Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
The Story of Body Language (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Pernah tidak, ketika sedang ngobrol dengan seseorang, tiba-tiba dia menggigit bibir, menggaruk hidung, atau menghindari tatapan mata? 

Bahasa tubuh memang sering membuat percakapan menjadi lebih menarik. Kita tidak hanya mendengar apa yang dikatakan seseorang, tetapi juga memperhatikan bagaimana ia duduk, menatap, tersenyum, menggerakkan tangan, hingga menunjukkan ekspresi wajah. Hal-hal kecil tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi seseorang.

Pembahasan mengenai komunikasi verbal dan nonverbal menjadi salah satu hal yang diangkat dalam buku The Story of Body Language: Cara Akurat Menaklukkan Orang Lain dengan Membaca Bahasa Tubuhnya karya Mira FD. Buku pengembangan diri yang diterbitkan Araska Publisher pada 2021 ini memiliki 232 halaman dan membahas bahasa tubuh sebagai bagian penting dalam interaksi sehari-hari.

Isi Buku

Secara sederhana, komunikasi memiliki dua elemen yang saling berkaitan. Pertama adalah komunikasi verbal, yaitu pesan yang disampaikan melalui kata-kata, baik secara langsung maupun tertulis. Kedua adalah komunikasi nonverbal, yaitu pesan yang disampaikan melalui ekspresi wajah, kontak mata, gestur, postur tubuh, intonasi, dan berbagai gerakan lainnya.

Keduanya jarang benar-benar terpisah dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang mengatakan “saya baik-baik saja”, misalnya, kalimat tersebut mungkin terdengar meyakinkan. Namun, jika diucapkan dengan wajah murung, suara pelan, dan tubuh yang terlihat tegang, kita bisa menangkap kesan yang berbeda. Bukan berarti orang tersebut pasti berbohong, tetapi bahasa tubuh memberikan konteks tambahan terhadap kata-kata yang diucapkan.

Salah satu contoh yang dibahas dalam buku adalah kebiasaan menyentuh atau menggaruk hidung. Gerakan tersebut dikaitkan dengan kemungkinan seseorang sedang berbohong atau mengalami tekanan. Ketika seseorang berada dalam kondisi stres, tubuh memang dapat menunjukkan berbagai respons fisik.

Namun, bagian ini perlu dibaca secara kritis. Seseorang yang menyentuh hidung belum tentu sedang berbohong. Bisa saja hidungnya memang gatal, sedang alergi, merasa tidak nyaman, atau sekadar memiliki kebiasaan tertentu. Karena itu, satu gerakan tubuh tidak seharusnya dijadikan bukti tunggal untuk menilai kejujuran seseorang.

Hal serupa berlaku pada kebiasaan menggigit, menyedot, atau menjilat bibir. Gerakan tersebut dapat muncul ketika seseorang merasa tegang, cemas, takut, atau tidak nyaman. Dalam situasi tertentu, tindakan tersebut bisa menjadi bentuk self-soothing, yaitu cara tubuh meredakan ketegangan.

Bayangkan seseorang sedang menjalani wawancara kerja. Pewawancara tiba-tiba bertanya tentang pengalaman yang cukup sulit. Ia kemudian menggigit bibir atau menarik napas panjang. Kita mungkin bisa menangkap adanya ketegangan. Tetapi kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.

Kelebihan dan Kekurangan

Di antara berbagai bentuk komunikasi nonverbal, mata sering mendapat perhatian khusus. Tatapan mata dapat memperlihatkan perhatian, ketertarikan, keraguan, rasa tidak nyaman, atau emosi tertentu. Tidak mengherankan jika mata sering disebut sebagai “jendela jiwa”.

Meski demikian, kontak mata juga dipengaruhi budaya, kepribadian, situasi, dan kebiasaan seseorang. Orang yang jarang melakukan kontak mata tidak otomatis sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu.

Justru di sinilah menariknya mempelajari bahasa tubuh. Tujuannya bukan menjadi “detektor kebohongan berjalan”, melainkan menjadi komunikator yang lebih peka.

Dengan memahami komunikasi nonverbal, kita dapat lebih memperhatikan apakah pesan yang disampaikan melalui kata-kata sejalan dengan ekspresi dan gestur seseorang. Kita juga dapat memahami kapan lawan bicara tampak nyaman, tegang, bosan, atau membutuhkan ruang.

Komunikasi yang baik bukan hanya soal memilih kata yang tepat. Cara menyampaikan kata-kata juga memiliki peran besar. Bahasa tubuh dapat memperkuat pesan verbal, memberikan konteks, sekaligus membantu kita memahami respons lawan bicara.

The Story of Body Language mengajak pembaca melihat percakapan dari sudut yang lebih luas: bahwa ketika seseorang berbicara, sebenarnya tubuhnya juga ikut “berbicara”.

Tetapi membaca bahasa tubuh membutuhkan kehati-hatian. Satu gerakan bukanlah vonis. Kita perlu melihat konteks, kebiasaan individu, rangkaian gestur, serta situasi secara keseluruhan.

Sebab memahami orang lain bukan tentang mencari satu tanda lalu buru-buru menyimpulkan.

Kadang, kemampuan komunikasi terbaik justru dimulai dari kesediaan untuk mengamati tanpa cepat menghakimi.

Identitas Buku

  • Judul: The Story of Body Language: Cara Akurat Menaklukkan Orang Lain dengan Membaca Bahasa Tubuhnya
  • Penulis: Mira FD
  • Penerbit: Araska Publisher
  • Tahun Terbit: 2021
  • Tebal: 232 halaman
  • ISBN: 978-623-7910-64-0
  • Kategori: Self-Improvement