“Katanya sih teman, tapi datangnya cuma pas butuh doang.”
Familiar dengan kalimat itu, Sobat Yoursay? Kalimat seperti itu rasanya sudah tidak asing lagi ketika membahas soal pertemanan. Tidak sedikit orang yang menganggap teman yang hanya muncul ketika butuh bantuan adalah teman yang toksik. Namun, seiring bertambahnya usia, saya semakin menyadari bahwa pola komunikasi dalam pertemanan memang bisa mengalami perubahan seiring waktu.
Ketika masih sekolah atau kuliah, kita mungkin memiliki kesempatan untuk berinteraksi lebih intens dan mengobrol dengan teman-teman tanpa alasan tertentu. Sekarang ketika sudah lulus dan memiliki kesibukan masing-masing, ada sedikit rasa canggung yang muncul. Percakapan lebih sering diawali dengan permintaan bantuan atau sekadar karena urusan tertentu.
Komunikasi yang dilakukan menjadi terasa lebih fungsional. Lucunya, ini bukan hanya soal orang lain, kita sendiri pun sering kali baru menghubungi teman ketika membutuhkan sesuatu. Saya pribadi menganggap itu sebagai hal yang wajar karena masing-masing sudah memiliki kesibukan dan tanggung jawab yang berbeda.
Namun, sepertinya tidak semua orang punya pemikiran serupa. Karena itu, kini ada pertanyaan yang mungkin perlu untuk kita bahas: apakah mereka benar-benar sedang memanfaatkan kita, atau justru kita yang tanpa sadar memberi ekspektasi terlalu besar terhadap setiap hubungan pertemanan?
Saya mengerti, ketika ada teman yang dulunya terasa dekat dengan kita lalu kini hanya datang sesekali ketika butuh saja, tentu ada rasa kecewa yang muncul. Perasaan seperti itu bukan hadir tanpa alasan. Sebagian dari kita mungkin merasa sudah sering meluangkan waktu, membantu ketika diminta, atau berusaha menjaga hubungan. Karena itu, ketika komunikasi hanya terjadi saat ada kepentingan, wajar jika muncul perasaan dimanfaatkan.
Akan tetapi, pada saat yang sama, mungkin kita perlu mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Apakah setiap teman memang harus memiliki kedekatan dan peran yang sama dalam hidup kita?
Kita mungkin pernah berharap semua teman bisa berperan sebagaimana sahabat kita. Namun, faktanya tidak semua teman memiliki kedekatan yang sama. Selama hidup kita menemui berbagai jenis teman. Mulai dari teman sekolah, teman kuliah, teman organisasi, teman kerja, teman nongkrong, hingga teman komunitas. Hubungan kita dengan mereka tentu juga berbeda sehingga kita tidak bisa memaksakan fungsi yang sama pada semuanya. Sederhananya saja, ketika kita sedang berdiskusi dengan rekan kerja, apakah etis jika kita membawa bahasan tongkrongan ke dalamnya?
Yang saya pahami, memang beginilah hubungan antara orang dewasa. Semua terasa lebih fungsional. Bahkan, untuk sekadar bertemu dan saling menyapa pun terkadang perlu suatu alasan tertentu. Ini terjadi karena semakin dewasa, kita akan menghadapi lebih banyak kesibukan yang membuat kita tak lagi punya banyak waktu untuk mengobrol seperti dulu. Berakar dari hal tersebut akhirnya banyak komunikasi yang muncul karena ada kebutuhan saja. Misalnya, bertanya tentang lowongan kerja, meminta referensi, atau mengajak bekerja sama dalam suatu proyek. Hal-hal seperti ini tidak bisa otomatis kita sebut memanfaatkan.
Lantas, sampai manakah batasnya?
Sobat Yoursay, ketika kita membahas hubungan pertemanan orang dewasa, saya rasa yang perlu dipertanyakan bukan lagi tentang kenapa dia hanya datang saat butuh, melainkan tentang siapa pihak yang diuntungkan dalam hubungan tersebut. Jika sesekali saling membutuhkan dan saling membantu, bukankah itu memang salah satu fungsi dari sebuah hubungan? Namun, jika hanya berjalan satu arah saja, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Kita mungkin tidak memaksa semua orang menjadi sahabat. Tidak semua orang yang kita sebut teman harus bisa menjadi tempat curhat, hadir setiap kita ada masalah, mengingat hari ulang tahun, atau berkomunikasi secara intens. Dan tidak apa-apa jika ada orang di sekitar kita yang porsinya hanya sebagai teman kerja atau teman komunitas saja. Sebab pertemanan yang sehat tidak akan menuntut berlebihan, tidak merasa berhak atas waktu orang lain, dan tidak merasa dikhianati hanya karena intensitas komunikasi yang berubah.
Hubungan orang dewasa memang lebih dinamis daripada saat sekolah. Datang saat butuh bukan selalu tanda hubungan yang buruk. Yang perlu kita jaga bukan hanya siapa yang datang ketika kita membutuhkan, tetapi juga apakah hubungan itu tetap dilandasi rasa saling menghargai dan timbal balik. Dan yang mungkin tidak kalah penting untuk kita sadari: jangan-jangan yang membuat kita kecewa bukan karena teman hanya datang saat butuh, melainkan karena kita berharap semua teman memiliki peran sebagai sahabat dalam hidup kita.
Baca Juga
-
Punya Kebiasaan Begadang, Sebenarnya Apa yang sedang Dikejar Gen Z?
-
Traveling atau Menambah Tabungan? Dilema Gen Z saat Punya Uang Lebih
-
Hidup Hemat di Era Serba Mahal: Pilihan Bijak atau Pelit pada Diri Sendiri?
-
Hustle Culture vs Slow Living: In This Economy, Mana yang Lebih Realistis?
-
Sudah Hemat, tapi Tetap Boncos: Ketika Menabung Seolah Menjadi Privilege
Artikel Terkait
Kolom
-
Politik Simbol di Balik Klaim DNA India Prabowo, Narasi Baru Diplomasi?
-
Punya Kebiasaan Begadang, Sebenarnya Apa yang sedang Dikejar Gen Z?
-
Dibalik Integrasi Perbankan: Mengapa Sistem Universal Banking Bisa Menghancurkan Stabilitas Ekonomi?
-
Saat Media Sosial Terasa Tak Menyenangkan Lagi: Serangan Digital Fatigue?
-
Stunting yang Dipelihara: Saat Mitos Gizi Lebih Dipercaya daripada Sains
Terkini
-
Agensi Konfirmasi Yunho ATEEZ Putus dari Pacar yang Sudah Lama Dipacari
-
Haaland, Kisah Viking Harald Hardrada, dan Misi Norwegia Ukir Sejarah Baru
-
"Diutus" Presiden: Mengapa Ucapan Ketua MPR Ahmad Muzani Picu Kontroversi Konstitusi?
-
5 Langkah Anti Ribet untuk Menjaga Alat Makeup Tetap Bersih
-
Cari Tontonan Telenovela yang Seru? Ini 7 Rekomendasi Terbaik di Netflix