Indonesia hari ini bergerak semakin cepat. Kota-kota tumbuh, gedung-gedung menjulang, jalan raya dipenuhi kendaraan, pusat perbelanjaan menawarkan berbagai kemewahan, sementara teknologi membuat hampir semua kebutuhan bisa dipesan dari layar ponsel. Tetapi, di tengah kemajuan itu, terdapat orang-orang berdiri di perempatan ketika lampu lalu lintas berwarna merah yang menjadi pemandangan kurang elok dan rasanya tidak pernah benar-benar berubah.
Seperti pengamen yang mengetuk kaca mobil, penjual koran yang menawarkan dagangannya, pengemis yang mengulurkan tangan, pedagang kecil yang berjalan di antara deretan kendaraan, atau seseorang yang menawarkan jasa membersihkan kaca.
Kita mungkin melihat mereka setiap hari, tetapi belum tentu benar-benar memperhatikan kehidupan di balik wajah-wajah tersebut. Kita hanya menunggu angka hitungan mundur habis, kemudian melaju ketika lampu berubah hijau.
Dengan membaca novel Ketika Lampu Berwarna Merah, saya merasa cara pandang itu tidak bisa lagi sesederhana sebelumnya. Lampu merah dalam novel ini bukan sekadar tanda untuk berhenti. Ia menjadi ruang hidup. Ia menjadi tempat mencari rezeki, tempat menggantungkan harapan, sekaligus ruang pertemuan antara orang-orang yang memiliki nasib sangat berbeda.
Hamsad Rangkuti, yang lahir di Medan pada 7 Mei 1943, dikenal sebagai salah satu cerpenis penting Indonesia. Namun, melalui novel yang ditulis pada 1980 ini, ia menunjukkan bahwa cerita tentang manusia kecil tidak pernah benar-benar menjadi cerita kecil.
Ketika Lampu Berwarna Merah justru membawa pembaca masuk ke wilayah kehidupan yang sering berada di luar perhatian kita, berupa dunia gelandangan, pengemis, anak jalanan, kaum miskin kota, serta orang-orang yang menjadi korban dari keputusan-keputusan besar yang dibuat atas nama pembangunan.
Pertama kali membuka novel karya Hamsad Rangkuti ini, saya langsung jatuh hati pada cara Hamsad menggambarkan kehidupan. Bahasanya memang sederhana, tetapi justru karena kesederhanaan itu, suasananya terasa dekat. Hamsad seperti sedang menulis sebuah feature jurnalistik, tetapi dengan tokoh, dialog, konflik, dan alur sebuah novel.
Realismenya membuat saya seolah tidak sedang membaca fiksi, melainkan sedang berdiri di tengah Jakarta dan melihat sendiri kehidupan orang-orang yang selama ini hanya saya pandangi sekilas dari balik kendaraan.
Novel setebal 226 halaman ini mempertemukan saya dengan Basri, Pipin, Kartijo, Surtini, Sutrisno, Sanip, Tua Tom, dan tokoh-tokoh lain yang hidup dalam dunia penuh keterbatasan. Ada delapan anak yang hidup dari mengemis di sekitar perempatan kawasan Monas. Salah satu di antara mereka adalah Pipin, anak berkaki buntung yang kemudian menjadi pusat perhatian teman-temannya karena kondisi tubuhnya mampu mengundang rasa iba para pengendara.
Pipin bukan hanya tokoh yang mengundang kesedihan. Ia justru memperlihatkan bagaimana anak-anak jalanan membangun solidaritas dan sistem kehidupan mereka sendiri. Basri, misalnya, kerap menggendong Pipin saat mengemis. Mereka berbagi hasil dan bertahan bersama. Dalam dunia yang bagi kita tampak begitu keras, ternyata masih terdapat bentuk persahabatan dan solidaritas yang tidak kalah kuat daripada kehidupan masyarakat yang lebih mapan.
Di sisi lain, ada Kartijo, seorang ayah dari Wonogiri yang harus menghadapi kenyataan bahwa kampung halamannya akan berubah karena pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Pemerintah menjalankan program transmigrasi dan keluarga Kartijo dipersiapkan untuk pindah ke Sumatra. Namun, anaknya, Basri, justru lebih dahulu melarikan diri ke Jakarta karena terobsesi dengan gambaran Monas dan kehidupan ibu kota.
Di sinilah saya merasa novel ini menjadi jauh lebih dalam. Jakarta bukan sekadar latar. Jakarta adalah mimpi sekaligus jebakan. Ada percakapan yang menurut saya sangat kuat ketika Kartijo hendak mencari anaknya. Ia mendapat peringatan bahwa Jakarta bukan kota yang mudah ditaklukkan.
