Setelah menghatamkan buku KKN Ceria, pikiran saya langsung melayang ke masa kuliah S1 di jurusan Tarbiyah program studi Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII) Sukorejo Situbondo beberapa tahun silam. Saya teringat suasana pembekalan KKN, survei lokasi, rapat kelompok, kunjungan dosen pembimbing lapangan, menyusun program kerja, lomba Agustusan, belanja kebutuhan dapur, memasak bersama, hingga berbagai kisah sederhana yang justru menjadi kenangan paling berharga.
Sejak halaman-halaman awal, Wisnu berhasil menghadirkan suasana yang akrab dan dekat dengan kehidupan mahasiswa. Buku ini tidak mencoba tampil megah dengan bahasa yang rumit atau cerita yang dibuat-buat.
Sebaliknya, penulis memilih gaya bertutur santai dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dan sapaan “gue” yang terasa natural. Pilihan bahasa ini membuat saya seolah sedang mendengarkan cerita langsung dari seorang teman lama yang sedang mengenang masa-masa KKN.
Buku ini terdiri atas banyak fragmen cerita yang saling berkaitan. Judul-judul seperti Pembekalan KKN, Survey, Posko Ceria, Salat Subuh, Memasak, Air Mengalihkan Duniaku, Wakuncar, Di Sini Ada Setan, Daily Life in KKN, Rumah Belajar Ceria, Lomba 17-an, Healing, Tirakatan, Tandon Air, Korcam dan Seribu Pohon, Kisah Kasih Nyata, hingga Rasanya Belanja Bersama Cewek menjadi gambaran bahwa pengalaman KKN memang tidak pernah jauh dari dinamika kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal yang membuat buku ini menarik adalah keberanian penulis untuk tampil apa adanya. Dalam cerita pembekalan KKN misalnya, Wisnu menulis:
“Selama dosen ngasih materi, gue cuman bengong. Kadang-kadang gue ngobrol sama anak-anak KKN, kadang-kadang gue baca komik Naruto di HP. Baca komik lebih menarik daripada mendengarkan khutbah dari pemateri.” (Halaman 18).
Kutipan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi di sini justru terletak kekuatan dari buku ini. Wisnu tidak berusaha menjadi sosok mahasiswa sempurna. Ia tampil sebagai mahasiswa biasa dengan segala kejujuran, kelucuan, dan kekurangannya. Pembaca pun menjadi lebih mudah terhubung dengan cerita yang disampaikan.
Tokoh-tokoh yang hadir dalam buku ini juga menjadi warna tersendiri. Ada Tia, ketua kelompok KKN yang berasal dari Sastra Inggris. Ada Venti, sahabat sekaligus soulmate Tia yang dikenal cantik dan ramah. Ada Gendhis dan Puput yang berasal dari Fakultas Kedokteran. Ada Maya yang menjadi anggota termuda dalam kelompok. Ada Maria, mahasiswi hukum yang “nyasar” ke kelompok Wisnu. Kemudian ada Jono dan Bayu yang berasal dari jurusan keguruan.
Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, mereka dipertemukan dalam satu perjalanan pengabdian yang kemudian melahirkan banyak cerita. Interaksi antartokoh terasa hidup dan tidak dibuat-buat. Saya justru merasa inilah potret nyata kehidupan KKN yang sesungguhnya, yaitu sekumpulan mahasiswa asing yang perlahan berubah menjadi keluarga kecil.
Bagian yang cukup menggelitik terdapat ketika Wisnu tiba-tiba mengetahui dirinya ditunjuk sebagai koordinator kecamatan. Reaksi yang ditampilkan sangat khas anak muda dan sukses membuat saya tersenyum.
“Gue cuman bisa mangap-mangap kayak ikan kekurangan oksigen. Antara perasaan bahagia, shock, sedih, susah, sayang, kangen, keinget mantan, bercampur jadi satu.” (Halaman 23).
Humor-humor seperti ini banyak tersebar di sepanjang buku. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat pembaca tertawa kecil. Bahkan beberapa bagian terasa seperti membaca kumpulan status media sosial yang dirangkai menjadi cerita utuh.
