Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Novel Dari Hari ke Hari karya Mahbub Djunaidi (DIVA Press)
Fathorrozi 🖊️

Saat membaca novel Dari Hari ke Hari karya Mahbub Djunaidi ini, saya merasa bukan sekadar membaca sebuah cerita tentang masa revolusi Indonesia, tetapi seperti bertamu ke masa lalu dan melihat pergolakan bangsa dari dekat, dari mata seorang bocah yang polos, nakal, kritis, dan kadang menggelikan.

Novel ini pertama kali diterbitkan pada 1975 oleh Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, setelah sebelumnya meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1974. Mahbub Djunaidi sendiri pernah mengakui bahwa novel ini merupakan novel autobiografi. Jadi, pengalaman tokoh “aku” sangat dekat dengan pengalaman Mahbub ketika masih belasan tahun.

Kisahnya berlatar sekitar masa revolusi dan pergolakan awal kemerdekaan, terutama ketika keluarga tokoh utama harus meninggalkan Jakarta menuju Solo karena pusat pemerintahan Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.

Sang ayah, Mohammad Junaidi, merupakan pegawai Jawatan Mahkamah Islam Tinggi. Bersama ibu dan adik-adiknya, si “aku” menjalani kehidupan sebagai keluarga pengungsi.

Dari perjalanan naik kereta, sekolah, bermain dengan teman, mengaji, membaca buku, mendengarkan percakapan orang dewasa, sampai menyaksikan ketegangan politik, semuanya diceritakan melalui sudut pandang seorang anak. Di situlah kekuatan terbesar novel ini.

Sejarah dari Kacamata Bocah

Saya sempat merasa bagian awal novel ini berjalan agak lambat. Bab pertama banyak bercerita tentang perjalanan kereta, sekolah, teman, orang-orang yang ditinggalkan di Jakarta, dan berbagai hal kecil lainnya. Namun setelah masuk lebih jauh, saya mulai memahami mengapa Mahbub memilih cara seperti itu. Karena Mahbub memang tidak sedang menulis buku sejarah. Tapi, ia sedang menunjukkan bagaimana sejarah dirasakan oleh manusia biasa.

Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville, pemberontakan Musso di Madiun, Agresi Militer Belanda II, pembumihangusan Solo, hingga sekilas tentang DI/TII tidak disajikan seperti materi pelajaran di sekolah. Semua itu muncul sebagai sesuatu yang didengar, dilihat, atau dipertanyakan oleh seorang anak.

Tokoh “aku” bahkan sering bertanya dengan logika sederhana yang justru membuat saya tersenyum. Ketika mendengar adanya perundingan Renville, misalnya, ia mempertanyakan mengapa perundingan harus dilakukan di atas kapal. Pertanyaan yang bagi orang dewasa mungkin terdengar sepele, tetapi dari mulut seorang anak terasa sangat alami.

Begitu pula ketika ia mendapat tugas membuat karangan tentang cita-cita. Alih-alih langsung menjawab, ia malah mempertanyakan apa sebenarnya cita-cita itu.

“Selayaknya pak guruku yang satu lagi baik hati ini maklum, betapa anak-anak seumurku ini punya rupa-rupa cita-cita yang tidak menentu, atau barangkali tak masuk di akal. Sedangkan orang tua banyak yang tak jelas apa kemauannya, konon pula anak-anak.” (Halaman 76).

Saya suka bagian seperti ini karena Mahbub tidak membuat anak kecilnya menjadi “orang dewasa yang disamarkan”. Ia benar-benar anak kecil. Ia penasaran, kadang egois, suka bermain, memikirkan makanan, sekolah, teman, dan hal-hal remeh. Tetapi justru melalui kepolosannya itulah pembaca dapat melihat absurditas dunia orang dewasa.

Revolusi Tidak Selalu Harus Diceritakan dengan Darah

Di antara hal yang paling saya nikmati adalah cara Mahbub menceritakan perang tanpa menjadikan novelnya penuh adegan kekerasan.

