Hikmawan Firdaus | Fikri
Poster Film Syekh Yusuf: Ziarah Panjang Sang Sufi.(Dok. Pribadi/Fikri Amra)
Fikri

Ada yang selalu membuat saya berhenti sejenak setiap kali mendengar nama Syekh Yusuf al-Makassari disebut: ia adalah tokoh yang begitu besar hingga dua benua mengklaimnya sebagai pahlawan, namun sepertinya sedikit ‘asing’ di telinga generasi muda bangsanya sendiri. 

Film dokumenter Syekh Yusuf: Ziarah Panjang Sang Sufi karya Hasrul Hendrawan memulai ceritanya tepat dari celah ironis ini — dari seorang pemuda bernama Arif yang berziarah ke makam sang syekh di Gowa, Sulawesi Selatan, sambil merefleksikan bahwa kisah agung ini nyaris tak banyak yang tahu lebih dalam. Ziarah itu menjadi metafora yang meresap ke seluruh tubuh film: bahwa menonton dokumenter ini pun sejatinya adalah sebuah perjalanan menghidupkan kembali nama besar yang nyaris terlupakan.

Hendrawan memilih pendekatan mode ekspositori — gaya talking head yang mengandalkan narasumber berbicara ke kamera, diikat narasi voiceover dan footage visual pendamping. Ini adalah pendekatan yang ‘aman’ namun tak selalu menggetarkan, dan dilema itu sepanjang tontonan terus bergelayut. Namun film ini punya sejumlah keputusan yang menyelamatkannya. Perpindahan lokasi dari Gowa ke Cape Town, Afrika Selatan, adalah keberanian naratif yang menegaskan bahwa kisah Syekh Yusuf bukan milik satu tanah saja. Ketika kamera merekam makam sang sufi di Signal Hill, Cape Town, ada sesuatu yang menghantam dada penonton: betapa jauhnya langkah kaki seorang manusia yang hanya ingin berjalan di jalan yang lurus.

Perjalanan Panjang Sang Sufi

Film membawa kita ke asal-usul Syekh Yusuf dengan metafora “bumi dan langit”: lahir dari darah bangsawan di Istana Tallo, Gowa, pada 3 Juli 1626, dengan nama Muhammad Yusuf. Prof. Mukhlis Paeni menegaskan bahwa Syekh Yusuf bukan sosok tradisional yang kaku, melainkan intelektual kosmopolit abad ke-17 yang bergerak lintas benua dan menguasai berbagai tradisi tarekat sekaligus.

Dari Gowa ia dididik oleh Daeng Ri Tasammang, lalu melanjutkan ke Cikoang, Banten, dan Aceh — di mana ia menerima ijazah Tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin ar-Raniri. Perjalanan berlanjut ke Yaman, lalu Mekah dan Madinah, di mana ia berguru kepada Syekh Ibrahim al-Kurani dan menerima ijazah Tarekat Syattariyah. Kemudian, dari Damaskus sampai ke Anatolia, di mana ia akhirnya memperoleh gelar Tajj al-Khalwatiy Hadiyatullah — Mahkota Khalwatiyah Hadiah dari Allah. Lebih dari dua puluh tahun ia mengembara, tanpa sekali pun mendirikan aliran atas namanya sendiri.

Ketika kembali ke Nusantara, Makassar telah jatuh ke tangan VOC melalui Perjanjian Bongaya. Banten menjadi tanah baru, dan Sultan Ageng Tirtayasa mengangkatnya sebagai Kadi Kesultanan. Namun pengkhianatan Sultan Haji yang berkomplot dengan VOC menghancurkan segalanya. Syekh Yusuf memimpin gerilya bersama Pangeran Purbaya sebelum akhirnya tertangkap pada 1683 dan diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka), lalu pada 1694 ke Cape Town, Afrika Selatan.