Yang saya sukai dari KKN Ceria adalah kemampuannya menunjukkan bahwa KKN bukan hanya tentang program kerja atau laporan akhir. KKN adalah tentang proses belajar hidup. Tentang bagaimana mahasiswa belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, memahami karakter orang lain, menyelesaikan konflik, bekerja sama dalam keterbatasan, dan menghargai hal-hal sederhana yang sebelumnya sering dianggap sepele.
Blurb yang ditulis Wisnu juga memperlihatkan bagaimana banyak mahasiswa memiliki prasangka tertentu sebelum menjalani KKN. Mereka membayangkan harus hidup di daerah terpencil tanpa fasilitas memadai. Namun kenyataan justru menghadirkan pengalaman yang menyenangkan dan penuh makna.
Kalimat, “Dapat hikmahnya… kadang juga dapat sandal tiap abis Subuhan di masjid,” menjadi contoh bagaimana penulis mampu mengemas pengalaman sederhana menjadi humor yang menghibur.
Dari sisi penulisan, buku ini memang tidak menawarkan konflik besar atau alur yang menegangkan. Namun justru kesederhanaan itulah yang menjadi daya tarik utamanya. Pembaca tidak sedang diajak memasuki dunia fiksi yang penuh drama, melainkan diajak menyelami kenangan nyata seorang mahasiswa yang sedang belajar mengenal kehidupan.
Buku ini sangat cocok dibaca oleh mahasiswa yang pernah menjalani KKN, sedang bersiap menghadapi KKN, maupun para alumni kampus yang ingin bernostalgia. Saya yakin banyak pembaca akan menemukan bagian-bagian yang terasa dekat dengan pengalaman pribadi mereka.
Pendek kata, KKN Ceria bukan sekadar buku tentang pengabdian masyarakat. Buku ini adalah album kenangan yang berisi tawa, persahabatan, kerja sama, perjuangan, dan pelajaran hidup yang tumbuh dari pengalaman sederhana.
Setelah menutup halaman terakhirnya, saya merasa seolah baru saja bertemu kembali dengan masa muda yang pernah saya jalani. Sebuah masa yang mungkin telah berlalu, tetapi selalu menyisakan cerita untuk dikenang.
Identitas Buku
- Judul: KKN Ceria
- Penulis: Wisnu Murti Pratama
- Penerbit: CV Jejak, Anggota IKAPI
- Cetakan: I, Juli 2022
- Tebal: 297 Halaman
- ISBN: 978-623-338-903-7
- Genre: Komedi
Baca Juga
-
Review Jujur Drunken Molen: Humor Absurd yang Diam-Diam Menertawakan Hidup
-
Buku Kisah-Kisah Nyesek saat KKN: Dari Lele Kuning hingga Begal Kampung
-
Tawa dan Tangis dalam Film Foufo: Dari Kampung Rongsok ke Luar Angkasa
-
iPhone 17e Resmi Hadir, Berikut Spesifikasi dan Alasan Mengapa Layak Dibeli
-
LG UltraGear 45GX950A-B, Monitor OLED 45 Inci Cocok untuk Gamer Profesional
Artikel Terkait
Ulasan
-
Drama Straight to Hell, Ketika Rasa Takut Seseorang Dijadikan Bisinis Gelap
-
Petualangan Lima Pelarian di Pulau Misterius: Review The Mysterious Island
-
Review Serial The East Palace: Kisah Mistik Berdarah dari Kerajaan Joseon
-
The Fault in Our Stars: Perjalanan Cinta Hazel dan Gus di Tengah Perjuangan Melawan Kanker
-
Review Film Ip Man: Kung Fu Legend, Keadilan Ditegakkan Lewat Wing Chun!
Terkini
-
Korupsi Pakan KBS: Saat Keserakahan Manusia Merampas Hak Satwa
-
Viral Anak Pejabat Gayo Lues Flexing, Asisten I Sekda Minta Maaf dan Beri Klarifikasi
-
Cinta Tanpa Batas atau Tanpa Akar? Relasi Antarbudaya di Era Globalisasi
-
Singkirkan Belanda Tanpa Ampun, Italia Tantang Brasil di Semifinal VNL Putri 2026
-
Lupakan Lari Ngos-ngosan, Ini Alasan Slow Jogging Lebih Efektif Bakar Lemak