Bayangkan jika suatu hari ponselmu menerima pesan berisi pertanyaan "Apakah seorang penjahat yang lolos dari hukuman pantas dihukum mati?"
Kamu hanya perlu memilih “ya” atau “tidak”. Jika lebih dari separuh masyarakat memilih “ya”, seseorang bernama Gaetal akan memastikan hukuman itu benar-benar dijalankan.
Premis inilah yang menjadi dasar The Killing Vote, drama Korea yang mengubah proses pemungutan suara menjadi sebuah mekanisme hukuman mati.
Di dunia yang diciptakannya, suara mayoritas tidak hanya menentukan siapa yang menang atau kalah, tetapi juga siapa yang masih berhak hidup.
Ketika Kegagalan Hukum Membuka Jalan bagi Vigilantisme
The Killing Vote mengisahkan tentang Gaetal, sosok misterius yang mengadakan pemungutan suara nasional untuk menentukan nasib para pelaku kejahatan berat yang lolos dari hukum. Jika ada lebih dari 50 persen warga memilih hukuman mati, Gaetal akan membunuh orang tersebut.
Di sisi lain, kepolisian berusaha memburu identitasnya. Kim Mu Chan, pemimpin tim investigasi di Kepolisian Metropolitan Selatan, terlibat dalam pengejaran tersebut bersama Joo Hyun, polisi dari Biro Keamanan Siber.
Salah satu hal paling menarik dari The Killing Vote adalah cara drama ini membangun sosok Gaetal. Ia bukan sekadar pembunuh misterius yang membunuh orang secara acak.
Targetnya adalah orang-orang yang dianggap melakukan kejahatan berat, tetapi berhasil menghindari hukuman atau mendapatkan hukuman yang dianggap tidak sepadan.
Ketika hukum dianggap terlalu lemah untuk menghukum dan korban tak memperoleh keadilan yang layak, publik mulai mencari cara lain untuk menuntaskan rasa marahnya.
Dalam situasi semacam itu, Gaetal tidak lagi sekadar dilihat sebagai seorang pembunuh. Bagi sebagian masyarakat, ia justru dianggap sebagai sosok yang melakukan apa yang gagal dilakukan oleh sistem hukum.
Ketika Penghakiman Menjadi Urusan Publik
Konsep pemungutan suara dalam drama ini juga menjadi bagian yang paling mengganggu. Sebab, Gaetal tidak sepenuhnya bekerja sendirian. Ia memang menjadi eksekutor, tetapi masyarakat ikut terlibat melalui pilihan mereka.
Dengan begitu, The Killing Vote tidak hanya mempertanyakan tindakan Gaetal. Drama ini juga mempertanyakan orang-orang yang memilih “ya”.
Apakah mereka benar-benar sedang memperjuangkan keadilan? Atau mereka hanya ingin melihat seseorang yang mereka benci mendapatkan hukuman?
Pertanyaan ini terasa semakin relevan di tengah budaya penghakiman di media sosial. Dalam banyak kasus, publik dapat dengan cepat membentuk kesimpulan berdasarkan informasi yang beredar.
Seseorang bisa dibenci, mendapatkan sanksi sosial, bahkan dianggap tidak layak mendapatkan kesempatan kedua hanya karena opini publik telah lebih dulu menentukan kesalahannya.
Tentu saja, pemungutan suara dalam The Killing Vote jauh lebih ekstrem karena hasilnya menentukan hidup dan mati seseorang.
Premis Menjanjikan, Eksekusi yang Tidak Sepenuhnya Konsisten
Dari segi premis, The Killing Vote memiliki ide yang sangat kuat. Sejak awal, drama ini sudah menawarkan konflik yang membuat penonton sulit bersikap netral.
Kita diajak membenci para pelaku kejahatan yang menjadi target Gaetal, tetapi pada saat yang sama juga dipaksa mempertanyakan cara mereka dihukum.
Meski demikian, The Killing Vote bukan drama yang sempurna. Beberapa keputusan karakter kadang membuat penonton frustrasi, terutama ketika tokoh-tokohnya bertindak secara tidak masuk akal.
Ada juga bagian cerita yang terasa kurang konsisten dalam membangun perilaku karakter. Menjelang akhir, drama ini juga tidak sepenuhnya memberikan kepuasan yang mungkin diharapkan penonton dari sebuah cerita tentang pembalasan.
Meski memiliki sejumlah kelemahan, The Killing Vote tetap menjadi drama yang menarik untuk ditonton, terutama bagi kamu yang menyukai cerita kriminal dengan dilema moral dan kritik terhadap sistem hukum.
Baca Juga
-
Behind Every Star: Sisi Gelap Ambisi di Balik Gemerlap Industri Hiburan
-
Pemerintah Rajin Membuat Program, Apakah Hidup Rakyat Makin Membaik?
-
Upah Tertinggal, Hidup Makin Mahal: Benarkah Masalahnya Kemalasan?
-
Ulasan 18 Again: Penyesalan yang Mengajarkan Arti Memahami Keluarga
-
Pemerintah Bakal Gelontorkan Rp11 T untuk Rekening Massal, Apa Urgensinya?
Artikel Terkait
-
Review Serial The Apartment Job: Aksi Tipu-tipu Cerdas Berbalut Isu Sosial
-
Ulasan Kick Kick Kick Kick: Sebuah Komedi tentang Absurditas Kegagalan
-
D.O. EXO Diincar jadi Pemeran Utama Drama Zombie Unik We Are the Zombies
-
Jung Hae In Berpeluang Bintangi Lucky Seoul, Drakor Terbaru dari tvN
-
My Troublesome Star: Menggugat Stigma Usia Perempuan dalam Industri Hiburan
Ulasan
-
Saat Cinta Datang Terlambat: Belajar Merelakan dari Lagu Raim Laode "Dunia yang Nanti"
-
Belajar dari The Early Spring: Jangan Meremehkan Orang yang Sedang Berjuang
-
Review The Potato Lab: Kisah Cinta di Balik Laboratorium Kentang
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Lagu Mungkin di Depan Buram dan Harapan di Tengah Ketidakpastian Masa Depan
Terkini
-
Ponsel Lipat Harga Mulai Rp30 Juta! Apa Saja Kehebatan iPhone Duo?
-
Jelang Piala Asia 2027, Timnas Indonesia Dijadwalkan Hadapi Tim Peringkat 63 Dunia di Kandang Lawan?
-
Bye Pori Tersumbat! 4 Cleanser Volcanic untuk Kulit Mulus Bebas Komedo
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Masjid Tegalsari: Jejak Islam dan Jawa yang Bertahan Melintasi Zamannya