M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
Poster Boboiboy Movie 2 (IMDb)
Tika Maya Sari

Sebagai penggemar animasi Boboiboy karena sudah mengikuti dari musim pertama dulu, aku selalu menunggu upgrade skill dan kuasanya yang menggelegar.

Kupikir, Animonsta Studio sudah puas diri dengan tiga musim reguler, Boboiboy The Movie, dan musim baru bertajuk Galaxy Musim 1. Namun, Anas Abdul Aziz bersama Nizam Razak masih enggan menuntaskan petualangan, hingga lahirlah Boboiboy Movie 2, yang menjanjikan gabungan fusion elemental terbaru Boboiboy.

Melansir IMDb, Boboiboy Movie 2 adalah film animasi berdurasi 110 menit besutan sutradara Nizam Razak dan Dzubir Mohammed Zakaria. Story-nya masih ditulis oleh Nizam Razak bersama Anas Abdul Aziz dengan napas petualangan antargalaksi, dan digarap oleh Animonsta Studio. Film ini semula rilis lewat saluran TV3 pada 8 Agustus 2019. Namun, sekarang bisa kok ditonton lewat channel YouTube Monsta.

Cuti di Bumi, Eh Malah Harus Bertempur dengan Ancient Rival

Film ini menyajikan kisah Boboiboy dan kawan-kawan yang akhirnya mendapatkan cuti dari Komandan Koko Ci setelah tiga bulan bertugas, dan misi terakhirnya adalah mencari Eggabot—satu power sphera yang dalam pelukan Raksasa Penguin. Baru juga sejenak menginjakkan kaki di bumi, Komandan Koko Ci mengirimkan sinyal darurat bahwa stasiun luar angkasa TAPOPS diserang. Sang komandan kemudian meminta mereka untuk pergi ke Planet Quebec untuk misi berikutnya.

Alih-alih menuruti perintah, Boboiboy justru meminta Ochobot untuk membuka portal teleportasi ke stasiun TAPOPS, hanya untuk berhadapan dengan marabahaya besar. Di sana, Komandan Koko Ci hingga Laksamana Tarung berhasil dilumpuhkan oleh sosok beringas bernama Retak’ka.

Sosok itu berhasil menyedot kekuatan elemental alam dari Boboiboy, sebelum mereka berhasil kabur ke Planet Quebec. Namun, Retak’ka mengejar mereka demi menguasai jam kuasa, ketika segala misteri dan tekad bulat Boboiboy kembali menunjukkan taringnya di bawah asuhan Tok Kasa. Mampukah dia membangkitkan fusion baru demi mengalahkan Retak’ka? Atau, akankah dia musnah dengan mudah?

Visualisasi Kian Matang dan Pilihan Lanskap Lokasi Bak Bumi Kedua

Oke, aku bakal mengakui bahwa film ini adalah masterpiece dari Animonsta, bahkan melebihi ekspektasiku pada film pertamanya. Visual animasinya mengalami peningkatan pesat, dan penempatan komposisi warnanya stabil kendati aku agak kurang sreg dengan visualisasi Tok Aba yang agak aneh.

Walau intisarinya masih sama bahkan berkaitan, dengan plot makin berkembang dan villain kian beragam. Yang membuatku takjub adalah betapa Animonsta berhasil menyuguhkan lanskap Planet Quebec yang cantik. Lokasinya serupa dengan bumi, lengkap dengan hutan heterogen dan air terjun yang nyata banget. Pun penduduknya yang mirip elf sebagaimana Tok Kasa, dan mirip tanaman seperti rakyat jamur, dan pohon bak-bak, seolah negeri dongeng.

Kemudian dari sisi upgrade skill seperti yang dijanjikan studio, kudapati bahwa visualisasi fusion gabungan Boboiboy betulan menggelegar, yakni kebangkitan Boboiboy Supra. Gabungan elemental Solar dan Halilintar diteriakkan dengan berani, berpadu dengan segel udara hingga tatanan musik menawan dari Yuri Wong. Rasanya, ini jauh lebih berkuasa dan terasa mengintimidasi ketimbang perpecahan elemental di film pertama.

Hero, Villain, dan Pelawak Balik ke Kursi Masing-masing

Selain visual animasinya yang kian matang dan fusion elemental majestic Boboiboy sebagai magnet utama, film kedua ini terasa balik kodrat. Iya, kalau kubandingkan dengan Galaxy musim 1, film ini berhasil mengembalikan porsi dan kursi para tokoh ke tatanan semula.

