Sebagai penyuka genre film petualangan dan aksi, aku cukup senang menonton serialisasi film The Mummy. Namun buatku yang paling mencuri perhatian adalah sekuel ketiga yang bertajuk The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor.
Melansir IMDb, The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor adalah film bergenre aksi, petualangan, dan historical besutan sutradara Rob Cohen yang rilis pada 1 Agustus 2008, dan didistribusikan oleh Universal Studios. Film berdurasi 111 menit ini nggak hanya menyajikan aksi petualangan dramatis dan sedikit tragis, tetapi tetap menyisipkan komedi otentik khas serial The Mummy lainnya. Ditunjang dengan bintang-bintang kenamaan yang terasa dekat dan kian menyemarakkan plot.
Niat Pensiun dari Arkeologi, Malah Ketemu Mumi Tiongkok
Film ini dibuka dengan suatu masa silam di Tiongkok, di mana Kaisar Han berjuluk Kaisar Naga (Jet Li) yang menginginkan keabadian mutlak meminta Jenderal Ming (Russel Wong) untuk menjemput penyihir sakti bernama Zi Yuan (Michelle Yeoh). Namun keduanya justru jatuh cinta sehingga Kaisar Han mengeksekusi Jenderal Ming lantas menguburnya dalam Tembok Raksasa.
Zi Yuan yang murka kemudian mengutuk Kaisar Han beserta seluruh prajuritnya yang berjuluk Prajurit Terakota, sehingga mereka abadi dalam kubur.
Film kemudian mengambil time skip dan setting berbeda di mana pasangan suami istri yang sudah terkenal sebagai penakluk mumi asal Inggris bernama Rick O'Connell (Brendan Fraser) dan Evelyn O’Connell (Maria Bello) yang sudah pensiun dan hidup damai. Namun, pihak pemerintah bermaksud memberikan tugas yakni memulangkan batu Eye of Shangri La kembali ke negeri Tiongkok sebagai wujud perdamaian dan memperkuat hubungan diplomatis.
Berangkatlah mereka ke Tiongkok, hanya untuk mendapati fakta bahwa putra mereka yakni Alex (Luke Ford) tengah mendalami arkeologi untuk menggali situs sejarah Kaisar Han. Semula situasi damai dan terkendali. Namun rekan kerja Alex yakni Roger Wilson (David Calder) justru berkhianat, dan bermaksud membangkitkan kembali Kaisar Han demi ambisi menguasai dunia.
Akankah keluarga O’Connel berhasil menaklukkan sang Kaisar Naga?
Konsep Hubungan Diplomatik Bertahtakan Aktor Kenamaan
Sepanjang nonton film ini, aku lagi-lagi terperangah dengan aksi dan petualangan berlandaskan cerita sejarah yang diseduh napas fantasi. Bila dua serial sebelumnya mengambil background lokasi di Timur Tengah, kali ini pihak produksi terbilang berani kala mengambil sejarah Tiongkok.
Simon Duggan sebagai sinematografer berhasil menyuguhkan nuansa dan vibes ala adventure yang menjadi ciri khas The Mummy. Pun selipan humor-humornya lagi-lagi make sense, kendati beberapa efek CGI tampak sangat fake, terutama kemunculan perdana Yeti.
Eksekusi plot sejarahnya disajikan dengan totalitas, bahkan mengangkat salah satu situs warisan dunia paling terkemuka di China yakni situs makam Kaisar Qin Si Huang dengan bala tentara Terakota yang menjadi dasar utama plot. Pun penggunaan simbol tertentu sebagaimana Kaisar Naga ataupun Shangri La yang memang melekat dengan budaya Negeri Panda tersebut.
Comeback Jet Li dan Michelle Yeoh Sebagai Rival
Aku nggak akan menampik bahwasanya film ini terasa spesial karena kehadiran Jet Li dan Michelle Yeoh setelah belum move on dengan akting mereka dalam Tai Chi Master. Bila di film itu mereka berdua adalah sahabat bergaya platonis, maka disini mereka adalah rival abadi. Alih-alih disuguhkan ala penguasa gila wanita atau macam sad boy, film ini justru menunjukkan sisi gila Kaisar Han yang haus darah, nggak terbantahkan, dan absolut.
Jet Li sebagai Kaisar Han adalah representasi magis terkait tatapan tajamnya, dan tentu saja scene pertarungannya berasa real. Cukup kontras dengan Michelle Yeoh yang kalem tapi tegas dan berani. Ditunjang dengan background ahli beladiri, sehingga gaya pertarungan mereka tampak real dan nggak ampas.
Bukan The Mummy kalau nggak ada Brendan Fraser ya. Bagiku, aktingnya di film ini tetap totalitas baik scene komedi, serius, atau part sedihnya. Seakan-akan karakter Rick O’Connell si arkeolog jenius tuh sudah kadung melekat padanya.