Di Cape Town inilah babak paling berkesan dalam film ini. Di antara para budak dan tahanan di Zandvliet — kini dikenal sebagai Macassar, nama yang diabadikan komunitas setempat sebagai penghormatan — Syekh Yusuf mengajar dan menanamkan bahwa warna kulit tak membedakan manusia di hadapan Tuhan. Tiga abad kemudian, Nelson Mandela merujuk pada warisan Syekh Yusuf sebagai inspirasi perjuangan anti-apartheid, menyebutnya “salah seorang putra terbaik Afrika.” Pada 2005, Syekh Yusuf resmi menjadi Pahlawan Nasional Afrika Selatan — menjadikannya salah satu figur paling langka dalam sejarah: seseorang yang secara simultan berstatus pahlawan nasional dua negara berdaulat yang berbeda.

Membaca Film dalam Lensa Hubungan Internasional

Sebagai pembelajar ilmu hubungan internasional, menonton film ini adalah pertemuan tak terduga dengan figur yang seharusnya sudah lama masuk dalam silabus diplomasi pra-modern. Perjalanan panjang Syekh Yusuf dari Gowa hingga Anatolia bukan sekadar rihlah ilmiah, melainkan sebuah praktik multi-track diplomacy yang belum pernah diberi nama di zamannya. Jaringan ulama Haramain abad ke-17 yang tergambar dalam film — Qusyashi, Ibrahim al-Kurani, al-Khalwati — adalah preseden historis paling kuat dari Track II Diplomacy, yakni jalur diplomatik informal yang melibatkan aktor non-negara, jauh sebelum istilah itu dilahirkan Joseph Montville pada 1981.

Keputusan VOC mengasingkan Syekh Yusuf ke Cape Town adalah contoh awal dari coercive containment — upaya memutus jaringan pengaruh melalui isolasi geografis yang diperhitungkan. Pengasingan pertama ke Ceylon gagal karena jaringan jamaah haji tetap aktif. VOC salah berhitung dalam satu hal fundamental: mereka berpikir dalam logika teritorial Westphalian, bahwa kekuasaan seseorang terikat pada batas geografis. Syekh Yusuf beroperasi dalam logika yang berbeda — logika trust-based transnational network yang tidak mengenal batas negara. Semakin jauh ia dibuang, semakin luas jangkauan pengaruhnya.

Komunitas Muslim Cape Town yang menyebut dirinya “Cape Malay” dan mengabadikan nama “Macassar” adalah aset diaspora diplomacy yang luar biasa namun tampaknya belum dikapitalisasi secara optimal oleh Indonesia. Dalam kerangka konstruktivisme Wendt, Mandela tidak menyebut Syekh Yusuf secara kebetulan — ia sedang mengonstruksi identitas Afrika Selatan pasca-apartheid sebagai bangsa yang mewarisi tradisi perlawanan anti-kolonial lintas ras dan agama.

Film ini juga perlu dibaca sebagai teks public diplomacy. Dalam kerangka soft power Joseph Nye, narasi Syekh Yusuf adalah narasi yang jarang dimiliki negara manapun: simbol keilmuan Islam internasional, pejuang anti-kolonialisme, dan pelopor dialog lintas budaya di tiga benua. Pertanyaan yang paling relevan: apakah film ini akan diputar di Cape Town? Apakah Kedutaan Besar Indonesia di Pretoria menjadikannya bagian dari program diplomasi budaya? Jika tidak, Indonesia sedang membiarkan salah satu modal diplomatik terkuatnya terbengkalai.

Syekh Yusuf: Ziarah Panjang Sang Sufi mungkin belum menjadi film dokumenter yang sempurna secara sinematik, tapi ia adalah karya yang tepat, pada waktu yang tepat, tentang tokoh yang sudah terlalu lama menunggu untuk dikunjungi kembali. Film ini layak ditonton, didiskusikan, dan dilanjutkan oleh generasi pembuat film berikutnya dengan bahasa sinema yang lebih berani.

Baca Juga