Hayuning Ratri Hapsari | Rosetiara Sahara
The Odyssey (IMDb)
Rosetiara Sahara

Christopher Nolan kembali menghadirkan sebuah tontonan berskala epik melalui The Odyssey, film adaptasi dari puisi Yunani kuno karya Homer yang telah menjadi salah satu fondasi sastra Barat selama ribuan tahun.

Tayang di bioskop Indonesia sejak 15 Juli 2026, film ini diproduksi oleh Syncopy bersama Universal Pictures, dan dibintangi oleh deretan pemain papan atas seperti Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, Robert Pattinson, Charlize Theron, hingga Zendaya. 

Film berdurasi sekitar 172 menit ini juga menjadi proyek dengan budget terbesar sepanjang karier Christopher Nolan, yakni sekitar US$250 juta.

Anggaran fantastis tersebut digunakan untuk mendukung syuting di berbagai negara, pembangunan set berskala masif, serta penggunaan kamera IMAX generasi terbaru yang memungkinkan seluruh film direkam menggunakan format IMAX 70 mm.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Nolan untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang terasa nyata dan imersif, tanpa bergantung secara berlebihan pada CGI.

Sinopsis

Film ini menyoroti perjalanan pulang Odysseus (Matt Damon), Raja Ithaca yang cerdik, setelah memenangkan Perang Troya. Sayangnya, perjalanan yang seharusnya singkat mendadak berubah menjadi pengembaraan selama sepuluh tahun. 

Akibat memancing murka dewa laut Poseidon, armada Odysseus diombang-ambingkan ke berbagai pelosok lautan yang dihuni berbagai entitas mitologi mengerikan. 

Odysseus harus memimpin pasukannya bertahan dari intaian monster Cyclops bermata satu bernama Polyphemus, nyanyian maut para Siren, jebakan monster laut Scylla dan pusaran air Charybdis, hingga penyihir sakti Circe (Samantha Morton). Kengerian beruntun tersebut perlahan mengikis habis jumlah pasukannya. 

Ia juga sempat ditahan cukup lama di sebuah pulau Ogygia oleh nimfa jelita bernama Calypso (Charlize Theron). 

Odysseus yang menderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dari kebrutalan perang mengonsumsi bunga teratai misterius di pulau tersebut.

Efek memabukkan bunga ini membantunya mati rasa, menekan kecemasan, dan melupakan penderitaan masa lalunya secara paksa.

Namun perlahan-lahan, melalui percakapannya dengan Calypso, Odysseus berhasil mengumpulkan kembali ingatan mengenai tragedi laut yang merenggut nyawa seluruh krunya. 

Di saat yang sama, nun jauh di Ithaca, sang istri Penelope (Anne Hathaway) harus berhadapan dengan puluhan bangsawan serakah yang dipimpin oleh Antinous (Robert Pattinson). Mereka memaksa menikahinya demi merebut takhta karena mengira Odysseus telah mati. 

Sementara itu, putra mereka, Telemachus (Tom Holland), yang tumbuh tanpa pernah mengenal wajah ayahnya, nekat berlayar mencari jejak Odysseus.

Ia pergi menemui Raja Sparta, Menelaus (Jon Bernthal), suami dari Helen (Lupita Nyong'o), demi mencari petunjuk keberadaan ayahnya.

Namun, pangeran muda itu tidak menyadari bahwa kepergiannya justru membuka peluang bagi para bangsawan licik untuk merancang pembunuhan terhadapnya. 

Ketika ingatan Odysseus akhirnya pulih seutuhnya, tekadnya untuk kembali ke keluarga tercinta tak lagi bisa dibendung.

Keputusannya untuk menembus segala rintangan dan berlayar pulang menjadi benang merah yang menyatukan seluruh teka-teki waktu dalam film ini.

Pertanyaannya, mampukah prajurit tua yang dihantui masa lalu ini tiba di Ithaca tepat waktu demi menyelamatkan istri dan takhtanya dari cengkeraman para bangsawan pengkhianat? 

Review Film The Odyssey

Setelah sukses menyapu bersih piala Oscar melalui Oppenheimer, Christopher Nolan kembali membuktikan bahwa dirinya adalah sineas yang tak pernah kehabisan ambisi. Kali ini, ia mengambil langkah berani dengan menerjemahkan salah satu mahakarya literatur tertua, The Odyssey, ke layar lebar.

