Film horor religi Indonesia Hidayah yang dirilis pada 12 Januari 2023 merupakan adaptasi dari sinetron legendaris berjudul sama yang populer pada 2005–2007. Disutradarai oleh Monty Tiwa dengan skenario Baskoro Adi Wuryanto, film ini diproduksi oleh Pichouse Films bersama Clock Work Films dan MAXstream sebagai Maxstream Original. Durasi sekitar 92 menit, film ini dibintangi Ajil Ditto sebagai Bahri, Givina sebagai Ratna, Alif Joerg sebagai Hasan, Unique Priscilla sebagai Hesti, Khiva Iskak sebagai Burhan, serta dukungan Dewi Yull, Joshua Pandelaki, dan lainnya.
Sinopsis berpusat pada Bahri, ustadz muda yang pernah tersangkut masalah hukum dan berusaha memulai hidup baru sebagai montir di Jakarta. Sahabatnya, Hasan, datang meminta bantuan karena Desa Mekarwangi diganggu fenomena gaib yang diyakini berasal dari Ratna, teman lama Bahri yang menderita sakit aneh tanpa dapat meninggal. Teriakan kesakitan Ratna dan penampakan makhluk gaib menghantui warga setiap malam. Bahri kembali ke desa, menghadapi teror yang semakin intens setelah kematian Ratna, tuduhan warga, pengungkapan masa lalunya, serta perjuangan menguatkan iman untuk mengalahkan kekuatan jahat.
Ulasan Film Hidayah
Sebagai film horor religi, Hidayah menggabungkan elemen suspense, jump scare terbatas, dan pesan moral tentang hidayah, iman, serta azab. Monty Tiwa, yang sebelumnya menangani film seperti Pocong the Origin dan Ghibah, menghadirkan sinematografi Jimmy Fajar serta scoring Andi Rianto yang mendukung suasana tegang. Eksekusi awal yang menegangkan, akting Givina dalam peran Ratna yang menyeramkan, serta twist akhir yang memberi makna pada judul.
Namun, kritikku terkait alur yang terasa lambat di bagian tengah, pengembangan karakter yang kurang mendalam, dan visual pocong yang kadang kurang meyakinkan. Dari data yang kubaca rating rata-rata berkisar 5,2–5,3 di IMDb, dengan sebagian penonton menilai film ini aman dan bernilai pesan positif, sementara yang lain merasa kurang mengejutkan dibanding ekspektasi adaptasi sinetron klasik.
Film Hidayah sebagai Maxstream Original telah tersedia untuk ditonton di platform Maxstream sejak sekitar akhir Juli 2023. Sebagai konten original, film ini tetap dapat diakses melalui aplikasi atau situs resmi Maxstream.
Salah satu adegan yang paling membuat bulu kudukku berdiri adalah momen di sekitar liang kubur dan penampakan mayat Ratna. Setelah kematian Ratna, gangguan gaib justru semakin parah. Mayatnya muncul kembali ke permukaan kuburan, disertai visual pocong yang melayang dan teriakan yang mengganggu ketenangan desa. Adegan ini diperkuat oleh lighting gelap, scoring yang mencekam, serta detail setting pemakaman yang authentic.
Adegan di liang lahat terasa sangat creepy karena melibatkan penampilan Givina secara langsung, bukan sekadar boneka, sehingga menciptakan ketegangan yang intens dan membuatku merasa seolah berada di lokasi tersebut. Momen kesurupan Ratna di tempat tidur juga menambah rasa tidak nyaman dengan akting yang natural dan ekspresi penderitaan yang mendalam.
Adegan yang paling membekas setelah menonton filmnya adalah plot twist di bagian akhir terkait Hasan. Setelah Bahri berhasil menghadapi ancaman dan membersihkan nama baik Ratna, polisi datang membawa kabar bahwa Hasan sebenarnya telah meninggal beberapa hari sebelumnya. Bahri pun menyadari bahwa sosok yang menjemputnya ke desa adalah arwah sahabatnya sendiri.
Twist ini memberikan dimensi emosional yang kuat, mengubah persepsi tentang kehadiran Hasan sepanjang film, serta menegaskan tema hidayah dan pertolongan dari dimensi spiritual. Momen ini, disertai keputusan Bahri untuk kembali menjadi ustadz dan mengajar di pesantren dengan iman yang lebih kokoh, meninggalkan kesan mendalam tentang penebusan dan bimbingan ilahi.
Jadi kesimpulannya, Hidayah berhasil menghadirkan nostalgia sinetron religi dalam format film modern dengan sentuhan horor. Kekuatannya terletak pada pesan moral, suasana desa yang otentik, serta beberapa momen tegang yang efektif. Kelemahannya terletak pada konsistensi horor dan kedalaman karakter.
Buat kamu penggemar genre horor religi Indonesia, film ini layak ditonton, terutama melalui Maxstream, sebagai pengingat bahwa hidayah dapat datang dari berbagai arah, termasuk pengalaman pahit dan supernatural. Dengan durasi yang ringkas, film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga dengan perhatian pada konten supranatural. Rating pribadi: 7/10.
Baca Juga
-
Review Awarapan 2: Sinema Noir India Terbaik yang Penuh Ketegangan Seru!
-
Gaya Hidup Paycheck to Paycheck Bikin Finansial Gen Z Makin Rentan
-
Kisah Ajaib Desa Macondo di Serial One Hundred Years of Solitude: Part 1
-
Review Film Mutiny: Sinema Aksi Cepat Tanpa Basa-Basi yang Penuh Adrenalin!
-
Review Film Back to the 90s: Sensasi Nostalgia Era Boyband yang Penuh Warna
Artikel Terkait
Ulasan
-
Berasa Liburan ke Italia! Review Novel ROMA: Con Amore Karya Robin Wijaya
-
Review Drama Marriage Contract, Pengorbanan Seorang Ibu Untuk Putrinya
-
Review Film Mantis: Saat Ambisi Berubah Jadi Pertarungan Hidup dan Mati
-
Review Film Glass Heart: Ketika Musik Menjadi Jalan untuk Menemukan Diri
-
Review Yona of the Dawn: Transformasi Epik dari Putri Manja Menjadi Pejuang Tangguh
Terkini
-
Dari Lasagna Kimpul hingga Cheesecake Ubi: Modernisasi Pangan Lokal Agar Tak Sekadar Alternatif
-
Cegah Rusak! Ini 5 Masker Rambut Smoothing agar Tetap Lembut dan Berkilau
-
Obsession Resmi Jadi Salah Satu Film Horor Tersukses Sepanjang Masa, Raih Pendapatan Rp8,8 Triliun
-
Bekantan Terdesak Api: Hutan Kalimantan Terbakar, Mereka Kehilangan Rumah
-
Dekonstruksi Loyalitas: Mengapa Gen Z Tak Takut Resign Demi Work-Life Balance