Nah, yang baru adalah kehadiran Maria Bello yang menggeser posisi Rachel Weisz dalam memerankan Evelyn O’Connell. Di awal film, aku memang agak kecewa, sih. Namun, Maria ternyata sukses mengeksekusi peran Evelyn dengan gaya yang lebih kalem, tenang, dan lebih dewasa. Kendati begitu, hal ini nggak serta merta mengubah vibes film kok.
Hal-hal Krusial yang Fatal dalam Film
Aku nggak akan berkomentar tentang Maria Bello yang menggantikan Rachel Weisz atau soal Rick O’Connell yang masih awet muda kendati putranya sudah berusia 21 tahunan, ya. Namun, perhatianku langsung tersorot pada hal-hal krusial seputar inspirasi legenda yang rasanya seolah sengaja absurd.
Pertama, perwujudan naga Jet Li.
Kita sama-sama tahu bahwa naga adalah hewan mitologi yang dipercaya baik di Eropa maupun Asia, dengan perbedaan fisik mencolok. Film ini berusaha menyajikan unsur budaya Tiongkok termasuk keberadaan naga, tapi malah mengadopsi fisik naga Eropa yakni dengan sayap kecil dan empat kaki besar bak mamalia. Padahal konsep naga Asia adalah berfisik ular, bersisik kasar, tanpa sayap, dan empat kaki kecil. Asli nggak masuk akal lah, apalagi Jet Li berdarah China murni. Rasanya macam kesengajaan yang sengaja banget.
Kedua, mantra yang dibaca Michelle Yeoh.
Mengingat plot sejarahnya yang berlatar Tiongkok, otomatis percakapannya menggunakan bahasa Mandarin. Sepanjang film, Jet Li konsisten menggunakan bahasa Mandarin karena berkomunikasi dengan pasukannya. Nah, Michelle Yeoh justru menggunakan English saat melakukan summon pasukan Jenderal Ming yang terkubur di Tembok Raksasa. Like, ini Jenderal Ming orang Eropa kah?
Kenapa sih nggak pakai Bahasa Mandarin mengingat plot dan legendanya?
Aku nggak tahu apakah maksud pihak produksi untuk memudahkan penonton atau kurang riset ya, tapi bagiku ini fatal banget. Plot krusial yang tadinya berasa majestic ujug-ujug kena efek nggak masuk akal dan plot twist. Padahal aktor dan aktris yang bersangkutan tuh adalah aktor kawakan berdarah China murni yang sudah membintangi ratusan film-film China lawas.
Adventure Disisipi Komedi, dan Romance Tipis
Karena dasarnya adalah film petualangan, sudah pasti The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor berisi scene-scene petualangan, aksi-aksi, dan pertarungan ala fantasi. Kendati begitu, masih ada sisi romansanya kok. Walau memang sisi romansa inipun lagi-lagi disisipi komedi yang khas.
Sisi romansa film ini sebetulnya light dan berperan sebagai pemanis plot. Namun, scene yang disuguhkan terkesan berani mengingat perbedaan kultur budaya dan norma sosial antara negara kita dan negara asal.
Oleh karenanya, film ini lebih baik ditonton untuk usia 16 atau 17 tahun ke atas, ya. After all, secara keseluruhan aku memberikan nilai 8/10 untuk The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor.
Identitas Film
- Judul: The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor
- Sutradara: Rob Cohen
- Genre: Petualangan, aksi, fantasi, komedi
- Rilis: 1 Agustus 2008
- Distributor: Universal Studio
- Platform: Netflix, Prime Video
- Negara Asal: Amerika Serikat
- Bahasa: Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin
- Durasi: 111 menit
Baca Juga
-
Nama Sederhana Bukan Aib, Melainkan Satu Privilege yang Mempermudah Hidup
-
Kuyang yang Mendiami Jembatan Bambu Lawas
-
Kimi Ni Todoke: Pentingnya Dukungan dan Lingkungan Sehat bagi Introvert
-
Harimau Galak Pensiun Jadi Penjual Kue? Intip Menggemaskannya 'Mr. Tigers Snacks'
-
Menabung di Zaman Edan: Antara Pilihan Hidup dan Tuntutan Perut
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Enola Holmes: Pemberontakan Perempuan di Tengah Norma Sosial
-
Ulasan Cold Blooded Intern: Dilema Perempuan antara Karier dan Keluarga
-
Film Pendek Singsot, dari Mitos Menjadi Mimpi Buruk
-
Cengkeraman Penjajah dan Cita-cita Seni: Konflik Batin Pangeran dari Timur
-
Review Film Tuner: Thriller yang Menyeimbangkan Drama dan Aksi Kriminal!
Terkini
-
Bukan Kebetulan? 3 Alasan Mengapa Ramalan The Simpsons soal Final Piala Dunia 2026 Masih On The Way!
-
Viral! Momen Kocak Lionel Messi Tertawa Ngakak saat Diperiksa Petugas Bandara
-
Lagu 'Lalaki Langit' Bupati Purwakarta, Potret Seksisme yang Dinormalisasi
-
Catat! Ini 6 Barang yang Wajib Kamu Bawa saat Liburan Musim Panas
-
Yang Perlu Dikampanyekan Adalah Kesiapan Finansial, Bukan Penghinaan