Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Kapal Laut (Unsplash/@anjurnath)
Oktavia Ningrum

Kapal tidak hanya berhadapan dengan laut. Di dalamnya ada manusia, ada perwira, ada jurumudi, ada prosedur, ada alat navigasi, ada alarm, ada keputusan yang harus diambil dalam hitungan menit. KMP Virgo Transport 8 berukuran sekitar 119 meter dengan lebar sekitar 21 meter. Kapal jenis Ro-Ro tersebut dibuat di Jepang pada 1987 dan mulai beroperasi di Indonesia pada 2026 untuk rute Surabaya–Banjarmasin. Pada 13 September 2026, kapal itu mengalami kecelakaan di Laut Jawa ketika membawa 243 orang. Pemerintah kemudian menyerahkan penyelidikan penyebab kecelakaan kepada KNKT.

Terlalu cepat menyimpulkan bahwa kapal terbalik semata-mata karena ombak juga tidak tepat. Ini bukan berarti ombak tidak bahaya. Laut tetap laut. Cuaca dapat berubah, gelombang dapat membesar, dan kecelakaan bisa terjadi meskipun awak sudah berhati-hati. Tetapi justru karena laut tidak bisa dikendalikan, faktor manusia dan sistem keselamatan menjadi semakin penting.

Di kapal, ada orang yang bertugas mengawasi kondisi pelayaran. Ada perwira jaga, jurumudi, prosedur komunikasi, sistem navigasi, alarm, dan berbagai perangkat keselamatan. Mereka bukan sekadar orang yang ada di anjungan. Mereka memiliki tanggung jawab profesional untuk membaca kondisi kapal dan mengambil tindakan sesuai prosedur ketika muncul keadaan darurat.

Apa yang terjadi beberapa menit sebelum kapal kehilangan kendali? Apakah ada perubahan kemiringan kapal? Apakah ada indikasi masuknya air? Bagaimana kondisi muatan? Apakah kendaraan di geladak bergeser? Apakah alarm bekerja? Apakah informasi dari anjungan segera diteruskan kepada awak dan penumpang? Apakah prosedur keadaan darurat dijalankan tepat waktu?

Kasus kapal Tunu Pratama Jaya pada 2025 menunjukkan mengapa pertanyaan semacam ini penting. Dalam laporan investigasinya, KNKT menemukan sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan, termasuk overdraft akibat muatan kendaraan berlebihan, masuknya air ke geladak kendaraan, pergeseran kendaraan ketika kapal miring, serta resonansi oleng. Artinya, kecelakaan kapal dapat merupakan rangkaian faktor, bukan satu penyebab tunggal. Karena itu pula, usia kapal harus dibicarakan secara proporsional.

Virgo Transport 8 memang bukan kapal baru. Kapal tersebut dibangun pada 1987 dan masih beroperasi di Jepang hingga 30 Juni 2025 sebelum kemudian berpindah ke Indonesia. Kapal tua bukan otomatis kapal tidak laik. Sebaliknya, kapal yang relatif baru juga tidak otomatis bebas risiko. Yang harus diperiksa adalah kondisi aktual kapal, hasil pemeriksaan, perawatan, modifikasi, stabilitas, sistem keselamatan, kondisi muatan, kelayakan operasi, serta bagaimana kapal tersebut diawaki.

Justru karena kapal itu baru memasuki operasi komersial Indonesia pada 2026, proses perpindahan dari satu lingkungan operasi ke lingkungan lain patut menjadi bagian yang diperiksa secara serius. Ada perbedaan karakteristik perairan, pola operasi, muatan, pelabuhan, dan prosedur. Tetapi apakah faktor tersebut berkontribusi dalam kecelakaan Virgo Transport 8, sekali lagi, harus dibuktikan oleh investigasi.

Yang juga tidak boleh dilupakan adalah manusia di anjungan. Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan karena keselamatan kapal pada akhirnya dijalankan oleh manusia. Teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan orang yang tahu cara menggunakannya. Alarm harus dikenali. Situasi darurat harus dipahami. Komunikasi harus berjalan. Keputusan harus diambil tanpa menunggu keadaan menjadi lebih buruk.

Panik memang manusiawi. Tetapi sistem keselamatan dibuat justru karena manusia bisa panik. Maka evaluasi setelah kecelakaan seharusnya tidak berhenti pada kondisi lambung atau besarnya gelombang. Kita perlu bertanya apakah seluruh rantai keselamatan bekerja sebagaimana mestinya: dari perusahaan, pemeriksaan kapal, perawatan, awak kapal, muatan, pengawasan, hingga respons keadaan darurat.

Kita tidak sedang mencari siapa yang paling mudah disalahkan. Kita sedang mencari jawaban agar 243 orang yang naik kapal tidak lagi hanya dianggap sebagai angka dalam manifest. Sebab ketika sebuah kapal membawa manusia, keselamatan bukan sekadar kemampuan kapal menghadapi ombak. Keselamatan adalah kemampuan seluruh sistem untuk mengenali bahaya, meresponsnya, dan membawa manusia pulang.