Dari sepuluh kasus yang diangkat dalam drama Korea Teach You a Lesson, ada satu episode yang menurut saya paling membuat emosi penonton naik turun, bahkan sampai viral dengan sarkas 'nanti anak saya minder'.
Bukan karena ada perkelahian brutal, bukan karena kasus kriminal besar, melainkan karena kasusnya terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata.
Episode kelima yang berjudul 'Studi Kasus Sekolah Dasar Hyeongjung' menghadirkan sosok Lee Ji Young, seorang ibu yang begitu mencintai anaknya hingga menganggap seluruh dunia harus ikut memprioritaskan anak tersebut.
Dan jujur saja, sepanjang episode ini saya beberapa kali ingin berteriak ke layar televisi.
Park Ji Yeon Berhasil Membuat Penonton Ikut Kesal
Saya harus memberikan pujian besar kepada Park Ji Yeon. Tidak mudah memerankan karakter yang membuat penonton kesal tanpa terlihat berlebihan atau seperti tokoh antagonis kartun. Namun Park Ji Yeon berhasil melakukannya dengan sangat baik.
Karakter Lee Ji Young bukan penjahat yang melakukan kekerasan fisik. Ia hanya merasa dirinya adalah ibu yang baik dan justru di situlah letak masalahnya.
Lee Ji Young benar-benar yakin bahwa semua tindakannya dilakukan demi anaknya. Ia percaya dirinya sedang menjadi ibu yang bertanggung jawab. Padahal tanpa sadar, ia perlahan menghancurkan hidup orang lain.
Choi Ji Seon Menjadi Kambing Hitam yang Tidak Pernah Bisa Benar
Korban dalam kasus ini adalah Choi Ji Seon, wali kelas Kim U Jin. Sejak awal, Choi Ji Seon sudah berada dalam posisi yang mustahil. Apa pun yang ia lakukan selalu salah di mata Lee Ji Young.
Ketika mendidik Kim U Jin, ia tidak boleh membentak. Tidak boleh bersikap tegas. Tidak boleh menggurui apalagi memberi tekanan.
Bahkan ketika Kim U Jin melakukan kesalahan, Lee Ji Young tidak ingin anaknya diminta meminta maaf. Semua aturan itu dipaksakan kepada Choi Ji Seon seolah dirinya bukan guru profesional yang memahami pekerjaannya sendiri.
Yang membuat situasinya semakin mengerikan adalah Lee Ji Young tidak berhenti di lingkungan sekolah. Ia ikut mengawasi cara Choi Ji Seon berpakaian. Ia memantau media sosial sang guru. Ia mengomentari kehidupan pribadi yang sama sekali tidak berkaitan dengan proses belajar mengajar.
Bahkan pada satu titik, ia mendatangi rumah Choi Ji Seon untuk memberikan "peringatan".
Jika dipikir-pikir, perilaku itu sudah sangat dekat dengan stalking. Tidak heran jika Choi Ji Seon perlahan mengalami depresi. Ia hidup dalam tekanan yang tidak pernah berhenti. Ke mana pun ia pergi, selalu ada seseorang yang mengawasi, mengkritik, dan menyalahkannya.
Salah Satu Adegan Paling Menyakitkan dalam Teach You a Lesson
Yang membuat episode ini begitu membekas adalah karena korban bukan hanya kehilangan kenyamanan. Choi Ji Seon sampai berada di titik ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Drama ini memperlihatkan bagaimana tekanan psikologis yang berlangsung terus-menerus bisa menghancurkan seseorang meskipun tidak ada kekerasan fisik yang terjadi.
Kadang kita terlalu mudah menganggap komentar, tuntutan, atau kritik sebagai hal biasa. Padahal ketika dilakukan tanpa henti selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dampaknya bisa sangat berbahaya.
Di sinilah Teach You a Lesson berhasil menunjukkan bahwa luka psikologis sama nyatanya dengan luka fisik.
Konfrontasi Na Hwa Jin dan Lee Ji Young Menjadi Puncak Episode
Menjelang akhir episode, ada satu percakapan yang menurut saya menjadi inti dari keseluruhan kasus ini. Lee Ji Young mengatakan bahwa semua yang ia lakukan semata-mata demi anaknya. Baginya, Kim U Jin harus menjadi prioritas utama.
Na Hwa Jin kemudian bertanya apakah ia pernah memikirkan ketakutan dan tekanan yang dialami Choi Ji Seon.
Namun jawaban Lee Ji Young justru membuat saya semakin kesal. Ia mengatakan bahwa Choi Ji Seon tidak akan mengerti karena tidak memiliki anak. Kalimat itu sering muncul dalam kehidupan nyata. Seolah hanya orang tua yang berhak berbicara tentang empati.
Namun respons Na Hwa Jin benar-benar menampar. Ia mengatakan bahwa jika Lee Ji Young begitu memahami perasaan seorang ibu terhadap anaknya, maka ibu dari Choi Ji Seon pasti juga merasakan hal yang sama saat melihat putrinya diperlakukan buruk oleh orang lain.