Revolusi memang ada. Tentara membawa senjata. Belanda datang. Kota terancam dibakar. Penduduk melakukan ronda. Sirene serangan udara berbunyi. Orang-orang mengungsi. Ada pemberontakan dan pembunuhan. Namun tokoh “aku” tetap menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Ia sekolah. Ia bermain. Ia mengobrol dengan teman. Ia memikirkan makanan. Bahkan ada kenakalan-kenakalan kecil yang membuatnya terasa begitu manusiawi. Dalam satu bagian, ia bahkan mencuri dan menjual Al-Qur’an yang dititipkan di rumah keluarganya. Kehidupan yang tampak biasa itulah yang membuat suasana revolusi justru terasa lebih nyata.

Maka tepat sekali jika Maman S. Mahayana menyebut novel ini menarik dan renyah karena revolusi dilihat melalui kacamata anak tanggung. Pertumpahan darah yang seharusnya mengerikan terkadang justru terasa menggelikan. Menurut saya, inilah salah satu ciri khas kritik Mahbub. Ia tidak selalu harus berteriak untuk menyampaikan kritik. Kadang cukup dengan kelakar.

Mahbub juga tidak menyederhanakan sejarah menjadi pertarungan hitam-putih antara pahlawan dan pengkhianat. Ada orang yang terpaksa mengambil keputusan sulit karena keadaan. Ada pegawai negeri yang tidak mungkin begitu saja meninggalkan keluarganya untuk bergerilya. Ada orang yang bekerja kepada pihak tertentu bukan semata karena ideologi, melainkan karena kebutuhan hidup.

“Sebenarnya, aku ingin pulang. Aku benci Belanda, mengagumi tentara Republik, tapi tatkala aku pulang sambil mengempit lonjoran roti tempo hari (bayaran kerja rodi dari Belanda), hatiku bisa senang. Tapi, betapapun senangnya hati, tak pernah kubayangkan nistanya andaikata kakekku bekerja di kantor Belanda, menjadi orang federal.” (Halaman 134).

Solo yang Memilih Membakar Dirinya

Bagian yang paling berkesan bagi saya adalah ketika cerita memasuki situasi genting di Solo. Masyarakat Kauman bersiap menghadapi kemungkinan serangan Belanda. Ronda dilakukan. Senjata sederhana disiapkan. Bahkan benda-benda yang sehari-hari tidak berhubungan dengan perang bisa berubah menjadi alat pertahanan. Yang paling membekas adalah strategi membakar kota.

Saya sebelumnya lebih akrab dengan istilah Bandung Lautan Api. Tetapi melalui novel ini saya kembali menyadari bahwa Solo juga memiliki pengalaman pembumihangusan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ironisnya, tindakan tersebut bukan kemenangan yang indah. Membakar kota sendiri berarti menghancurkan tempat tinggal dan kehidupan sendiri agar musuh tidak mendapatkan keuntungan. Di titik ini, novel yang sejak awal terasa jenaka mendadak berubah menjadi sangat getir.

Lebih menyakitkan lagi ketika cerita menyentuh nasib Sersan Husni. Ia selamat dari peluru Belanda, tetapi kemudian tewas ketika menghadapi kelompok dari bangsanya sendiri.

“Peluru Belanda tidak pernah menyentuh kulitnya yang segar, kenapa peluru yang dibidik oleh tangan bangsa sendiri merampas nyawanya?” (Halaman 164).

Petikan ini menjadi salah satu bagian yang paling menghantam saya. Ada ironi besar di dalamnya, yakni seseorang bisa bertahan dari penjajahan, tetapi justru kehilangan nyawa dalam konflik sesama anak bangsa.

Mahbub, Sang Pencerita yang Tidak Menggurui

Setelah membaca sampai selesai, saya semakin memahami mengapa Ahmad Tohari mengatakan bahwa dirinya mengaku sebagai “santri” Mahbub karena karya-karyanya banyak menempel di kepalanya. Ia bahkan menyebut Dari Hari ke Hari sebagai salah satu karya Mahbub yang dibacanya berulang kali. Saya bisa memahami alasan itu.

