Lintang Siltya Utami | Muhammad Rafi Hanif
Pangeran dari Timur Kaya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi (Goodreads)
Muhammad Rafi Hanif

Pangeran dari Timur mengajak pembaca menelusuri dua lintasan waktu yang saling bersilang: kisah perjalanan hidup Raden Saleh, pelukis legendaris asal Jawa yang menaklukkan dunia seni Eropa dan perjumpaan dua anak muda di Bandung tahun 1920-an yang terhubung oleh rasa penasaran akan warisan budaya serta perjalanan sang maestro.

Sinopsis

Cerita dibuka dengan suasana pesta pergantian tahun 1924 – 1925 di Bandung, di mana kita diperkenalkan dengan Latief Syamsudin Harja Adisurya, seorang arsitek sekaligus penggemar seni lukis, dan Ratna Juwita, gadis cerdas yang ingin mendalami pengetahuan tentang aliran seni.

Dalam percakapan mereka, Syamsudin menyebutkan nama seorang pelukis asal Jawa yang pernah belajar dan tinggal puluhan tahun di Eropa, yaitu Raden Saleh Syarief Bustaman. Dari situlah cerita kemudian melompat ke masa lalu, mengisahkan perjalanan hidup Raden Saleh sejak masa kecilnya.

Kita dibawa ke tahun 1820, ketika Sarip Saleh, nama kecil Raden Saleh baru berusia sembilan tahun. Ia dibawa ke Buitenzorg (sekarang Bogor) untuk bertemu dengan para pejabat penting, termasuk Profesor Reinwardt dan pelukis Antoine Payen. Berkat bakat alaminya dalam menggambar, Sarip diberi kesempatan belajar langsung di bawah bimbingan Payen, sekaligus bekerja di Biro Penelitian dan Kesenian. Di sana, ia mulai mengasah keterampilannya, mengamati alam, serta menyaksikan bagaimana pengetahuan dan kekayaan alam Nusantara dicatat dan dibawa ke Eropa.

Di samping perjalanan kariernya, kita juga diajak memahami latar belakang politik yang sedang bergejolak. Melalui cerita dari pamannya dan kakak-kakaknya, Sarip mengetahui persaingan di lingkungan Keraton Yogyakarta, pengaruh kuat Belanda, serta perjuangan Pangeran Diponegoro yang menentang penjajahan. Ia melihat bagaimana para penguasa lokal terpecah belah, ada yang bekerja sama dengan penjajah, ada yang berjuang mempertahankan harga diri, dan ada pula yang terjebak di antara dua pilihan yang sulit.

Ketika perang Diponegoro berkecamuk, keluarga besar Sarip terlibat secara langsung. Pamannya ditangkap dan diasingkan, salah satu kakaknya bergabung dalam perlawanan, sementara Sarip sendiri mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan seni ke Eropa. Maka dimulailah babak baru dalam hidupnya berlayar ke Belanda, menempuh perjalanan panjang, dan menetap di negeri yang sangat berbeda dari tanah kelahirannya.

Di Eropa, Raden Saleh, nama yang mulai ia gunakan saat dewasa belajar kepada para pelukis terkemuka, menguasai aliran Romantik, dan mendapatkan pengakuan luas. Namun, ia juga menghadapi kenyataan pahit tentang diskriminasi ras, pandangan rendah orang Eropa terhadap bangsa Timur, serta pertentangan batin antara kesempatan mengembangkan bakat dan rasa rindu serta tanggung jawab terhadap tanah air.

Bahkan ketika ia bertemu dengan Jenderal De Kock, tokoh yang berperan besar dalam menaklukkan Pangeran Diponegoro, ia merasakan pergulatan yang mendalam antara rasa hormat terhadap kesempatan yang dibuka sistem kolonial, dan rasa sedih melihat nasib bangsanya sendiri. Cerita kemudian kembali ke masa 1920-an, di mana Syamsudin dan Ratna terus membahas warisan Raden Saleh. 

Kelebihan dan Kekurangan

Saya terpesona dengan kedua penulis yang mampu melukiskan suasana tempat, pakaian, percakapan, hingga pemikiran tokoh dengan sangat rinci. Pembaca bisa membayangkan bagaimana kehidupan di Buitenzorg awal abad ke-19, suasana kota di Belanda, maupun keramaian pesta di Bandung tahun 1920-an. Hal ini membuat cerita terasa hidup dan tidak sekadar rangkaian peristiwa.

Selain itu nilai tambah dari buku ini bagi saya alih-alih memfokuskan sudut pandang dari Raden Saleh saja, para penulis menyajikan berbagai sisi pandang baik dari pihak penjajah, penguasa lokal, kaum terpelajar, maupun rakyat biasa. Pembaca diajak  memahami setiap tokoh memiliki alasan dan pertimbangan dibalik pilihannya, tanpa langsung menghakimi.

Sisi kekurangannya dikarenakan buku ini berpindah antara masa 1820-an dan 1920-an, peralihannya terasa kurang halus. Ada dua alur cerita yang membuat perhatian pembaca terbagi antara Raden Saleh dan hubungan Syamsudin–Ratna. Meskipun keduanya saling berkaitan, ada bagian cerita tentang Syamsudin terasa melambat dibandingkan bagian perjalanan hidup Raden Saleh.

Pesan Moral

Menguasai pengetahuan darimana pun asalnya tidak berarti melupakan jati diri. Belajar dari orang lain tidak membuat kita menjadi peniru, melainkan menjadi lebih cerdas dalam membangun identitas sendiri. Perjalanan hidup Raden Saleh menunjukkan karya dan pemikiran yang baik dapat melintasi waktu dan batas wilayah. Ia menjadi jembatan antara budaya Timur dan Barat, membuktikan keberagaman bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan bijak.

Identitas Buku

  • Penulis: Iksaka Banu, Kurnia Effendi
  • Tahun: Cetakan Pertama, 2020
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • Tebal: 524 Halaman
  • ISBN: 9786022916765