus menghidupi keluarganya. Kemudian ada Oh Geum Hui yang berasal dari keluarga berada, tetapi merasa hidupnya berjalan monoton setelah menikah.
Sementara itu, Lee Ju Ri adalah seorang ibu tunggal yang ingin mencari pengalaman baru sekaligus meningkatkan pendapatannya.
Meski sempat merasa canggung dan takut menghadapi penilaian masyarakat, keempat perempuan ini akhirnya memutuskan untuk menjalankan bisnis tersebut bersama-sama. Dari sinilah berbagai tantangan, konflik, sekaligus pelajaran hidup mulai bermunculan.
Mengangkat Topik Sensitif Tanpa Terasa Vulgar
Hal yang paling saya sukai dari drama ini adalah caranya membahas isu seksualitas. Jujur saja, ketika mendengar bahwa tokoh-tokohnya menjual produk dewasa, saya sempat khawatir drama ini akan dipenuhi adegan atau humor yang berlebihan. Namun, ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti.
A Virtuous Business justru tampil cukup elegan dalam membawakan tema tersebut. Topik yang sensitif ini disampaikan secara ringan dan natural, tanpa terasa murahan.
Bahkan banyak momen lucu yang muncul bukan karena produk yang dijual, melainkan karena reaksi para karakter yang harus berhadapan dengan norma sosial dan rasa malu mereka sendiri.
Menurut saya, drama ini berhasil menunjukkan bahwa isu yang dianggap tabu sebenarnya bisa dibicarakan dengan cara yang elegan. Tidak ada kesan menggurui, tidak juga berusaha mencari sensasi.
Selain itu, latar waktu tahun 1990-an juga membuat cerita terasa lebih menarik. Pada masa itu, pembicaraan tentang seksualitas tentu jauh lebih sensitif dan tabu dibanding sekarang.
Oleh karena itu, perjuangan para karakter untuk memperkenalkan produk mereka menjadi terasa lebih menantang dan bermakna.
Kisah Perjuangan Perempuan yang Menjadi Jantung Cerita
Meskipun inti ceritanya membahas tentang strategi bisnis, saya merasa A Virtuous Business sebenarnya lebih banyak berbicara tentang kehidupan perempuan.
Setiap karakter memiliki alasan yang berbeda untuk bekerja. Ada yang terdesak kebutuhan ekonomi, ada yang ingin membantu keluarga, dan ada pula yang ingin menemukan kembali jati dirinya setelah bertahun-tahun hanya menjalani rutinitas yang sama.
Hal inilah yang membuat saya merasa connected dengan kisah mereka. Drama ini memperlihatkan bahwa perempuan sering kali harus menghadapi berbagai tantangan ketika mencoba mengambil peran di luar rumah.
Mereka tidak hanya berjuang mencari penghasilan, tetapi juga harus menghadapi stigma, penilaian masyarakat, dan berbagai keterbatasan yang ada.
Yang menarik, drama ini tidak menggambarkan para tokohnya sebagai sosok yang sempurna. Mereka sering melakukan kesalahan, merasa takut, bahkan ingin menyerah. Perjalanan mereka terasa lebih realistis dan mudah dipahami oleh penonton.
Selain itu, saya juga menyukai bagaimana persahabatan antara empat tokoh utama berkembang sepanjang cerita. Hubungan mereka terasa hangat dan menjadi salah satu alasan utama mengapa drama ini begitu menyenangkan untuk diikuti.
Kesimpulannya, A Virtuous Business adalah drama yang berhasil mematahkan ekspektasi. Kalau kamu mencari tontonan yang hangat, penuh pesan kehidupan, dan memiliki sudut cerita yang berbeda dari kebanyakan drama lain, A Virtuous Business layak masuk ke dalam daftar tontonan.
Baca Juga
-
BGN Rilis Aplikasi Reviu MBG: Apakah Digitalisasi Menjawab Akar Masalah?
-
Parole Examiner Lee: Membongkar Wajah Gelap Kekuasaan di Balik Sistem Hukum
-
Prabowo Resmi Naikkan Tukin TNI dan Kemhan, Apa Kabar Perbaikan Nasib Guru?
-
Invisible Cost Perempuan: Wajah Lain Ketimpangan Gender dalam Ekonomi
-
Gaji Manajer Kopdes Ditanggung APBN: Di Mana Letak Skala Prioritas Negara?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Senna: Drama Biografi yang Menghidupkan Kembali Sang Legenda Formula 1
-
Review Film The Devil's Mouth: Teror Hiu Ganas di Gua Bawah Air Thailand!
-
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Tentang Bertahan Hidup Lewat Hal-Hal Kecil
-
Seoul Busters: Ketika Tim yang Dianggap Gagal Mengajarkan Arti Kerja Sama
-
Meracik Penawar Luka Sendiri dari Buku Jika Lukamu Sedalam Laut, Ikhlasmu Harus Seluas Langit
Terkini
-
Usung Genre Romcom, Drama Korea-Jepang 'Merry Berry Love' Tayang Oktober
-
Bali Dijual untuk Dunia, tetapi Semakin Sulit Dijangkau Orang Lokal
-
5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan: Performa Ngebut, Kamera Jernih, dan Memori Lega
-
Mengapa Koruptor Pindah ke Emas? Saatnya AI Mengendus Brankas Tersembunyi
-
Bawa Garnacho dan Abraham, Aston Villa Siap Uji Mental Indonesia All Stars