Film Tanah Sengketa, yang tayang perdana di bioskop Indonesia pada 25 Juni 2026, merupakan karya terbaru yang memadukan genre horor, misteri, thriller, dan drama sosial. Disutradarai sekaligus diproduseri oleh Muda Saleh dengan naskah yang ditulis bersama Sadly Fafa Rachman, film ini menawarkan narasi yang mendalam tentang keberanian menghadapi kebenaran di tengah tradisi dan rahasia kelam sebuah desa. Dengan durasi sekitar 92 menit dan keberhasilan menciptakan atmosfer yang mencekam, Tanah Sengketa menjadi salah satu tontonan menarik di paruh pertama tahun 2026.
Teka-Teki Kelam di Balik Angkernya Desa Degong
Cerita berpusat pada Yuni (diperankan oleh Dara The Virgin atau Dara Rizki Ruhiana), seorang mahasiswi idealis yang datang ke Kampung Degong, sekitar 50 kilometer dari Jakarta, untuk melakukan penelitian sekaligus mendirikan Taman Belajar Gratis bagi anak-anak desa. Niat mulia Yuni ini langsung mendapat penolakan dari warga setempat yang tertutup dan penuh kecurigaan terhadap orang luar. Dua tokoh yang paling vokal menentang adalah Pak Kades (Boy Crosby) dan Bu Inem (Dewi Sartika). Mereka secara tegas melarang Yuni mendekati sebuah tanah lapang yang dianggap angker.
Meski demikian, Yuni tetap melanjutkan usahanya. Bersama Raka (Awan Reyhan), pemuda desa yang perlahan terbuka hatinya, Yuni mulai mengalami serangkaian kejadian supranatural yang makin intens. Muncul tulisan misterius, gangguan gaib, dan penampakan sosok perempuan bernama Sulastri (Marlene Sheryl) yang terus menghantui. Pencarian mereka membawa pada penemuan dokumen lama dan liontin tua yang mengungkap tabir masa lalu desa. Tanah tersebut bukan sekadar lokasi angker, melainkan saksi bisu dari sebuah peristiwa kriminal besar yang sengaja ditutupi selama bertahun-tahun.
Ulasan Film Tanah Sengketa
Film ini unggul dalam membangun ketegangan secara bertahap. Sutradara Muda Saleh berhasil menciptakan atmosfer desa yang sunyi tetapi penuh ancaman, di mana setiap sudut rumah kayu, pepohonan, dan tanah lapang menjadi elemen visual yang mendukung cerita. Sinematografi oleh Marno Jawir menangkap keindahan alam pedesaan sekaligus nuansa gelap dan claustrophobic pada adegan-adegan malam. Penggunaan suara ambient dan scoring minimalis makin memperkuat rasa tidak nyaman aku dan penonton yang ada di bioskop.
Dari sisi akting, Dara The Virgin memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai Yuni, seorang perempuan muda penuh semangat yang bertransformasi menjadi sosok tangguh saat menghadapi teror. Chemistry antara Dara dan Awan Reyhan terasa natural, memberikan sentuhan emosional di tengah elemen horor. Pemeran pendukung seperti Mita The Virgin, Boy Crosby, dan Dewi Sartika juga memberikan kontribusi kuat dalam membangun konflik sosial dan ketegangan antarkarakter. Marlene Sheryl sebagai Sulastri berhasil menciptakan kehadiran yang haunting meski minim dialog.
Salah satu adegan paling menyentuh terjadi di tengah film, ketika Yuni berinteraksi dengan anak-anak desa di Taman Belajar sementara. Di saat Yuni sedang mengajarkan huruf dan cerita sederhana, salah seorang anak perempuan kecil menceritakan mimpi buruknya tentang "ibu yang menangis di tanah lapang". Yuni, yang awalnya fokus pada misi pendidikannya, mulai menyadari bahwa trauma kolektif desa telah merembes hingga generasi muda. Adegan ini diperkuat dengan close-up wajah Yuni yang penuh empati, diiringi latar musik lembut yang kontras dengan horor keseluruhan. Momen ini menyentuh karena menggambarkan bagaimana ketidakadilan masa lalu memengaruhi masa depan anak-anak, sekaligus menunjukkan dedikasi Yuni yang tulus. Aku pun merasakan campuran haru dan keprihatinan, mengingatkan pada pentingnya pendidikan dan keberanian membongkar kebenaran demi generasi mendatang.
