Lintang Siltya Utami | Muhammad Rafi Hanif
Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer (Goodreads)
Muhammad Rafi Hanif

Perburuan adalah salah satu karya penting dari Pramoedya Ananta Toer, penulis legendaris Indonesia yang karyanya selalu menyentuh realitas sosial, sejarah, dan perjuangan manusia. Novel ini menceritakan peristiwa di masa pendudukan Jepang di Indonesia, tepatnya di daerah Blora, Jawa Tengah. Lewat kisah ini, kita tidak hanya membaca soal peristiwa perang atau pengejaran semata, tapi juga melihat bagaimana tekanan kekuasaan besar bisa mengubah sifat, kepercayaan, dan hubungan antarmanusia.

Sinopsis

Cerita berpusat pada sosok Den Hardo, mantan anggota organisasi PETA yang kini menjadi buronan karena terlibat dalam pemberontakan melawan pemerintahan pendudukan Jepang. Selama setengah tahun ia hidup mengembara, berpakaian seperti pengemis, tidur di mana saja, dan selalu waspada agar tidak tertangkap oleh pasukan Kenpeitai atau Keibodan yang terus memburunya.

Di awal cerita, kita berkenalan dengan Hardo yang bertemu dengan Ramli, seorang lurah di daerah Kaliwangan yang juga ayah dari tunangannya, Ningsih. Ramli meminta Hardo pulang ke rumahnya, berjanji akan melindunginya, namun Hardo menolak tegas. Ia sadar bahwa meski Ramli berniat baik, posisinya sebagai pejabat membuatnya bisa tergoda atau dipaksa untuk mengkhianati. Hardo hanya ingin tetap menyendiri dan menunggu sampai situasi berubah. Ia percaya suatu hari kekuasaan Jepang akan runtuh.

Dalam perjalanan mengembara, Hardo bertemu dengan seorang pria yang awalnya tampak seperti penjudi biasa. Pria ini ternyata adalah Mohamad Kasim, ayah kandung Hardo sendiri yang kini sudah tidak lagi menjabat sebagai wedana karena dicopot oleh Jepang. Kasim merasa hancur sebab istrinya meninggal karena tertekan, ia kehilangan jabatan dan martabat, lalu melarikan diri ke dunia judi sebagai pelarian. Ia terus mencari kabar soal anaknya, yang dianggap pengkhianat oleh pemerintah. Pertemuan ini menjadi penuh emosi. Kasim berharap Hardo pulang, sementara Hardo tetap menjaga jarak dan menyembunyikan keberadaannya agar ayahnya tidak terlibat masalah.

Selanjutnya, kita diperkenalkan pada tokoh lain, Dipo, kawan seperjuangan Hardo yang juga menjadi buronan, serta Karmin, mantan kawan yang kini dianggap pengkhianat. Karmin dulunya berjanji bergabung dalam pemberontakan, namun berbalik arah saat tunangannya menikah dengan pejabat Jepang. Ia kini bekerja sama dengan penguasa, namun di dalam hatinya terguncang rasa bersalah yang mendalam.

Saat situasi semakin genting, pasukan pengejar terus menyisir daerah Blora. Mereka menggeledah rumah, menanyai warga, dan mengancam keluarga Hardo. Ningsih tetap setia menunggu dan melindungi informasi keberadaan tunangannya, meski ia juga diinterogasi dan diancam. Ramli pun tertekan, diantara kewajiban pada pemerintah dan rasa sayang pada calon menantunya.

Puncak cerita terjadi saat Hardo, Dipo, dan Karmin tertangkap di bawah jembatan. Namun tepat saat mereka akan dihukum, terdengar kabar mengejutkan: Jepang telah menyerah kepada Sekutu, dan Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaannya. Suasana berubah drastis, orang-orang yang tadinya takut pada penguasa Jepang kini berani melawan. Pasukan Jepang yang tadinya berkuasa menjadi lemah, dan posisi Hardo serta kawan-kawannya berbalik.

Di akhir cerita, Karmin mengakui kesalahannya di depan rakyat, dan memilih menerima konsekuensi atas pengkhianatannya. Ketika Den Hardo memiliki kesempatan untuk membiarkan massa menghukum mati Karmin, ia justru melindungi mantan rekannya itu. Hardo dan Dipo selamat, dan menyaksikan bendera Merah Putih dikibarkan menggantikan bendera Jepang.

Kelebihan dan Kekurangan

Bagi saya novel ini tidak hanya berfokus pada kejaran fisik Den Hardo, tetapi banyak sekali menggali secara mendalam gejolak batinnya ada rasa bersalah, keraguan, kecewa, hingga keteguhan prinsip. Setiap perubahan sikap dari prajurit menjadi pengemis, dari percaya menjadi curiga disajikan secara bertahap dan logis, sehingga pembaca dapat merasakan beban batin tokoh tanpa merasa dipaksakan. 

Sayangnya ketika saya berharap akan ada adegan pertempuran fisik di mana Den Hardo menggunakan senjata, namun hal tersebut tidak tergambarkan secara memadai. Satu-satunya hal yang sedikit disinggung soal kemampuan bertarungnya ialah keahlian dalam Kendo, seni bela diri asal Jepang.

Bahkan disebutkan ia pernah memenangkan pertarungan Kendo melawan seorang komandan Jepang saat masa pendidikannya dulu. Sementara selama masa perburuan dalam narasi utama novel, Den Hardo sama sekali tidak pernah terlibat dalam pertarungan nyata menggunakan senjata api maupun pedang. Pilihan penyamarannya yang terus berpindah-pindah seperti itu menjadi satu-satunya strategi bertahan hidup untuk menjaga nyala api perjuangan tetap ada.

Pesan Moral

Kebebasan tidak hanya tercapai saat bebas dari penindasan fisik, melainkan juga saat seseorang bebas dari beban hati dan rasa bersalah.

Identitas Buku

  • Penulis: Pramoedya Ananta Toer
  • Tebal: 163 Halaman
  • Penerbit: Hasta Mitra
  • ISBN: 9798659007
  • Tahun: Cetakan 4, 2002