Boboiboy tentunya sebagai hero utama; Ying, Yaya, Fang, dan Ochobot sebagai hero pendukung; Gopal dan Papa Zola, sebagai pelawak khas. Namun, yang terbaru adalah keberadaan Retak’ka sebagai villain anyar yang digadang sebagai penguasa galaksi dengan kekuatan elemental asal.

Dan yang bikin film ini lebih berwarna lagi, tentu saja kehadiran Adu Du dan Probe dengan karakter uniknya. Antara villain yang selalu kalah, atau rival musiman.

Teruntuk para pengisi suara, tiap-tiap karakter tetap dipegang oleh seiyu lama dengan karakteristik stabil. Nur Fathiah Diaz sebagai Boboiboy, Yap Ee Jean sebagai Ying, Dzubir Mohammed Zakaria sebagai Gopal, Nur Sarah Alisya sebagai Yaya, Wong Wai Kai sebagai Fang, Nizam Razak sebagai Papa Zola, dan Anas Abdul Aziz sebagai Tok Aba, Probe, Adu Du, dan Koko Ci.

Namun, Muhammad Abdurrahman Salahuddin sebagai seiyu Ochobot justru mengalami upgrade nada, sehingga ciri khas robot kuning itu menguar kembali.

Pun Fadzli Mohammad Rawi sebagai seiyu Retak’ka terdengar keji, tetapi tetap berkarisma kendati usianya sudah ratusan tahun. Macam pendekar keabadian gitulah. Eksistensinya kontras dengan Tok Kasa alias Hang Kasa yang menua, dengan suara khas kakek-kakek yang di-seiyu-kan oleh Wong Pak Lin. Meski demikian, nasihat-nasihat bijaknya cukuplah relate bagi makhluk bumi macam aku.

Ini Retak’ka Atau Avatar Aang?

Sejujurnya, Animonsta sempat membuatku ngelag dengan part opening di mana Retak’ka disegel oleh Hang Kasa dalam kristal besar selama 100 tahun. Seketika aku mikir: kok konsepnya macam Avatar: The Legend of Aang?

Kemudian, lagi-lagi aku mempertanyakan konsistensi galaksi dan logika macam apa yang disetujui?

Berada di luar angkasa otomatis memiliki dilatasi waktu. Namun, ini sepertinya nggak berlaku untuk Hang Kasa. Retak’ka saja masih tampak muda dan gagah, kok Tok Kasa menua bahkan bungkuk?

Lalu, konspirasi keberadaan oksigen dan bahasa lagi-lagi harus ditelan jauh-jauh. Toh namanya juga animasi fiksi dari Malaysia, sudah pasti bahasanya Melayu. Walau aku juga masih mempertanyakan asal-usul para alien cakap berbahasa Melayu dalam universe Animonsta.

Film yang Ngajak Delulu Versi Superhero

Bila dulu aku kerap berkhayal jadi ninja dari desa Konoha sebagai efek menonton Naruto, kini aku jadi sering berkhayal menjadi salah satu anggota TAPOPS. Kendati demikian, kekagumanku terhadap Boboiboy semakin meningkat pesat, terutama gabungan fusion elemental yang makin berwarna. Dalam film ini, elemental Supra sangat menyedot perhatian sih.

Kendati demikian, mengingat adanya beberapa kelogisan yang patut dipertanyakan, sebaiknya film ini ditonton untuk usia 13 tahun ke atas. Walau sebetulnya film ini tetap cocok ditonton oleh semua usia karena plot, komedi, hingga visualisasinya nggak mencolok mata.

Tentunya sebagai penonton setia Boboiboy, aku memberikan nilai 10/10 untuk film ini.

Identitas Film

Judul: Boboiboy Movie 2
Sutradara: Nizam Razak, Dzubir Mohammed Zakaria
Penulis Cerita: Anas Abdul Aziz, Nizam Razak
Rilis: 8 Agustus 2019
Saluran: TV3
Bisa Ditonton lewat: Channel YouTube Monsta
Negara Asal: Malaysia
Bahasa: Bahasa Melayu, Bahasa Inggris (sebagian kecil)
Durasi: 110 menit