Mahbub memang punya kemampuan bercerita yang luar biasa. Ia dapat membicarakan persoalan besar dengan bahasa yang terasa ringan. Ia tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya sedang menulis sastra. Justru karena itulah tulisannya terasa hidup.

Andina Dwifatma juga menyebut novel ini sebagai salah satu novel kesukaannya. Ia menilai Mahbub mampu menceritakan sesuatu yang “besar” dengan mengalir tanpa beban, melalui kehidupan dan hal-hal kecil yang layak dirayakan. Saya juga sepakat.

Ada kalanya saya merasa seperti sedang mendengarkan seorang kakek bercerita tentang masa mudanya. Ceritanya bisa melebar ke mana-mana, tetapi selalu ada sesuatu yang membuat saya ingin terus mendengarkan.

Mahbub juga sangat piawai menggunakan humor, metafora, analogi, dan sindiran. Bahkan pembukaan novelnya saja sudah memperlihatkan kelihaian tersebut:

“Sore yang jatuh membuat kereta api, si Jerman tua bangka itu, menjadi anggun dan muda.”

Sederhana, tetapi imajinatif.

Begitu pula ketika ia menggambarkan seekor kucing yang bertambah gemuk di tengah penduduk yang justru semakin kurus. Humor semacam ini bukan sekadar lucu. Ada kritik sosial yang diselipkan secara halus di dalamnya.

Kelebihan dan Kekurangan

Menurut saya, kekuatan utama Dari Hari ke Hari terletak pada sudut pandangnya. Sejarah yang biasanya terasa jauh dan serius menjadi dekat karena dilihat melalui kehidupan anak-anak.

Alurnya memang tidak penuh ledakan konflik. Bahkan bagi pembaca yang terbiasa dengan novel modern yang cepat, beberapa bagian mungkin terasa datar dan ngalor-ngidul. Namun, saya justru melihat itu sebagai konsekuensi dari karakter tokoh utama yang memang masih anak-anak.

Bahasa yang digunakan juga cukup klasik. Bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan gaya bahasa sastra lama, bagian awal mungkin terasa sedikit berat. Saya sendiri sempat membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Selain itu, kisahnya yang sepenggal-sepenggal membuat saya harus sesekali berhenti dan mencari tahu kembali peristiwa sejarah yang sedang dibicarakan. Tetapi justru di situlah pengalaman membaca menjadi menarik.

Relevansinya bagi Pemuda Masa Kini

Menurut saya, Dari Hari ke Hari masih sangat relevan untuk dibaca generasi sekarang. Kita hidup di zaman ketika informasi sejarah tersedia begitu banyak, tetapi perhatian terhadap sejarah justru mudah terpecah oleh konten pendek. Anak muda bisa mengenal banyak hal dari media sosial, tetapi belum tentu memahami bagaimana bangsa ini sampai pada titik sekarang.

Novel Mahbub menawarkan cara lain untuk belajar. Ia tidak menggurui. Ia tidak menyuruh pembaca menghafalkan tanggal dan nama tokoh. Ia mengajak kita merasakan bagaimana rasanya hidup ketika negara masih rapuh, ketika sekolah terganggu, ketika harga kebutuhan melonjak, ketika keluarga harus mengungsi, dan ketika masa depan belum jelas.

Bagi pemuda masa kini, novel ini juga mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya milik tokoh besar. Sejarah juga dibentuk oleh keluarga biasa, anak-anak, guru, pedagang, tentara, pegawai negeri, dan masyarakat kampung yang bertahan dari hari ke hari.

Identitas Buku

  • Judul: Dari Hari ke Hari
  • Penulis: Mahbub Djunaidi
  • Penerbit: DIVA Press
  • Cetakan: Maret, 2018
  • Tebal: 244 Halaman
  • ISBN: 978-602-391-514-9
  • Genre: Fiksi/Novel