M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Ilustrasi AI Anak Kos Perantau (Gemini)
Chairun Nisa

Menjadi anak kos kerap menjadi fase yang dinantikan oleh sebagian orang. Kebanyakan dari kita membayangkan betapa menyenangkannya menikmati kehidupan dewasa yang bebas dari aturan rumah. Tidak ada lagi omelan jika bangun lewat tengah hari, keharusan membereskan setumpuk pekerjaan rumah, atau kewajiban menjaga adik. Kita juga terbebas dari aturan jam malam maupun konflik perbedaan pendapat dengan orang tua.

Bagi Generasi Z yang sedang haus menikmati masa muda, entah untuk sekadar nongkrong di tempat hits atau liburan bersama sahabat, aturan-aturan tersebut sering kali terasa mengekang. Oleh karena itu, memilih perguruan tinggi di luar kota seolah menjadi peluang emas untuk "kabur". Kita meyakini bahwa hidup sebagai anak kos akan membuka pintu bagi pengalaman-pengalaman yang selama ini tertahan.

Ekspektasi Kebebasan di Tanah Rantau

Namun, apakah merantau benar-benar menjanjikan kebebasan mutlak, atau justru menjadi gerbang menuju kehidupan dewasa yang keras?

Bagi mereka yang dibesarkan oleh orang tua yang ketat (strict), pulang larut malam atau bangun siang tanpa omelan adalah sebuah kemewahan. Kita membayangkan bisa mengambil keputusan sendiri, berbelanja sesuka hati, dan tidur kapan saja tanpa dibayangi beban pekerjaan rumah.

Menghadapi Realita Pahit Anak Kos

Kenyataannya, kebebasan itu datang sepaket dengan tanggung jawab besar. Menjadi mahasiswa rantau adalah simulasi kehidupan dewasa yang tak kenal kompromi. Semuanya mendadak harus ditanggung sendiri.

Jika begadang dan kesiangan, kita akan terlambat masuk kelas. Terlalu asyik berkegiatan sampai lupa makan, ancamannya adalah jatuh sakit. Hal-hal yang dulu serba diurus oleh orang tua, kini harus kita kerjakan dengan tangan sendiri.

Belum lagi urusan perut. Kita dituntut memutar otak agar tetap bisa makan kenyang tanpa menguras isi dompet. Sering kali, gizi tak lagi menjadi prioritas utama. Mengulang menu makanan yang sama setiap hari demi bertahan hidup hingga akhir bulan adalah hal lumrah agar uang saku tidak jebol di tengah jalan.

Lebih menyakitkan lagi, euforia kebebasan itu akan runtuh seketika saat sepi melanda. Kerinduan akan rumah (homesick) kerap datang tanpa diundang. Kesepian, sedih tanpa alasan, hingga tangis yang pecah tiba-tiba membuat kehidupan di tanah rantau terasa begitu berat.

Kilas Balik: Sebuah Pelajaran Bertahan Hidup

Berdasarkan pengalaman personal saya, euforia kebebasan saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah rantau ternyata tidak bertahan lama. Secara mental, saya belum sepenuhnya siap menghadapi kerasnya dinamika anak kos. Saya sering menangis merindukan rumah karena kaget harus mengurus segalanya sendiri. Berada di lingkungan yang sunyi dengan bahasa daerah yang tidak saya pahami sempat membuat saya ingin menyerah.

Titik terendah biasanya datang saat jatuh sakit. Jika dulu ada tangan telaten orang tua yang merawat, kini saya harus tertatih berobat sendiri dalam kondisi tak berdaya.

Kejadian-kejadian di luar kendali pun kerap terjadi silih berganti. Saya pernah mendapati kamar kos bocor parah saat badai melanda. Nahasnya, titik bocor itu tepat berada di atas meja belajar. Laptop saya habis diguyur hujan karena saat itu saya sedang berada di luar.

Pada akhirnya, menjadi anak kos memaksa saya belajar tentang seni bertahan hidup. Kita tidak bisa terus-terusan santai karena kenyataan kerap tak sejalan dengan harapan. Dari semua lika-liku di perantauan, saya menyadari satu hal: merantau adalah kelas kehidupan yang tak tergantikan. Di sanalah mental kita ditempa untuk tetap tangguh, sekeras apa pun badai yang datang menerjang.

Nah, dengan naskah yang lebih rapi ini, apakah kamu ingin menyisipkan ulasan tambahan kepada intern-mu tentang cara ia menemukan angle cerita ke depannya?