Lintang Siltya Utami | Muhammad Rafi Hanif
Hikayat Kadiroen Karya Semaoen (Goodreads)
Muhammad Rafi Hanif

Kalau kita membicarakan sastra pergerakan Indonesia, Hikayat Kadiroen (2000) adalah salah satu karya yang jarang disorot tapi punya bobot yang sangat besar. Ditulis oleh Semaoen, tokoh pergerakan nasional dan pemimpin awal gerakan sosialis di Hindia Belanda. Lewat kisah Kadiroen, kita diajak menyelami realitas pahit kehidupan rakyat di awal abad ke-20 yang terdapat penindasan kolonial, ketimpangan ekonomi, serta benturan nilai tradisi lama dan pemikiran baru. 

Sinopsis

Cerita berpusat pada tokoh Kadiroen, seorang pemuda cerdas dan berhati bersih yang berhasil menjadi Mantri Polisi meski berasal dari keluarga lurah biasa. Di awal tugasnya, ia sudah melihat ketidakadilan. Rakyat kecil seperti Soeket yang kehilangan kerbaunya hanya ditindas sedangkan pejabat seperti Asisten Wedono justru berlaku sewenang-wenang dan memakai mantan penjahat untuk menangkap tersangka tanpa bukti jelas.

Dalam perjalanan tugasnya, Kadiroen bertemu Ardinah, seorang perempuan yang hidup menderita karena dipaksa menjadi istri muda Lurah Kromo Nenggolo. Ia terpesona oleh keteguhan hati Ardinah, tapi sadar posisinya terjepit antara perasaan cinta dan tanggung jawab jabatan.

Dari Mantri Polisi sampai Kadiroen diangkat menjadi Wedono. Kadiroen berusaha keras memperbaiki nasib rakyat. Dengan sigap, ia mengatur irigasi secara adil, membatasi bunga pinjaman yang mencekik, dan melarang pemerasan oleh penguasa lokal. Namun, semua usahanya sering terhambat oleh aturan kolonial dan kepentingan pemilik pabrik serta pejabat yang korup.

Suatu hari, ia menghadiri pertemuan perkumpulan rakyat yang dipimpin Tjitro. Di sana, ia mendengar penjelasan mendalam tentang sejarah penindasan, perubahan sistem ekonomi dari hasil alam menjadi uang, serta paham perjuangan melalui koperasi, serikat buruh, hingga gerakan politik. Kadiroen mulai sadar cara kerja lama sebagai pejabat tidak akan mengubah keadaan secara menyeluruh.

Terjepit antara tetap menjabat sebagai pejabat kolonial atau berjuang bersama rakyat, ia akhirnya memilih melepaskan jabatannya dan bergabung dengan gerakan. Ia bertemu Sariman, seorang jurnalis dan pemimpin pergerakan yang menjadi gurunya. Kadiroen menghabiskan waktu bekerja menulis di surat kabar Sinar Ra'jat.

Di sisi lain Kadiroen berhasil bertemu kembali dengan Ardinah yang sudah membebaskan diri dari pernikahan paksa setelah Ardinah mengumpulkan bukti pemerasan, penindasan, dan menggagalkan upaya pembunuhan yang dilakukan Kromo Nenggolo dengan melemparkan abu ke matanya. Menyadari kejahatannya terbongkar, Kromo Nenggolo menceraikan Ardinah dan berjanji kembali setia pada istri tuanya.

Kisah berakhir dengan restu orang tua Kadiroen dan rencana pernikahan keduanya sebagai simbol persatuan antara cinta luhur dan perjuangan keadilan. Ibu Kadiroen mengakui Ardinah memiliki Rach Ayu Sejati (seseorang yang memiliki hati yang murni) meski bukan keturunan bangsawan.

Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu hal yang menarik dari novel ini ialah kritik sosial yang tajam tapi terstruktur. Semaoen tidak hanya menyalahkan penguasa, tapi menjelaskan akar masalahnya mulai dari sistem ekonomi liberal, monopoli pabrik, hingga perubahan cara hidup rakyat yang belum siap menghadapi uang. Kita jadi paham kenapa kemiskinan terus berlanjut meski rakyat sudah bersungguh-sungguh bekerja keras.

Di sini yang paling menonjol dari cara Semaoen bercerita menurut saya karakter yang hidup dan punya perkembangan. Kadiroen bukan pahlawan sempurna. Ia pernah ragu, tergoda, terjepit pilihan, lalu belajar dan tumbuh. Begitu juga Ardinah, sosok yang dicintai Kadiroen. Ia bukan sekadar objek cinta tapi perempuan berani yang melawan ketidakadilan di rumah dan desanya.

Namun, saya juga melihat sisi kekurangan dari buku ini ketika kisah cinta Kadiroen dan Ardinah muncul, lalu sempat hilang lama saat fokus beralih ke permasalahan sosial dan politik. Koordinasi antara dua alur ini dalam pandangan saya belum sepenuhnya seimbang.

Hal ini juga diperkuat dengan adanya beberapa bab yang berisi pidato atau penjelasan teoretis yang cukup panjang. Jika ada beberapa pembaca yang hanya ingin menikmati alur cerita, bagian ini terasa melambat. Penulis menjelaskan apa yang salah dan apa yang harus diperjuangan tapi kurang menggambarkan secara rinci bagaimana perubahan itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan Moral

Keadilan tidak bisa didapatkan tidak hanya dengan menjadi pejabat yang baik saja tapi butuh perubahan sistem yang menyeluruh. Hati yang bersih dan keberanian untuk memilih jalan yang benar lebih berharga daripada pangkat atau gelar kebangsawanan. 

Identitas Buku

  • Desain Cover: Spektrum Indonesia
  • Penerbit: Yayasan Bentang Budaya
  • Penulis: Semaoen
  • Tahun: Cetakan Pertama, April 2000
  • ISBN: 9789798793950
  • Tebal: 252 Halaman