Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Genduk Duku (Gramedia)
Chairun Nisa

Siapa sangka sosok dayang justru mampu menancapkan kesan yang jauh lebih dalam ketimbang seorang tuan putri? Membaca trilogi ini dengan urutan terbalik, dimulai dari Lusi Lindri lalu mundur ke Genduk Duku, awalnya sempat membuat saya meragukan daya pikat kisah seorang pelayan.

Terbesit pikiran apa yang begitu istimewa dari seorang dayang karena kisah hidupnya tentu tidak akan semenarik petualangan para perempuan bangsawan.

Namun, dugaan keliru itu segera runtuh seketika. Di tangan dingin Y.B. Mangunwijaya, Genduk Duku sama sekali bukan sekadar ornamen pelengkap cerita Rara Mendut.

Ia menjelma menjadi perempuan biasa yang diberi ruang utuh untuk memiliki kisah, kehendak, cinta, serta martabatnya sendiri.

Sinopsis

Genduk Duku merupakan novel kedua dari trilogi Rara Mendut yang berlatar belakang masa transisi Kesultanan Mataram Islam, tepatnya di penghujung pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo hingga peralihan kekuasaan ke tangan Sultan Amangkurat I.

Cerita bermula pascatragedi gugurnya Rara Mendut dan kekasihnya, Pranacitra, yang memilih mati demi menolak tunduk pada syahwat kuasa Tumenggung Wiraguna. Sebagai orang terdekat yang dianggap turut bersalah, Genduk Duku terpaksa melarikan diri dari kejaran prajurit istana.

Pelariannya menyusuri pesisir utara hingga berlabuh di Telukcikal, tempat ia bertemu dengan seorang nelayan sederhana bernama Slamet yang kemudian menjadi suaminya dan dikaruniai seorang putri bernama Lusi.

Ketenangan hidup Duku tidak berlangsung lama karena rasa utang budi kepada Bendara Pahitmadu memaksa keluarganya kembali ke wilayah Mataram.

Kepulangan tersebut justru menjerumuskan mereka ke dalam pusaran intrik istana, terutamanya perseteruan Tumenggung Wiraguna dengan Pangeran Aria Mataram yang menculik selir muda Tejarukmi.

Duku dan Slamet yang dimintai tolong mendatangi puri sang pangeran mendapati kenyataan pahit ketika Pangeran Aria Mataram mengembalikan Tejarukmi demi menghindari murka Sultan.

Tragedi memuncak saat Tumenggung Wiraguna yang menanggung malu menikam Tejarukmi, sementara Slamet tewas seketika karena berusaha menjadi perisai hidup.

Kematian suaminya membangkitkan dendam kesumat di dada Duku. Sadar dirinya hanyalah rakyat jelata yang tak berdaya di hadapan penguasa lalim, ia mengungsi ke Jali lalu ke Kedu bersama Arumardi di tengah gelombang pembantaian berdarah saat Amangkurat I naik tahta.

Sebagai karya di posisi tengah, novel ini justru menawarkan kelebihan yang luar biasa. Genduk Duku menjabarkan alur petualangan yang jauh lebih intens dibandingkan buku pertamanya, dituturkan dengan gaya bahasa yang terasa lebih matang dan dewasa.

Hal ini sangat wajar sebab Duku menjalani bentangan hidup yang panjang, mulai dari masa perawan, menikah, hingga memiliki anak, sehingga proses tumbuh kembang karakternya terolah dengan sangat apik.

Selain itu, porsi konflik politik dalam buku ini digarap dengan cermat dan mendalam, menyoroti pergolakan suksesi tahta serta tabiat buruk penguasa yang kelak menorehkan sejarah kelam.

Kehadiran Duku membuktikan bahwa karya penengah ini sama sekali bukan sekadar pengisi kekosongan, melainkan sebuah narasi bernyawa yang berdiri megah.

Kendati demikian, novel ini tetap menyimpan dinamika penceritaan yang unik. Kepiawaian Romo Mangun dalam merajut kata kerap menghadirkan kejutan berupa alur tak terduga yang mematikan karakter secara dramatis, membuat kita sebagai pembaca ikut hanyut merasakan kepasrahan dan kegetiran bersama para tokohnya.

Ada pula beberapa bagian alur dan kemunculan tokoh sampingan yang sengaja dibiarkan mengalir tanpa penjelasan panjang lebar, memberikan ruang bagi pembaca untuk merenungkan sendiri keluasan maknanya.

Rentang hidup Duku yang panjang membuat setiap peristiwa bergulir dengan dinamis, di mana satu babak pergolakan segera menyusul babak lainnya dalam pusaran sejarah yang besar.

Di tengah kuatnya intrik politik istana, perjalanan batin Duku justru menjelma sebagai jangkar emosional yang membumi. Pada akhirnya, berbagai catatan kecil tersebut sama sekali tidak meruntuhkan kemegahan novel ini, melainkan semakin meneguhkannya sebagai sebuah mahakarya tentang ketangguhan perempuan biasa yang berani bertahan di tengah hantaman zaman.