Membicarakan kematian bukanlah hal yang mudah, apalagi kepada anak-anak. Orang dewasa sering kali memilih menghindari topik tersebut karena takut melukai perasaan mereka. Namun, bagaimana jika justru seorang anak yang ingin mengetahui segala hal tentang kematian?
Pertanyaan inilah yang menjadi jantung novel Ways to Live Forever karya Sally Nicholls, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Tanti Lesmana dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.
Novel setebal 220 halaman ini pertama kali terbit dalam edisi Indonesia pada 21 April 2026. Meski dipasarkan sebagai bacaan remaja, kisahnya memiliki kedalaman emosional yang mampu menyentuh pembaca dari berbagai usia.
Sinopsis Novel
Tokoh utama novel ini adalah Sam, bocah berusia sebelas tahun yang mengidap leukemia. Sam tahu bahwa penyakitnya tidak akan sembuh. Keluarganya tahu. Dokternya tahu. Bahkan pembaca pun sudah mengetahui sejak halaman-halaman awal bahwa perjalanan Sam akan berakhir dengan kematian.
Namun, justru karena akhir ceritanya sudah dapat ditebak, novel ini tidak berusaha menciptakan kejutan. Sebaliknya, Sally Nicholls mengajak pembaca menikmati setiap langkah perjalanan Sam menuju akhir hidupnya.
Yang membuat Sam berbeda dari tokoh anak-anak pada umumnya adalah rasa ingin tahunya yang luar biasa. Ia menyukai fakta-fakta aneh dan menarik. Ia penasaran tentang UFO, hantu, balon Zeppelin, ilmuwan, hingga peti mati. Baginya, kematian bukan sesuatu yang harus ditakuti tanpa dipahami.
Karena itulah ia menyusun daftar pertanyaan yang sering kali membuat orang dewasa tidak nyaman, seperti apa yang terjadi setelah seseorang meninggal atau apakah semua orang takut mati.
Alih-alih menggunakan alur naratif konvensional, Nicholls menyusun cerita dalam bentuk buku harian. Di dalamnya terdapat daftar keinginan, catatan kecil, gambar, foto, tiket, tulisan tangan Sam, hingga berbagai fakta yang ia kumpulkan. Format scrapbook ini membuat pembaca merasa benar-benar sedang membuka buku harian seorang anak, bukan sekadar membaca novel.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama buku ini. Sam terasa hidup sebagai karakter. Ia bukan anak yang selalu tabah dan bijaksana. Ia masih bisa marah kepada ibunya, bersikap keras kepala, bertengkar dengan orang-orang terdekat, dan merasa kecewa ketika tubuhnya tidak lagi mampu melakukan banyak hal. Justru sifat-sifat manusiawi inilah yang membuatnya terasa nyata.
Sally Nicholls juga berhasil menghindari jebakan melodrama yang berlebihan. Memang, beberapa elemen cerita tampak familier dalam novel bertema penyakit terminal: sahabat yang sama-sama sakit, daftar hal-hal yang ingin dilakukan sebelum meninggal, hingga keluarga yang berusaha tetap kuat. Namun, kekuatan novel ini bukan terletak pada orisinalitas premisnya, melainkan pada cara penulis menggambarkan pikiran seorang anak yang sedang mencoba memahami kematian.
Kelebihan dan Kekurangan
Sepanjang cerita, pembaca akan menemukan berbagai informasi mengenai leukemia, perawatan medis, peti mati, hingga beragam pandangan mengenai kehidupan setelah kematian. Fakta-fakta tersebut tidak disampaikan secara menggurui, melainkan muncul alami melalui rasa ingin tahu Sam. Akibatnya, pembaca ikut diajak merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini mereka hindari.
Inilah alasan mengapa Ways to Live Forever terasa berbeda dari banyak novel anak lainnya. Buku ini tidak sekadar bercerita tentang anak yang sakit, melainkan tentang bagaimana manusia memaknai hidup ketika mengetahui bahwa waktunya terbatas. Di tangan Nicholls, kematian tidak digambarkan sebagai monster yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang perlahan perlu diterima.
Meski demikian, novel ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa karakter pendukung masih terasa stereotip dan kurang berkembang. Ada momen-momen yang terasa sengaja dirancang untuk menguras air mata pembaca. Namun, kelemahan tersebut tertutupi oleh kekuatan karakter Sam yang begitu tulus dan penuh rasa ingin tahu.
Tak heran bila banyak pembaca mengaku mengalami perubahan emosi sepanjang membaca novel ini. Pada awalnya mereka mungkin mengira cerita ini terlalu sentimental. Di pertengahan buku, mereka mulai merenungkan kematian mereka sendiri. Dan menjelang akhir, tidak sedikit yang akhirnya menyerah pada keharuan yang dibangun secara perlahan oleh Sally Nicholls.
Ways to Live Forever adalah novel tentang keberanian menjalani hidup selama masih memiliki waktu. Melalui mata seorang anak yang sederhana, Sally Nicholls mengingatkan bahwa hidup tidak diukur dari seberapa panjang usia seseorang, melainkan dari bagaimana ia memaknai setiap hari yang dimilikinya. Itulah yang membuat novel ini tetap membekas lama setelah halaman terakhir ditutup.
Identitas Buku
- Judul: Ways to Live Forever
- Penulis: Sally Nicholls
- Penerjemah: Tanti Lesmana
- Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 21 April 2026
- ISBN: 9789792236538
- Tebal: 220 halaman
Baca Juga
-
Ketika Alam Dikorbankan demi Penerimaan Negara yang Tak Sebanding
-
Dear Pemerintah, Kenapa Tidak Maksimalkan Program yang Sudah Ada?
-
Ketika Semua Orang Dipaksa Jualan: Membaca Fenomena Ledakan UMKM
-
Ketika Popularitas Mengalahkan Keteladanan: Hukum Butuh Integritas!
-
Orang Kaya Baru: Label Sosial atau Bentuk Kecemburuan Kelas?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Evil Dead Burn: Teror Iblis Necronomicon di Rumah Danau Berdarah!
-
Ulasan Kronik Burung Pegas: Kisah Kehilangan, Trauma, dan Dunia Surealis
-
Ulasan A Sea of Lemon Trees: Ketika Anak 12 Tahun Melawan Ketidakadilan
-
Tawa dan Tangis dalam Film Foufo: Dari Kampung Rongsok ke Luar Angkasa
-
Review Golden Kamuy: Konflik Berdarah Para Narapidana Kelas Kakap di Jepang
Terkini
-
AIESEC in UNJ Sukses Selenggarakan AFL Summer Peak, Cetak Pemimpin Muda Berdampak Sosial
-
Tidak Harus Lulus Cepat: Fenomena Gap Year dan Pendidikan Non-Linear
-
Family Treasure Hunt 2026: Berburu Harta Karun Bersama Keluarga
-
6 Daftar Negara yang Lolos Piala Dunia 2030, Spanyol hingga Argentina
-
Pernikahan Mewah Berujung Utang: Saat Gengsi Mengalahkan Kondisi Keuangan