Sayangnya, jawaban Lee Ji Young justru semakin menunjukkan masalah utamanya. Ia mengatakan tidak peduli. Karena yang terpenting di dunia ini hanyalah anaknya. Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling egois yang muncul sepanjang drama.
Lee Ji Young Adalah Gambaran Entitled Parent yang Nyata
Secara psikologis, karakter Lee Ji Young sangat menarik untuk dibahas. Dalam istilah populer, orang seperti dirinya sering disebut sebagai "Momzilla".
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan orang tua yang agresif, terlalu menuntut, dan merasa seluruh lingkungan harus memberikan perlakuan khusus kepada anak mereka.
Ada juga istilah "Entitled Parent", yaitu orang tua yang merasa dirinya atau anaknya memiliki hak istimewa dibanding orang lain.
Perilaku Lee Ji Young juga menunjukkan karakteristik overparenting atau helicopter parenting. Ia tidak hanya ingin melindungi anaknya dari kesalahan. Ia ingin mengontrol seluruh lingkungan di sekitar anaknya.
Mulai dari guru, sekolah, hingga kehidupan pribadi orang lain. Dalam beberapa aspek, perilaku tersebut juga mendekati narsisme parental. Anak bukan lagi individu yang sedang tumbuh dan belajar. Anak menjadi pusat identitas diri orang tua. Karena itu segala sesuatu yang menyangkut anak dianggap sebagai ancaman pribadi yang harus dilawan.
Mengapa Episode Ini Sangat Relatable?
Kasus ini terasa begitu kuat karena hampir semua orang pernah bertemu sosok seperti Lee Ji Young. Mungkin bukan dalam bentuk yang ekstrem. Namun kita pernah melihat orang tua yang selalu membela anaknya meskipun jelas-jelas salah.
Pernah melihat orang tua yang meminta perlakuan khusus untuk anaknya. Pernah melihat orang tua yang menganggap semua orang harus memahami kondisi anak mereka, tetapi tidak pernah berusaha memahami kondisi orang lain.
Episode ini mengingatkan bahwa mencintai anak adalah hal yang wajar. Namun ketika cinta itu berubah menjadi pembenaran untuk mengabaikan hak, perasaan, dan kehidupan orang lain, maka cinta tersebut bisa berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Salah Satu Episode Terbaik dalam Teach You a Lesson
Dari seluruh kasus yang ada dalam Teach You a Lesson, Studi Kasus Sekolah Dasar Hyeongjung menurut saya menjadi salah satu episode paling kuat. Bukan karena aksinya apalagi plot twist-nya. Melainkan karena kasusnya terasa sangat nyata.
Park Ji Yeon berhasil menghadirkan karakter yang membuat penonton frustrasi sekaligus refleksi. Sementara Choi Ji Seon menjadi pengingat bahwa guru juga manusia yang bisa terluka, lelah, dan hancur ketika terus-menerus dijadikan sasaran kemarahan orang lain.
Dan seperti biasa, Teach You a Lesson kembali menyampaikan pesan utamanya dengan sangat jelas. BPHP tidak datang untuk membela guru. BPHP tidak datang untuk membela murid apalag orangtua. Mereka datang untuk membela korban yang sebenarnya. Kamu juga kesal dengan episode ini?
Baca Juga
-
Intip Gaya Sporty Chic ala Karina dan Winter aespa Nonton Piala Dunia 2026
-
Di Balik Ramainya Nobar Piala Dunia, Ada Ruang untuk Bersosialisasi
-
4 Mix and Match Daily OOTD ala Giselle aespa untuk Hangout dan Ngopi Cantik
-
Tak Harus Daur Ulang, Merawat Barang Juga Bentuk Gaya Hidup Less Waste
-
Less Waste dari Rumah: Mulai dengan Tidak Menyia-nyiakan Produk
Artikel Terkait
Ulasan
-
Film Hokum: Menelisik Mitos yang Turun-temurun Hidup dalam Ingatan Kolektif
-
Karya Legendaris Idrus: Menelanjangi Luka Sejarah dan Trauma Zaman Jepang
-
Menemukan Kebahagiaan dari dalam Diri di Buku The Simple Way to Happiness
-
Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta: Teman Kontemplasi di Larut Malam
-
The Little Sister: Ketika Iman dan Jati Diri Terjebak dalam Konflik yang Tak Terucapkan
Terkini
-
Joshua SEVENTEEN Siap Berpidato di Markas Besar UNESCO Paris pada 25 Juni
-
Tayang Tahun Depan! Pixar Kenalkan Gangster Kucing Jalanan di Film Gatto
-
Bosan Kerja Sendirian? WFC Journal Mengubah Meja Kopi Jadi Lingkaran Pertemanan
-
Kwon Eun Bin CLC Pensiun dari Dunia Hiburan Setelah 10 Tahun, Ini Alasannya
-
Capek Sedikit, Checkout Banyak: Emotional Spending Gen Z di Era Digital