M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi bermain layang-layang (Unsplash/Jainil Patel)
Tika Maya Sari

Pernah menonton kompetisi layang-layang? Atau mungkin kawan-kawan adalah senior sekaligus alumni pro layang-layang?

Layang-layang sejatinya adalah mainan dari kertas yang memiliki rangka dan diterbangkan dengan tali atau benang melansir dari KBBI. Mainan ini sendiri masih diminati hingga sekarang, bahkan bisa menjadi ajang perlombaan di beberapa daerah. Namun, tahukah kamu kalau layang-layang adalah alibi bapak-bapak dalam menuntaskan hobi dan inner child-nya?

Panen Tebu adalah Sinyal Masa Permainan

Mengamati situasi panen tebu raya di daerahku yang ditandai oleh truk-truk tebu yang berseliweran di jalanan, aku langsung membaca tanda-tanda masa permainan layang-layang dimulai. Sebab, musim kemarau bakal identik dengan pergerakan angin yang kencang. Ditambah dengan beberapa anak-anak yang mulai membeli bahan untuk layang-layang, entah kertas, lem, bahkan untuk skala layangan gapangan mereka bakal membeli kabel, lampu led, hingga dinamo.

Di daerahku, kebun tebu yang baru saja panen otomatis menjadi tempat untuk mengudarakan layang-layang. Walau lokasi lain yang diminati adalah lapangan sih. Maka, ada banyak anak-anak yang berkelana pada siang hari sambil membawa layang-layang.

Kalau jenisnya adalah layang-layang biasa, umumnya menggunakan benang nilon kecil dengan ekor layangan yang panjang bahkan gulungan kertasnya besar.

Kalau berjenis layangan gapangan, sudahlah diameternya yang bisa 4 meteran, benang nilon besar atau bahkan tambang kecil, detail tambahan berupa lampu led warna-warni, hingga keberadaan sendaren yang bisa mengeluarkan bunyi dengungan atau siulan. Sendaren sendiri terbuat dari pita atau senar ya.

Maka nggak heran kalau di malam hari nyala gapangan bakal bersisian dengan bintang-bintang.

Layang-layang adalah Alibi Kuat Bapak-Bapak

Kendati layang-layang adalah permainan yang lekat dengan anak-anak, tetapi ada peran bapak-bapak di balik layarnya. Kawan-kawan mungkin pernah mendengar istilah ‘lelaki adalah anak-anak berbadan besar’? Yah begitulah kiranya.

Dalam era layang-layang tepatnya di musim kemarau, bapak-bapak adalah donatur sekaligus arsitek desain yang handal. Sudahlah mereka rela menggelontorkan dana buat membeli barang-barang, mereka juga lihai merakit hingga menerbangkan layang-layang dengan dalih mengajari anak.

Terutama bapak-bapak yang memiliki anak laki-laki, wah kian kuatlah alibinya kendati sebenarnya untuk kepuasan personal. Layang-layang nggak hanya membuat anaknya takjub dan mau belajar, tetapi juga berhasil menuntaskan inner child bapak dan hobi yang nggak lekang oleh jaman.

Mengapa aku bisa berkata demikian?

Sebab bapakku sangat excited saat harus mengajak para adik laki-lakiku siang-siang guna menerbangkan layang-layang. Bapaklah yang paling excited, bahkan saat mendesain layangan besar sebagai indukan, dan tiga layangan kecil di bawahnya sebagai anakan. Entah bagaimana beliau mengatur tali kocinya.

Hobi yang Menuntut Pikiran dan Strategi

Kuakui, aku cukup senang diajak ikut menerbangkan layang-layang walau hanya sebagai pemegang benang saja. Mengingat aku nggak bisa mengukur daya lenting rangka bambu, atau perhitungan keringanan layangan supaya stabil mengudara.

Namun, aku selalu salut pada anak-anak atau bahkan kaum bapak-bapak yang sukses menerbangkan layang-layang dengan stabil. Dalam artian mampu memperhitungkan laju angin dengan ketebalan benang nilon, sampai memikirkan kelenturan rangka bambu. Sekilas memang gampang, tapi suhu tetaplah suhu.

Dalam permainannya pun kita dituntut untuk adu strategi apalagi kalau diajak bertarung di udara. Ada beberapa kawan yang hobi memutuskan benang layangan kita dengan menggunakan benang nilon tajam, belum lagi kelajuan angin, hingga hujan yang tiba-tiba. Kita harus segera cepat menggulung benang supaya layangan turun, atau segera mengejar layangan yang putus mengingat ada banyak orang yang juga mengejarnya.

Alhasil, layang-layang bukan cuma soal hobi dan kesenangan semata, melainkan adu pikiran.

Pun dari sisi hiburan dan sosial, layang-layang adalah pelepas stress sekaligus sarana mencari teman baru. Nggak jarang kita bisa bertemu dan berkenalan dengan anak-anak kampung sebelah.

Sisi Negatif yang Nggak Bisa Ditampik

Kendati layang-layang adalah permainan tradisional yang nostalgia sekaligus alibi bapak-bapak, tetapi ada banyak kasus nggak bertanggung jawab yang terjadi.

Pernah ada kejadian mati listrik gara-gara layang-layang nyangkut di kabel listrik. Ada juga kasus pengendara motor terjerat benang nilon layangan. Pun kejadian anak hilang saat mengejar layangan putus.

Di desa sebelahku pernah ada kasus mati listrik selama beberapa hari karena kasus layang-layang ini. Pun saat pihak PLN mencoba mengorek informasi, nggak ada siapapun yang mengakui. Alhasil, listrik padam cukup lama.

Layang-layang adalah Hobi, Bukan Egoisme yang Wajib Dituruti

Sejatinya, layang-layang adalah hiburan pelepas stress tetapi tetap harus ada batasan. Jangan bermain di dekat kabel listrik dan jalan. Usahakan juga berada di dekat kawasan layangan terbang, supaya kalau layanganmu turun dan jatuh kamu bisa segera mengevakuasinya.

Hal ini wajib ya, sebab kadang karena satu dan banyak hal, layangan yang terbang di malam hari tiba-tiba turun. Alhasil, benang panjang bisa berserakan atau bahkan justru membentang di jalan yang bisa mencederai pengguna jalan.

Sudah seharusnya para penerbang layang-layang selalu bijak dan nggak egois ya. Demi kenyamanan masyarakat juga lho.

After all, kapan kawan-kawan terakhir main layang-layang sebelum dihantam dunia kerja yang keras ini?