Membicarakan mafia, gereja, manuskrip kuno, hingga perjalanan spiritual dalam satu film mungkin itu ide yang terlalu berani. Namun, Film In the Hand of Dante menjadikan semua elemen tersebut sebagai fondasi cerita yang mengajak penonton merenungkan hubungan rumit antara iman, kekuasaan, seni, dan kekerasan.
Film berdurasi ±153 menit ini disutradarai Julian Schnabel. Naskahnya diadaptasi dari novel karya Nick Tosches yang terbit pada 2002 dengan judul serupa. Film ini diproduksi DreamCrew Entertainment bersama sejumlah rumah produksi independen dan kini tayang di Netflix sejak 24 Juni 2026 setelah lebih dulu diputar di Festival Film Venesia.
Deretan pemainnya pun terbilang mewah. Oscar Isaac memerankan dua karakter sekaligus, yakni Nick Tosches dan Dante Alighieri. Gal Gadot berperan sebagai Giulietta serta Gemma Donati, Gerard Butler tampil sebagai Louie sekaligus Paus Boniface VIII, John Malkovich memerankan Joe Black, sementara Jason Momoa, Sabrina Impacciatore, hingga Martin Scorsese sebagai Isaiah turut memperkuat jajaran pemeran.
Ceritanya mengikuti Nick Tosches, penulis asal New York yang diminta mengautentikasi manuskrip langka The Divine Comedy yang diyakini ditulis langsung oleh Dante Alighieri. Nilai sejarah manuskrip tersebut begitu besar sehingga menarik perhatian banyak pihak.
Namun, penyelidikan itu segera berubah menjadi pusaran bahaya ketika Tosches direkrut bos mafia untuk mencuri manuskrip tersebut. Sejak saat itu, Nick Tosches terseret ke dunia kriminal yang banjir intrik, pengkhianatan, dan kekerasan.
Di saat yang sama, film membawa penonton kembali ke Italia abad ke-14 untuk mengikuti perjalanan Dante Alighieri dalam pergulatan batin, pencarian makna hidup, dan proses kreatif yang melahirkan The Divine Comedy. Dua kisah yang dipisahkan ratusan tahun ini perlahan saling berkaitan, memperlihatkan bahwa manusia dari zaman apa pun tetap bergulat dengan dosa, cinta, ambisi, dan harapan akan penebusan.
Antara Agama dan Kekerasan dalam Film In the Hand of Dante
Jujurly, paling menarik dari Film In the Hand of Dante bukan misteri manuskripnya, melainkan caranya mempertemukan dua dunia yang selama ini bertolak belakang: agama dan kekerasan.
Selama ini kita sering menganggap keduanya mustahil berjalan beriringan. Agama identik dengan kasih sayang, pengampunan, dan nilai moral. Sementara kekerasan identik dengan kebencian, perebutan kekuasaan, dan penghancuran. Secara ideal, keduanya memang saling bertentangan.
Namun, kehidupan nyata seringkali jauh lebih rumit ketimbang teori. Sejarah mencatat, banyak konflik besar melibatkan simbol-simbol agama. Bukan karena ajaran agama mengajarkan kekerasan, melainkan karena manusia kerap membawa ambisi politik, ekonomi, dan kekuasaan ke dalam ruang yang seharusnya sakral.
Ketika kepentingan pribadi dibungkus dengan legitimasi moral atau agama, lahirlah paradoks yang sulit dipahami. Paradoks itulah yang begitu kuat dalam Film In the Hand of Dante.
Manuskrip The Divine Comedy merupakan karya sastra yang berbicara tentang dosa, neraka, penyucian, hingga surga. Ironisnya, benda yang seharusnya mengingatkan manusia pada perjalanan menuju keselamatan malah menjadi alasan munculnya ancaman, pembunuhan, dan perebutan kekuasaan.
Apakah manusia benar-benar belajar dari nilai yang terkandung dalam sebuah manuskrip suci, atau hanya menginginkan nilai materi dan prestisenya?
Pertanyaan itu agaknya semakin menarik ketika karakter mafia, tokoh gereja, dan sosok spiritual hadir dalam ruang yang sama. Film ini menunjukkan manusia adalah makhluk yang penuh kontradiksi. Seseorang bisa berbicara tentang iman, tapi tetap melakukan kekerasan. Sebaliknya, seseorang yang hidup di dunia kriminal masih dapat menyimpan penyesalan dan kerinduan untuk menemukan makna hidup.
Menurutku, Sutradara Julian Schnabel nggak menghakimi penontonnya dengan jawaban alakadar. Dia bak mengajak kita melihat persoalan utamanya bukan terletak pada agama, melainkan pada manusia yang sering gagal menjalankan nilai-nilai yang diyakininya sendiri.
Karena itu, aku nggak melihat Film In the Hand of Dante sebagai film yang mempertentangkan agama dan kekerasan. Sebaliknya, film ini memperlihatkan bagaimana keduanya dapat bersinggungan ketika ambisi, keserakahan, dan hasrat akan kekuasaan mengambil alih hati manusia.
Tentu saja, penyampaiannya nggak selalu mudah diikuti. Ritme film beberapa kali terasa lambat, bahkan ada sejumlah adegan yang kayak sengaja dibiarkan berlarut-larut. Namun, semua itu tampaknya merupakan bagian dari visi Julian Schnabel yang lebih mengutamakan pengalaman artistik.
Jadi, apakah kekerasan dan agama selalu berjalan berlawanan? Secara nilai, jawabannya tentu iya. Namun, sejarah dan Film In the Hand of Dante sama-sama menunjukkan manusia sering membuat keduanya tampak berdampingan. Bukan karena agama mengajarkan kekerasan, melainkan karena manusia terlalu sering mengkhianati ajaran yang mereka yakini sendiri.
Begitulah Sobat Yoursay. Buat kalian yang penasaran dan mau nonton akting dari para mega bintang, bisa langsung cek Netflix. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Menggugat Stigma Panti Jompo dan Makna Berbakti
-
Dendam di Era Digital: Bagaimana Cape Fear Menggambarkan Hancurnya Reputasi dengan Satu Unggahan
-
Voicemails for Isabelle: Sulitnya Melepas Orang yang Telah Tiada
-
Bukan Sekadar Superhero: Sisi Gelap Spider-Noir yang Menampar Realita
-
Dukun Magang: Mengapa Horor Komedi Jadi Formula Paling 'Nagih' di Bioskop Indonesia?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Menggugat Stigma Panti Jompo dan Makna Berbakti
-
Drama China Derailment: Penuh Plot Twist Mind Blowing atau Cuma Menjual Visual?
-
Bukan Drama Chaebol Biasa: Mengapa Cinderella at 2 AM Layak Masuk Watchlist Kamu
-
Love on the Brain: Bertemu Cinta di Balik Laboratorium NASA
-
Dibalik Angkernya Tanah Sengketa: Benarkah Terinspirasi dari Tragedi Nyata yang Ditutupi?
Terkini
-
Comeback Sensasional Afrika Selatan: Resmi Lolos 32 Besar Pertama Kalinya
-
Misi Mustahil: Saat Negara Kecil Berpenduduk 500 Ribu Jiwa Siap Guncang Argentina di Piala Dunia
-
Koneksi dan Loyalitas Jadi Jalan Pintas, Apa Kabar Meritokrasi?
-
Pria Jepang Jadi 'Pahlawan' di Stadion, Tapi 'Beban' di Rumah Tangga
-
Stray Kids Wujudkan Semangat dan Ambisi untuk Terus Maju Lewat Lagu Run It