Novel Every Monday Mabel menjadi salah satu buku anak yang menarik untuk dibaca.
Di novel ini, banyak orang menganggap Senin sebagai hari yang membosankan. Namun, bagi Mabel, Senin adalah hari terbaik dalam seminggu.
Setiap Senin pagi, ia bangun lebih awal, mengintip dari jendela, lalu menyeret kursinya keluar rumah untuk menunggu sesuatu yang sangat istimewa.
Kakaknya menganggap kebiasaan Mabel membosankan. Ibunya merasa tingkahnya lucu, sementara ayahnya menganggapnya menggelikan.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami mengapa Mabel begitu bersemangat menunggu di depan rumah.
Sampai akhirnya terdengar suara yang sangat dikenalnya.
Klakson, klakson!
Apa yang membuat Mabel begitu bahagia? Jawabannya adalah truk sampah yang datang setiap Senin pagi. Bagi Mabel, kedatangan truk besar itu bukan sekadar rutinitas biasa, melainkan momen yang paling ia tunggu-tunggu sepanjang minggu.
Kebanyakan orang mungkin tidak memiliki alasan untuk menantikan hari Senin. Namun, Mabel berbeda. Bagi gadis kecil ini, Senin adalah hari yang sangat istimewa karena ia bisa melihat sesuatu yang menurutnya merupakan “hal terbaik di dunia”.
Menariknya, Jashar Awan tidak langsung mengungkap apa yang ditunggu Mabel. Pembaca diajak mengikuti rutinitasnya terlebih dahulu, sehingga rasa penasaran perlahan-lahan dibangun.
Mabel bangun pagi, bersiap, mengambil sarapan, lalu menyeret kursinya keluar rumah. Sementara itu, anggota keluarganya memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang kebiasaan tersebut.
Kakaknya menganggapnya membosankan, ibunya merasa Mabel lucu, dan ayahnya melihatnya sebagai sesuatu yang menggelikan. Perbedaan sudut pandang inilah yang membuat cerita terasa ringan sekaligus menghibur.
Lalu, datanglah kejutan yang mungkin tidak disangka-sangka, truk sampah.
Bagi orang dewasa, kedatangan truk sampah mungkin hanya bagian dari rutinitas mingguan. Namun, bagi Mabel, suara mesin, lampu, gerakan truk, hingga proses pengangkutan sampah adalah sebuah pertunjukan luar biasa.
Di sinilah Every Monday Mabel terasa sangat dekat dengan dunia anak-anak. Hal-hal sederhana yang sering dianggap biasa oleh orang dewasa bisa menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi seorang anak.
Buku ini juga menyampaikan pesan penting tentang bagaimana setiap orang memiliki ketertarikan yang berbeda.
Sesuatu yang dianggap membosankan oleh seseorang bisa menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi orang lain. Mabel tidak dibuat merasa aneh karena menyukai truk sampah. Sebaliknya, rasa antusiasmenya justru dirayakan.
Hal yang menarik, Mabel ternyata tidak sendirian dalam kekagumannya. Di balik rutinitas yang tampaknya biasa, ada banyak orang lain yang juga menantikan kedatangan truk tersebut.
Pesan ini terasa hangat karena mengingatkan pembaca bahwa kita tidak selalu tahu hal-hal kecil apa yang membuat orang lain bahagia.
Ilustrasi digital Jashar Awan menjadi salah satu daya tarik utama buku ini. Warna-warnanya cerah, bentuknya sederhana, dan gaya visualnya terasa seperti perpaduan antara cat air dan potongan kertas.
Ekspresi Mabel yang penuh semangat juga berhasil membuat pembaca ikut merasakan kegembiraannya. Efek suara dan adegan truk sampah yang bergerak membuat buku ini semakin cocok untuk dibacakan dengan lantang.
*Every Monday Mabel* adalah picture book yang sederhana, lucu, dan penuh kehangatan.
Ceritanya mengajak anak-anak untuk menghargai hal-hal kecil yang membuat mereka bahagia, sekaligus mengingatkan orang dewasa agar tidak meremehkan minat anak.
Buku ini sangat cocok untuk anak usia 3–6 tahun, terutama bagi pembaca kecil yang menyukai kendaraan, rutinitas, atau cerita tentang hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah bacaan ringan yang membuktikan bahwa ternyata selalu ada sesuatu yang menyenangkan untuk dinantikan di hari Senin.
Baca Juga
-
Ulasan A Sea of Lemon Trees: Ketika Anak 12 Tahun Melawan Ketidakadilan
-
Menemukan Keajaiban dalam Hari yang Biasa: Mengapa Buku Fireworks Begitu Istimewa
-
Kisah Haru Anak Kuba di Tengah Revolusi: Review How to Say Goodbye in Cuban
-
Review The Nine Moons of Han Yu and Luli: Perjalanan 2 Anak Melintasi Waktu
-
Novel The Lions' Run, Kisah Anak Yatim yang Menantang Kekejaman Nazi
Artikel Terkait
-
Menteri PPPA Prihatin, Hanya 20 Persen Anak yang Nyaman Curhat kepada Orang Tua
-
Dompet Dhuafa Hadirkan Ruang Mimpi, Dampingi Anak Yatim Berani Wujudkan Cita-cita
-
Ulasan A Sea of Lemon Trees: Ketika Anak 12 Tahun Melawan Ketidakadilan
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
-
Ulasan Kronik Burung Pegas: Kisah Kehilangan, Trauma, dan Dunia Surealis
Ulasan
-
Teach You a Lesson: Drama Aksi Sekolah dengan Kritik Pedas Sistem Pendidikan
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
-
Review Evil Dead Burn: Teror Iblis Necronomicon di Rumah Danau Berdarah!
-
Ulasan Kronik Burung Pegas: Kisah Kehilangan, Trauma, dan Dunia Surealis
-
Ulasan A Sea of Lemon Trees: Ketika Anak 12 Tahun Melawan Ketidakadilan
Terkini
-
Fenomena Gaji Numpang Lewat: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Bikin Boros
-
Prabowo dan Obsesi MBG: Mengapa Kemajuan Negara Diukur dari Perut Rakyat?
-
4 Hybrid Sunscreen Cegah Jerawat Meradang Akibat Paparan Sinar Matahari
-
Kursi Prioritas Bukan Hadiah, Stasiun Cikoko Bukti Integrasi Itu Mungkin
-
4 Hydrating Sheet Mask Ampuh Berikan Hidrasi Ekstra untuk Skin Barrier Kuat