Adegan yang paling kuingat setelah menonton filmnya adalah klimaks pengungkapan rahasia di tanah sengketa pada malam puncak. Tanpa membocorkan detail pentingnya, adegan ini menggabungkan elemen visual supranatural yang kuat dengan konfrontasi emosional antara Yuni, Raka, dan tokoh-tokoh desa. Penampakan Sulastri yang makin nyata, dikombinasikan dengan dialog yang mengungkap motif di balik kejahatan lama, menciptakan ketegangan puncak yang sulit dilupakan. Visual hujan deras, kilatan petir, dan bayangan-bayangan yang bergerak di tanah lapang membuat adegan ini begitu sinematik dan mencekam. Kalau boleh jujur, aku sampai terngiang-ngiang rasa dingin dan rasa keadilan yang tertunda, sekaligus pertanyaan moral tentang apakah mengungkap kebenaran selalu sepadan dengan risikonya.
Pada akhirnya, Tanah Sengketa berhasil menyeimbangkan antara elemen hiburan horor dengan pesan sosial yang relevan tentang ketidakadilan, kuasa, dan warisan masa lalu. Film ini bukan horor jump-scare semata, melainkan misteri yang mengajakku berpikir. Beberapa kelemahan mungkin terletak pada pacing di bagian awal yang agak lambat, serta beberapa trope horor klasik yang sudah familier. Akan tetapi, kekuatan cerita dan akting utama mengompensasi hal tersebut.
Dengan tayang serentak mulai 25 Juni 2026 di seluruh bioskop Indonesia, film ini aku rekomendasikan buat kamu pencinta genre horor misteri yang mencari cerita bermakna. Tanah Sengketa membuktikan bahwa sinema Indonesia terus berkembang dalam menyajikan narasi lokal yang kaya dengan kualitas produksi yang kompetitif. Buat kamu yang sudah menonton, film ini akan meninggalkan kesan mendalam tentang bagaimana tanah bukan hanya milik fisik, melainkan juga penyimpan ingatan dan keadilan yang harus diperjuangkan.
Rating pribadi: 8,3/10.
Baca Juga
-
Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Misteri Ritual Kuno yang Mencekam!
-
Ulasan Film Supergirl: Sinema Kosmis yang Megah, Sunyi, dan Mendalam
-
Ulasan Film Tanah Runtuh: Tragedi Kemanusiaan Poso yang Menguras Air Mata
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Ego Anak, Penyesalan, dan Air Mata di Panti Jompo
-
Seni Menganyam Horor Gotik: Menyelami Jiwa Kreatif di Film I Am Frankelda
Artikel Terkait
-
Cerita Fajar Nugra Ubah Penampilan demi Film Pemikat Jiwa
-
Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Misteri Ritual Kuno yang Mencekam!
-
Voicemails for Isabelle: Sulitnya Melepas Orang yang Telah Tiada
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Ego Anak, Penyesalan, dan Air Mata di Panti Jompo
-
Dukun Magang: Mengapa Horor Komedi Jadi Formula Paling 'Nagih' di Bioskop Indonesia?
Ulasan
-
Dendam di Era Digital: Bagaimana Cape Fear Menggambarkan Hancurnya Reputasi dengan Satu Unggahan
-
Ulasan Law and The City: Drama Hukum dengan Nuansa Healing yang Hangat
-
Voicemails for Isabelle: Sulitnya Melepas Orang yang Telah Tiada
-
Toy Story 5 Angkat Fenomena Screen Time Addiction pada Anak-Anak
-
Mohammad Hatta: Potret Kesederhanaan dan Integritas Sang Proklamator
Terkini
-
Cup Plastik di Meja Anda: Boleh Ditinggal atau Harus Dibuang Sendiri?
-
Tak Lagi Asal Jalan: Standar Keamanan Jip Bromo Akan Segera Diperketat
-
Portugal vs Kolombia: Laju Os Navegadores di Tangan Suasana Hati Bruno Fernandes
-
Dolar AS Menguat, Haruskah Kita Mulai Mengencangkan Ikat Pinggang Sekarang?
-
Runtuhnya Republik Marilah Cerita Sebelum Fajar Tiba