Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Cover Buku A Rose for Emily (Amazon)
Ken Hitana

A Rose for Emily cukup populer di kalangan pencinta sastra klasik karena dinamika psikologis karakter utamanya, Emily Grierson, yang cukup ekstrem. Cerita yang ditulis oleh William Faulkner dan terbit pada 1930 ini terdiri dari 36 halaman yang membuatnya tergolong ke dalam cerita pendek atau cerpen.

Cerita berpusat pada kehidupan sosial Emily pada saat itu dan bagaimana kondisi psikologisnya saat menghadapi masalah di depannya yang cukup kompleks. Perlu diingat, kondisi Emily dalam cerita bukan diagnosis medis, melainkan interpretasi berdasarkan perilaku dan pengalaman yang digambarkan dalam teks. Penasaran? Simak 4 indikasi gangguan mental yang dialami Emily dalam A Rose for Emily!

1. Trauma dengan Pola Asuh yang Mengekang

ilustrasi ibu dan anak (unsplash/Vitaly Gariev)

Di awal cerita, Emily dikisahkan tinggal bersama ayahnya, Mr. Grierson, dengan kondisi perekonomian menengah ke atas. Karenanya, ayah Emily tidak mengizinkan Emily untuk bergaul dengan sembarang orang. Emily tumbuh menjadi pribadi penyendiri yang hanya berinteraksi dengan ayahnya karena kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan sosial. Hanya berkutat pada kehidupan di sekitar rumah dan ayahnya, Emily mengalami ketergantungan emosional dengannya.

Puncaknya ketika ayahnya meninggal dunia, Emily menyendiri dan mengurung diri di rumahnya. Ia kesulitan untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya dilakukan oleh ayahnya. Kehidupannya seakan runtuh karena ia tak punya tempat bergantung lagi. Pola asuh yang penuh kontrol membuatnya tak punya kendali atas dirinya sendiri.

2. Kesulitan Menerima Kenyataan

ilustrasi orang sedang merenung (unsplash/Abigail)

Setelah ayahnya meninggal, Emily menolak mengakui kenyataan tersebut dan bahkan tidak mengizinkan jenazahnya dimakamkan selama beberapa hari. Reaksi ini menunjukkan proses berduka yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dan menjadi salah satu momen paling mencolok dalam cerita.

Dalam psikologi, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan complicated grief atau duka yang berkepanjangan, yaitu ketika seseorang mengalami kesulitan melepaskan kehilangan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Meski Emily tidak dapat didiagnosis secara pasti karena merupakan tokoh fiksi, perilakunya menunjukkan adanya keterikatan emosional yang sangat kuat sehingga ia sulit menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya telah tiada.

3. Isolasi Diri Berkepanjangan dari Kehidupan Sosial

ilustrasi orang kesepian (unsplash/Anthony Tran)

Sepeninggal ayahnya, Emily semakin menjauh dari kehidupan masyarakat di kotanya. Ia jarang berinteraksi dengan warga, menutup diri dari lingkungan sekitar, dan menghabiskan sebagian besar waktunya seorang diri di rumah tua peninggalan keluarganya.

Kehidupan yang serba tertutup ini membuat Emily perlahan kehilangan hubungan sosial yang dapat menjadi sumber dukungan emosional. Dalam kajian psikologi, isolasi sosial yang berlangsung dalam waktu lama dapat memperburuk kondisi mental seseorang, terutama jika disertai trauma kehilangan seseorang terdekat.

4. Obsesi Berlebihan hingga Menghalalkan Segala Cara

ilustrasi botol kecil (unsplash/Denise Chan)

Di pertengahan cerita, Emily jatuh hati dengan seorang pemuda kota bernama Homer Barron. Namun, lambat laun diketahui jika cinta Emily ini bertepuk sebelah tangan. Tak mungkin berbalas, Emily melakukan hal yang ekstrem yang memaksa Homer bisa bersanding dengannya. Hal ini rupanya bukan tanpa sebab, trauma kehilangan ayahnya membuatnya takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. 

Ia memutuskan untuk membeli sebotol racun tikus dan memberikan minuman yang sudah dioplos kepada Homer. Emily juga mengawetkan jasad Homer dan menyimpannya di kamar yang sudah di-setting sedemikian rupa seperti kamar pengantin. Ia menganggap dengan cara ini, ia bisa selamanya bersama dengan orang yang dicintainya.

Emily Grierson merupakan salah satu tokoh sastra klasik yang paling kompleks untuk dianalisis dari sisi psikologis. Berbagai pengalaman hidupnya, mulai dari pola asuh yang mengekang, kehilangan orang terdekat, hingga isolasi sosial, membentuk karakter yang penuh luka dan kontradiksi. Sudah pernah baca?