Mengadaptasi puisi kuno karya Homer yang sarat akan kompleksitas ke dalam durasi 173 menit jelas bukan perkara mudah.

Namun, bersama sang istri sekaligus produser, Emma Thomas, Nolan berhasil merangkai epos ini menjadi sebuah sajian sinematik yang tidak hanya megah secara skala, tetapi juga sangat intim dan relevan bagi penonton modern.

The Odyssey juga seolah menjadi puncak akumulasi dari obsesi sinematiknya selama ini. Film ini membahas trauma dan ingatan seperti Memento, menguliti struktur waktu bak Tenet, menimbang konsekuensi moral dari peperangan seperti Dunkirk dan Oppenheimer, serta mempertanyakan batas realitas ala Inception, dengan skala kemegahan setara Interstellar maupun The Dark Knight.

Menariknya, semua itu tidak terasa seperti Nolan yang sedang mendaur ulang karya lamanya. Ia justru menemukan medium yang paling sempurna untuk menampung seluruh tema yang telah ia bedah sepanjang karier.

Tak hanya sekedar menyajikan petualangan pahlawan mitologis yang klise, The Odyssey racikan Nolan tampil sebagai refleksi tajam tentang trauma, dan rasa bersalah.

Nolan tidak menggambarkan Odysseus sebagai pahlawan klasik yang sempurna. Ia cerdas, strategis, dan memiliki kemampuan luar biasa sebagai pemimpin, namun kecerdasan itu berjalan beriringan dengan ego, manipulasi, serta rasa percaya diri yang berlebihan.

Odysseus mampu memenangkan perang berdarah di Troya, tetapi ia tidak selalu mampu mengendalikan dirinya sendiri. Oleh karena itu, perjalanan pulangnya terasa seperti sebuah bentuk hukuman psikologis.

Setiap pulau, monster, dan ancaman yang ia temui seolah menjadi representasi dari aspek tertentu dalam dirinya. Seperti kesombongan, rasa bersalah, nafsu, ketakutan, serta ketidakmampuannya untuk benar-benar melepaskan masa lalu.

Kompleksitas sang pahlawan ini disajikan melalui struktur penceritaan non-linear yang telah menjadi ciri khas sang sutradara.

Jika pada film-film Nolan sebelumnya (seperti Memento, Tenet, Inception dan Oppenheimer), gaya penceritaan melompat ini kerap kali membingungkan, di The Odyssey, struktur tersebut justru tampil sangat organik dan menemukan bentuk penyajiannya yang paling sempurna.

Bisa dibilang, The Odyssey terasa seperti sebuah mahakarya yang memang sejak awal ditakdirkan untuk dibuat oleh Nolan.

Sastra asli Homer pada dasarnya adalah pelopor teknik in medias res (memulai cerita dari tengah konflik), yang berarti jauh sebelum Nolan bereksperimen dengan gaya non-linear, Homer sudah terlebih dahulu melakukan sesuatu yang secara fundamental "sangat Nolan".

Film tidak menyajikan alur lurus dari sisa puing Perang Troya, melainkan langsung menyeret kita ke dalam pusaran keputusasaan di Ithaca.

Dari titik krisis ketika Telemachus kehilangan arah dan Ratu Penelope tersudut oleh para bangsawan serakah, cerita mulai melompat maju dan mundur secara organik ke memori traumatik Odysseus di lautan yang beringas.

Bagi saya pribadi, The Odyssey adalah film Nolan yang paling ramah penonton dan mudah dicerna setelah Insomnia, The Dark Knight Trilogy, dan Dunkirk. Kita tidak dituntut memecahkan puzzle, melainkan diajak mendengarkan sebuah dongeng epik yang terangkai dari puing-puing ingatan.

Pendekatan ini juga terasa sangat natural karena pada dasarnya, kita sebagai manusia memang terbiasa menyerap narasi yang tidak selalu bergulir dari garis awal.

Sering kali kita dihadapkan pada buntut dari sebuah peristiwa jauh sebelum kita memahami akar penyebabnya.

Kita kerap mengenal seseorang dari reputasinya atau setelah ia melewati berbagai fase pelik yang tak pernah kita saksikan secara langsung, sebelum akhirnya kepingan-kepingan masa lalu itu perlahan terkuak.

