Lintang Siltya Utami | aisyah khurin
Novel Pengakuan Pariyem (goodreads.com)
aisyah khurin

Dunia kesusastraan Indonesia pada awal dekade 1980-an mencatat kehadiran sebuah karya yang tidak hanya fenomenal secara bentuk estetis, tetapi juga secara mendalam mengusik batas-batas wacana kebudayaan dan gender, yakni Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG.

Ditulis dalam genre prosa lirik, sebuah bentuk penceritaan yang memadukan kebebasan struktur prosa dengan irama serta ritme puisi, karya ini mendedikasikan narasinga kepada sosok perempuan desa dari lapisan sosial bawah yang mengabdi sebagai pembantu rumah tangga (babu) di lingkungan priyayi Yogyakarta. Dedikasi karya ini, yang dialamatkan "untuk Umar Kayam" dan pertama kali diterbitkan secara komersial oleh Sinar Harapan pada tahun 1981 dengan sampul ikonik buatan Sukasman, memperlihatkan bagaimana entitas tradisi Jawa diartikulasikan kembali melalui kepekaan naluri modernisme lokal. 

Melalui tutur naratif berperspektif orang pertama yang bersikap santun dan komunikatif, karya ini menghadirkan pergolakan batin serta cara pandang hidup yang berpijak pada faham lega lila atau keikhlasan. Pengakuan Pariyem tidak sekadar menyajikan rekam jejak kehidupan seorang perempuan yang tersubordinasi oleh sistem kelas dan patriarki, melainkan juga membongkar kompleksitas hubungan antara pusat kebudayaan kota dengan pinggiran desa, erotisisme dengan kesucian, serta kepasrahan dengan kedaulatan diri. 

Sinopsis Novel Pengakuan Pariyem

Berlatar belakang kehidupan masyarakat Jawa pada dekade 1970-an, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Tokoh utama, Pariyem, adalah seorang gadis muda yang berasal dari sebuah dusun di Wonosari, Gunungkidul. Orang tua Pariyem, Parjinah dan suaminya, pada mulanya bekerja sebagai seniman pertunjukan kethoprak dan ledhek.

Namun, gejolak politik pasca-peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965 menghancurkan kelompok kesenian tempat mereka bernaung, sehingga membuat kegiatan kesenian tersebut punah. Terdesak oleh kehancuran mata pencaharian, kedua orang tua Pariyem beralih profesi menjadi petani kecil yang menggarap tiga petak tanah bengkok milik perangkat desa (Pak Sosial) yang sangat terbatas luasnya. 

Kondisi ekonomi keluarga yang melarat serta ketidakmampuan sektor pertanian lokal dalam menyerap tenaga kerja mendorong Pariyem untuk melakukan migrasi urban ke kota Yogyakarta demi membantu menopang perekonomian keluarganya. Di Yogyakarta, Pariyem mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga (babu) di kediaman keluarga priyayi berpengaruh, Ndoro Kanjeng Cokro Sentono, yang bertempat tinggal di ndalem Suryo Mentaraman, Yogyakarta.

Keluarga bangsawan ini terdiri atas Ndoro Kanjeng, istrinya yang disapa Ndoro Ayu, serta dua anak mereka, yaitu Raden Bagus Ario Atmojo dan Ndoro Putri Rubi Wiwit Setio Wati. Pariyem memandang keluarga majikannya dengan rasa hormat yang mendalam, menganggap Ndoro Kanjeng sebagai sosok berpengaruh dan berdarah biru yang memiliki kepribadian istimewa. 

Dinamika dramatik utama dalam narasi ini berkembang ketika timbul hubungan intim dan ketertarikan seksual antara Pariyem dengan putra sulung majikannya, Raden Bagus Ario Atmojo (Den Bagus Ario), seorang mahasiswa jurusan filsafat. Den Bagus Ario terpesona oleh kecantikan dan daya pikat fisik Pariyem.

Hubungan di luar nikah tersebut mengakibatkan Pariyem hamil. Menghadapi situasi yang berpotensi merusak reputasi keluarga priyayi, Ndoro Kanjeng mengambil keputusan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara internal dan kekeluargaan. 

