Hayuning Ratri Hapsari | Rizky Melinda Sari
Review Buku Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero (Dok. Pribadi/Rizky Melinda Sari)
Rizky Melinda Sari

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero merupakan buku pengembangan diri ketiga yang ditulis oleh dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan total 246 Halaman.

Ringkasan Isi Buku 'Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero'

"Aku merasa menjalani hidup menggunakan topeng."

Entah sudah berapa kali ucapan seperti itu terlontar dari bibir pasien yang datang ke ruang konsultasi. Kemungkinan, kamu pun pernah mengucapkan hal seperti itu, bukan?

Beberapa orang akan mengatakan, "Kita harus tampil apa adanya, jangan menggunakan topeng!" Tapi, di menit yang sama ketika topeng itu dilepas, dunia tidak siap melihat wajah asli kita. Akhirnya, kita menggunakan kembali topeng yang selama ini membuat kita diterima oleh masyarakat.

Buku ini membahas tentang bagaimana trauma dan pengalaman masa kecil menempa topeng yang kita gunakan hari ini. Dari luar, kita adalah orang dewasa yang tampak tangguh. Tapi di dalam, sebenarnya kita hanyalah seorang anak ketakutan yang berlindung di balik topeng superhero.

Kenapa harus baca buku ini?

Aku pribadi langsung tertarik dengan buku ini karena sebelumnya memang sudah pernah baca dua buku dr. Andreas yang lain.

Alasan lainnya, dari segi judul yang cukup eye-catching: seorang anak yang bersembunyi di balik topeng superhero. Aku penasaran, kira-kira topik apa yang bakal dibahas kali ini? Apa "topeng" yang dimaksud?

Setelah baca blurb, aku jadi makin tertarik karena relate. Aku pribadi merasa selama ini menjalani hidup dengan menggunakan topeng. Aku jadi penasaran, apakah ini hal yang wajar? Atau justru perlu dihindari? Aku menemukan jawabannya di dalam buku ini. 

Sosok asli kita yang mana?

Selesai baca buku ini, aku jadi tahu bahwa tidak apa-apa jika kita menggunakan "topeng" yang berbeda-beda setiap hari. Berganti "topeng" saat berhadapan dengan orang yang berbeda sama sekali bukan kesalahan, melainkan strategi untuk bertahan hidup. 

Jujur, sebelum baca buku ini, kadang aku merasa bersalah, merasa tidak menjadi diri sendiri, bahkan merasa "palsu" saat tampil dengan kepribadian yang berbeda-beda tergantung orang dan situasi. Aku jadi bingung, sebenarnya "aku" yang asli yang mana? 

Self vs Persona: dua sisi berlawanan yang mendiami diri kita 

Lewat buku ini, kita akan diajak untuk mengenal yang namanya "self" dan "persona". Self adalah diri kita apa adanya, sedangkan persona adalah diri kita yang kita perlihatkan kepada dunia. Persona mendefinisikan siapa kita di hadapan dunia. Aku pribadi bekerja sebagai seorang Apoteker, sehingga bisa dibilang personaku saat bekerja di apotek adalah Apoteker. 

Lantas, apakah persona seseorang hanya satu saja? Tentu tidak. Saat di kamar, aku melepaskan "topeng" Apotekerku dan menjalankan peranku sebagai seorang perempuan yang apa adanya, suka pakai baju belel-kebanyakan-dicuci-tapi-nyaman itu, serta gemar membaca novel sampai ketawa dan nangis sendiri. Bisa dibilang saat sedang sendiri, "self" yang tampil.

Tidak apa-apa untuk memakai banyak topeng

Lalu, saat sedang pulang ke rumah, aku memakai topeng sebagai seorang anak yang pendiam, suka menyendiri, dan jarang ngomong. Serius. Aku bisa ngobrol agak lama dengan pasien di tempat kerja, tapi saat berada di rumah, battery untuk berbicara berada pada kondisi shut down. Orangtua saja sampai heran, kok bisa anaknya yang 100% introvert ini survive di dunia kerja yang patient-oriented. 

Berbeda lagi saat bersama sahabat. Aku biasa menggunakan topeng orang yang cerewet, receh, halu tingkat maksimal, dan suka bertingkah random. 

Awalnya aku sempat frustrasi dan bertanya, apakah cuman aku yang harus lepas pasang topeng di kehidupan sehari-hari? Aku merasa tidak otentik, tidak asli. Capek juga. Aku kira orang lain hidup "lurus" dan seperti apa adanya diri mereka. Mau di tempat kerja, di tongkrongan, di rumah, tidak ada yang berbeda. Sampai akhirnya aku baca buku ini.

Kita berganti-ganti topeng bukan karena plin-plan, tidak memiliki identitas, tidak otentik, bukan tipu-tipu, melainkan fleksibel. Sama seperti bunglon yang bertahan hidup dengan kamuflase, manusia menggunakan berbagai topeng untuk beragam situasi dan kondisi juga sebagai upaya untuk bertahan hidup. 

Belajar menerima inner child dari Stelora dan Viktor 

Lewat tokoh semi-fiksi Stelora dan Viktor, aku jadi mulai memahami makna inner child yang sesungguhnya. Aku jadi tahu bahwa luka fisik dan mental sama-sama meninggalkan trauma, tapi trauma karena luka mental jauh bertahan lebih lama. Rasa sakitnya ketika ada sesuatu yang "triggering" bisa sama seperti baru pertama kali mendapatkannya. 

Luka fisik bisa sembuh, walaupun ada bekasnya, tapi at least tidak sakit lagi. Luka batin juga bisa sembuh, tapi perlu waktu dan usaha yang jauh lebih lama dan rumit. Bahkan setelah bertahun-tahun, ada yang masih bisa merasakan sakitnya persis setiap kali ada pemicu. 

Penulis piawai menggambarkan hidup sebagai metafora 

Aku suka dan jatuh cinta dengan cara penulis mengasosiasikan hidup sebagai taman hiburan. Ada orang yang memutuskan untuk menaiki semua wahana ekstrem, ada juga yang lebih memilih duduk-duduk saja sembari menikmati pemandangan. Tidak ada yang salah dan benar. Tergantung pilihan masing-masing.

Aku juga suka part "Tutorial Menulis Surat untuk Inner Child". Aku merasa tertantang dan ingin mengikuti tutorialnya. Semoga topeng remaja ambis dan rajinku nggak terlalu lama berdebu di pojokan dan bisa segera kupakai lagi!

Jika di buku pertama kita diajak menyimak tutorial mencuci piring, di buku kedua disuguhkan tutorial menanam bunga matahari, di buku ketiga ini juga ada: tutorial merapikan rumah yang berantakan setelah gempa dan banjir emosional.