Eksplorasi cerita yang berlapis ini membuat film memiliki atmosfer yang terus bermutasi. Ada kalanya terasa seperti film perang, survival yang menguras fisik, horor mencekam, drama psikologis, hingga fantasi mitologis. Kekayaan corak ini jelas membuat film jauh dari kata monoton.

Eksekusi cerita yang ambisius ini menjadi semakin paripurna berkat ansambel cast papan atas yang memberikan performa kaliber tertinggi dalam karier mereka, terutama Matt Damon yang mempertaruhkan segalanya lewat dedikasi fisik dan mental yang luar biasa untuk menghidupkan kerapuhan sang raja Ithaca.

Anne Hathaway dan Tom Holland juga berhasil membangun chemistry ibu dan anak yang terasa sangat natural. 

Aura culas nan arogan juga dieksekusi secara memikat oleh Robert Pattinson yang memerankan antagonis Antinous, sementara Lupita Nyong'o tampil brilian lewat peran gandanya sebagai Helen of Troy dan Clytemnestra (istri dari Agamemnon). 

Bahkan kemunculan Benny Safdie sebagai Agamemnon, dengan screen time-nya hanya hitungan menit dan minim dialog, sukses menyita perhatian penuh lewat screen presence yang luar biasa intimidatif.

Alih-alih bertarung, ia menghabiskan porsi screen time hanya untuk berdiri tegap, berpose gagah, dan mengintimidasi dengan zirah hitamnya. 

Tak ketinggalan, kemunculan singkat nama-nama lain seperti Mia Goth, Zendaya, Elliot Page, Jon Bernthal, dan Charlize Theron juga mampu memberikan bobot emosional yang mengikat keseluruhan cerita.

Beranjak ke ranah teknis, karya ini menorehkan sejarah baru sebagai film layar lebar perdana yang direkam seratus persen menggunakan kamera film IMAX.

Bersama sinematografer langganannya, Hoyte van Hoytema, Nolan mengeksploitasi teknologi IMAX Keighley.

Nolan dan tim produksinya juga merancang wadah peredam suara khusus untuk membungkus kamera tersebut agar suaranya tidak bocor saat merekam dialog intim.

Inovasi ini sukses meredam kebisingan mesin kamera, sehingga dialog dapat terekam sempurna dengan kualitas audio tersinkronisasi.

Pendekatan visualnya pun semakin imersif karena Nolan tetap kukuh meminimalisir penggunaan CGI. Ketimbang mengandalkan green screen secara penuh, kru film menghabiskan waktu berbulan-bulan syuting di lautan lepas dari Yunani, Maroko, hingga Islandia.

Menyempurnakan mahakarya visual tersebut, komposer Ludwig Goransson kembali unjuk gigi meracik tata suara yang megah dan imersif. Desain musik dalam The Odyssey terasa sangat organik namun tetap garang menjaga skala epiknya.

Goransson dengan cerdas mengawinkan harmoni instrumen petik kuno, tabuhan genderang tradisional, dengan dentuman bass sinematik khas thriller masa kini.

Gemuruh musik inilah yang menjadi detak jantung ketegangan film, baik saat nyawa Odysseus berada di ujung tanduk di tengah samudra, maupun ketika Penelope terpojok oleh intrik di sudut istananya sendiri.

Kendati mendekati sempurna, karya ambisius ini tidak lepas dari celah. Kelemahan pertama The Odyssey ada pada kedalaman karakter pendukungnya.

Karena naskah terlalu mengunci fokus pada perjalanan psikologis Odysseus, Penelope, dan Telemachus, elemen di sekeliling mereka terasa kurang digali (underdeveloped).

Hal ini paling terasa pada kru kapal Odysseus. Minimnya latar belakang mereka membuat nasib tragis para kru di tangan monster laut gagal memberikan pukulan emosional yang maksimal kepada penonton.

Selain itu, dengan durasi nyaris menyentuh tiga jam, penonton kasual mungkin akan merasa pacing di pertengahan film agak melambat, terutama saat film melompat ke sisi konflik di Ithaca.

Namun, kekurangan tersebut tidak sepenuhnya mengganggu pengalaman menonton. Secara keseluruhan, The Odyssey adalah sebuah pembuktian sahih bahwa teks kuno berusia ribuan tahun pun mampu bersolek menjadi karya modern yang segar di tangan sosok yang tepat.

Saya sarankan untuk menonton film ini di layar IMAX jika memungkinkan, agar semua kelebihan teknisnya bisa dirasakan sepenuhnya.