Ndoro Kanjeng memutuskan agar Pariyem dipulangkan sementara ke desa asalnya di Wonosari selama kurang lebih satu tahun untuk merawat diri dan melahirkan bayinya. Selama masa pemulihan di desa, seluruh biaya hidup dan kebutuhan Pariyem ditanggung oleh keluarga Ndoro Kanjeng.

Setelah melahirkan, anak yang dikandung Pariyem diakui secara sah sebagai keturunan Den Bagus Ario dan bagian dari keluarga besar Cokro Sentono, meskipun tanpa ikatan pernikahan resmi antara Pariyem dan Den Bagus Ario. Pariyem kemudian diminta kembali ke Yogyakarta untuk menjalankan tugasnya sebagai pembantu rumah tangga seperti sediakala, sementara bayinya ditinggalkan di Wonosari di bawah pengasuhan orang tua Pariyem.

Demi menjalankan peran ganda sebagai pekerja domestik dan ibu, Pariyem secara rutin pergi-pulang setiap sebulan sekali antara Yogyakarta dan Wonosari untuk menengok anak kandungnya. 

Kelebihan

Salah satu keunggulan utama dari karya ini terletak pada inovasi bentuk estetisnya berupa prosa lirik. Linus Suryadi AG secara jenius berhasil meleburkan batas-batas konvensional antara puisi dan prosa, menciptakan bahasa berirama yang kaya akan leksem, kosakata, frasa, dan metafora bahasa Jawa. Penulisan ini menghasilkan alur bunyi yang merdu serta tekstur naratif yang sangat puitis. 

Kelebihan lainnya adalah kedalaman penggambaran karakter Pariyem sebagai representasi subjek perempuan Jawa. Berbeda dari narasi subaltern konvensional yang kerap menempatkan tokoh perempuan lapisan bawah semata-mata sebagai korban yang pasif dan menderita, Pariyem ditampilkan memiliki kesadaran kritis dan kedaulatan atas tubuh serta pikirannya. 

Selain itu, karya ini memiliki kekuatan sosiologis yang luar biasa dalam memetakan realitas sosial-ekonomi masyarakat Jawa pada era 1970-an. 

Kekurangan

Pengakuan Pariyem memiliki beberapa keterbatasan struktural dan tematis. Dari segi keterbacaan, gaya prosa lirik yang subjektif, tidak kronologis, serta sarat akan kosakata dan frasa bahasa Jawa dapat menjadi hambatan komunikasi yang signifikan bagi pembaca umum, khususnya pembaca non-Jawa atau generasi kontemporer yang tidak akrab dengan latar kultural Kejawen. 

Penerimaan Pariyem terhadap nasibnya termasuk ketidakpastian status hukum atas anak yang dilahirkannya serta persetujuannya untuk dipisahkan dari sang anak demi kembali menjadi pembantu dapat ditafsirkan sebagai bentuk pembenaran (justifikasi) terhadap subordinasi kelas dan gender apabila dibaca tanpa kacamata kritis. 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG berdiri sebagai sebuah karya sastra monumental yang berhasil mentransformasikan konvensi penceritaan prosa Indonesia melalui eksperimentasi bentuk prosa lirik. Novel ini tidak hanya berhasil merekam dengan cermat lanskap sosial-budaya masyarakat Jawa pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX, melainkan juga menawarkan artikulasi kebudayaan yang kaya akan nuansa lokalitas. 

Keberhasilan Pengakuan Pariyem dalam mengundang beragam tafsir membuktikan kekayaan tekstual dan kedalaman makna yang dikandungnya. Karya ini pada akhirnya mengundang setiap pembaca untuk merefleksikan kembali hakikat keselarasan, kedaulatan individu, dan batas-batas kemanusiaan di tengah himpitan struktur sosial yang tak pernah sepenuhnya adil.

Identitas Buku

  • Judul: Pengakuan Pariyem
  • Penulis: Linus Suryadi
  • Penerbit: Sinar Harapan
  • Tanggal Terbit: 1 Januari 1981
  • Tebal: 244 Halaman