I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki karya Baek Se-hee adalah buku yang terasa seperti menemani pembacanya melewati masa-masa paling berat. Diterbitkan di Indonesia dengan judul Aku Ingin Mati tapi Aku Ingin Makan Tteokbokki, buku ini bukan novel fiksi, melainkan sebuah memoar yang merekam perjalanan penulis menghadapi distimia atau depresi ringan yang berlangsung lama, serta gangguan kecemasan. Kejujuran Baek Se-hee dalam menceritakan pengalaman pribadinya membuat buku ini mendapat perhatian luas dari pembaca di berbagai negara.
Hal pertama yang paling mengejutkan bagi saya adalah format penulisannya. Sebelum mulai membaca, saya mengira isi buku ini akan menyerupai novel atau buku pengembangan diri yang dipenuhi narasi panjang. Namun ternyata, sebagian besar isinya berbentuk transkrip percakapan antara Baek Se-hee dan psikiaternya. Sebagai pembaca, saya seperti ikut duduk di ruang konsultasi dan mendengarkan setiap keresahan yang ia ungkapkan beserta tanggapan profesional dari sang dokter.
Dalam setiap sesi konseling, Baek Se-hee mempertanyakan banyak hal tentang dirinya sendiri. Ia sering merasa bingung apakah dirinya benar-benar mengalami depresi karena di sisi lain ia masih bisa tertawa, bekerja, bahkan menikmati makanan. Pergulatan batin seperti ini terasa begitu manusiawi. Buku ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak selalu memiliki bentuk yang mudah dikenali, bahkan oleh orang yang mengalaminya sendiri.
Di sela-sela percakapan tersebut, pembaca juga menemukan esai-esai pendek yang ditulis Baek Se-hee. Bagian inilah yang memperlihatkan isi pikirannya secara lebih mendalam. Ia membahas tekanan untuk selalu tampil sempurna, rasa takut terhadap penilaian orang lain, standar kecantikan, hingga ekspektasi sosial yang sering kali membuatnya terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Tulisan-tulisan reflektif ini terasa sederhana, tetapi mampu menggambarkan bagaimana kecemasan dapat tumbuh dari hal-hal yang tampak sepele.
Saya membaca buku ini ketika sedang berada di titik terendah dalam hidup. Saat itu seorang teman merekomendasikannya, dan tanpa ekspektasi tinggi saya memutuskan untuk membelinya. Ternyata keputusan tersebut menjadi salah satu pengalaman membaca yang paling berkesan. Saya memang tidak merasa semua masalah langsung hilang setelah menutup halaman terakhir, tetapi buku ini membantu saya melihat bahwa proses penyembuhan tidak selalu berarti menjadi pribadi yang sepenuhnya bebas dari rasa cemas.
Justru itulah kekuatan utama buku ini. Baek Se-hee tidak menawarkan resep instan untuk menjadi bahagia. Ia mengajak pembaca menerima bahwa emosi negatif merupakan bagian dari kehidupan. Perlahan-lahan, ia belajar mengenali perasaannya, menerima kekurangannya, dan hidup berdampingan dengan kecemasan tanpa terus-menerus memeranginya. Pendekatan yang realistis ini terasa jauh lebih menenangkan dibandingkan janji-janji motivasi yang sering terdengar terlalu sempurna.
Judul buku ini juga memiliki makna yang sangat kuat. Keinginan untuk mati di satu sisi dan keinginan sederhana untuk menikmati seporsi tteokbokki di sisi lain menggambarkan kontradiksi yang bisa dirasakan seseorang ketika berjuang melawan depresi. Harapan tidak selalu hadir dalam bentuk mimpi besar. Terkadang, keinginan kecil seperti menikmati makanan favorit sudah cukup menjadi alasan untuk bertahan melewati satu hari lagi.
Buku ini juga membuka mata bahwa distimia sering kali tidak tampak dari luar. Seseorang tetap dapat bekerja, tersenyum, dan berinteraksi seperti biasa, padahal di dalam dirinya sedang terjadi pertarungan yang melelahkan. Karena itu, kita tidak seharusnya mengukur penderitaan orang lain hanya dari apa yang terlihat.
Pelajaran lain yang sangat membekas adalah pentingnya memvalidasi emosi. Kesedihan seseorang tidak menjadi kurang berarti hanya karena ada orang lain yang mengalami masalah lebih besar. Setiap orang berhak mengakui rasa sakitnya tanpa harus merasa bersalah. Pada akhirnya, I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki bukan sekadar buku tentang depresi, melainkan pengingat bahwa menerima diri sendiri adalah langkah awal menuju kehidupan yang lebih damai.
Identitas Buku
Judul: I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki
Penulis: Baek Se Hee
Penerbit: Penerbit Haru
Bahasa: Indonesia
Halaman: 236 Halaman
ISBN: 9786237351030
Baca Juga
-
As Long as the Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Tumbuh di Tengah Perang
-
Ulasan Novel Gagal Menjadi Manusia: Karya Paling Kelam Osamu Dazai
-
Ulasan Men Are from Mars, Women Are from Venus: Memahami Perbedaan Cara Pria dan Wanita Mencintai
-
Animal Farm dan Cermin Politik Modern: Saat Kesetaraan Hanya Menjadi Slogan
-
BM Seaside View Resto & Cafe: Hidden Gem Seafood Tepi Pantai di Anyer
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Novel Semesta Thalita, Ketika Kata Pulang Tak Lagi Bermakna
-
As Long as the Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Tumbuh di Tengah Perang
-
Review Serial The Apartment Job: Aksi Tipu-tipu Cerdas Berbalut Isu Sosial
-
Ulasan Kick Kick Kick Kick: Sebuah Komedi tentang Absurditas Kegagalan
-
Ulasan Novel Gagal Menjadi Manusia: Karya Paling Kelam Osamu Dazai
Terkini
-
Ikut Beri Dukungan, Tom Cruise Bagikan Momen usai Nonton Film The Odyssey
-
Menang Dramatis! Argentina Siap Hadapi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
-
HP Bukan Pengasuh: Jangan Biarkan Gadget Mendidik Anak Sendirian
-
Cinta yang Dibatasi atau Dijaga? Memahami Konsep Taaruf di Era Modern
-
Ketika Guru Bersertifikat Justru Terjebak di Celah Kebijakan