“Saudara hendak pergi ke mana?”
“Ke Jakarta.”
“Jakarta? Jakarta kota keras. Jakarta penuh tantangan.”
“Saya tidak berniat tinggal di Jakarta. Saya hanya ingin mencari anak saya.” (hlm. 61).
Percakapan tersebut terasa sederhana, tetapi setelah membaca keseluruhan cerita, maknanya menjadi jauh lebih besar. Jakarta memang menjanjikan apa saja, tetapi tidak semua orang yang datang dengan mimpi akan mendapatkan kehidupan seperti yang dibayangkannya.
Hamsad bahkan menggambarkan Jakarta dengan ironi yang tajam. Di satu sisi, kota ini menawarkan segala macam kemewahan dan hiburan. Di sisi lain, ada orang-orang yang bahkan harus memikirkan bagaimana mendapatkan makanan untuk malam itu.
“Apa yang Anda mau ada di sana. Dari garam sampai mobil paling mewah. Segala macam hiburan tersedia. Dari yang kelas kambing sampai utama. Jakarta. Jakarta. Selalu melayani selera Anda.” (hlm. 101).
Bagi saya, kutipan tersebut masih terasa relevan hari ini. Jakarta dan kota-kota besar lainnya memang mampu memenuhi hampir semua keinginan manusia. Tetapi pertanyaannya: siapa yang mampu menikmati semua itu dan siapa yang hanya menjadi penonton?
Kontradiksi tersebut berkali-kali muncul dalam novel. Salah satu yang paling menggelitik adalah kisah tentang orang-orang yang kelaparan, sementara di sisi lain ada orang yang justru mati karena terlalu banyak makan. Hamsad tidak perlu berkhotbah panjang untuk menunjukkan ketimpangan. Ia cukup mempertemukan dua keadaan yang bertolak belakang, lalu membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri betapa absurdnya dunia.
Saya juga menemukan kritik yang lebih keras terhadap kekuasaan. Kisah keluarga Pipin menjadi salah satu bagian yang paling membuat saya kesal sekaligus sedih. Ayah Pipin menjadi korban ketika abu gosok yang dibawanya secara tidak sengaja menyebabkan kekacauan di tengah rombongan tamu negara. Alih-alih mencari persoalan secara adil, ia justru dijadikan tersangka dan mengalami kekerasan.
Tragedi keluarga Pipin tidak berhenti di sana. Rumah mereka kemudian dibongkar dalam proses penertiban. Pipin yang masih kecil berada di dalam rumah ketika bangunan tersebut diratakan. Akibatnya, ia kehilangan salah satu kakinya. Dari situlah kemudian kita memahami bagaimana seorang anak bisa tumbuh menjadi pengemis bukan karena sejak awal memilih kehidupan tersebut, melainkan karena keadaan yang perlahan-lahan mendorongnya ke sana.
Bagian ini menurut saya menjadi salah satu kekuatan terbesar novel. Hamsad tidak mengatakan secara langsung, “Lihat, mereka adalah korban.” Ia justru menunjukkan rangkaian peristiwa yang membuat pembaca sampai pada kesimpulan itu sendiri.
Menariknya, Hamsad juga tidak menggambarkan kaum marginal sebagai manusia yang selalu suci dan pantas dikasihani. Mereka memiliki sisi kasar, pragmatis, bahkan kadang sangat gelap. Ada alkohol, seksualitas, kekerasan, umpatan, tipu-menipu, dan berbagai perilaku yang mungkin membuat sebagian pembaca tidak nyaman. Tetapi justru di situlah realisme Hamsad bekerja. Ia tidak memoles kemiskinan agar terlihat romantis.
Tokoh-tokoh miskin dalam novel ini tetap manusia. Mereka bisa baik, bisa jahat, bisa egois, bisa solidaritas, bisa licik, dan bisa tertawa di tengah penderitaan. Mereka mempunyai logika hidup sendiri.
Saya paling terkesan dengan bagaimana novel ini memperlihatkan bahwa bahkan kematian pun bisa menjadi bagian dari strategi bertahan hidup. Sanip, misalnya, memiliki cara sendiri untuk memperoleh uang dari jasad orang yang meninggal. Bagi pembaca dari kehidupan yang lebih nyaman, cara berpikir seperti itu mungkin terasa keterlaluan. Namun bagi orang yang setiap hari berhadapan dengan lapar, kemiskinan dapat mengubah cara seseorang memandang banyak hal.
Saya juga menyukai kenyataan bahwa novel ini tidak hanya berbicara tentang kemiskinan urban, tetapi juga menghubungkannya dengan persoalan perpindahan penduduk, pembangunan, kekuasaan, dan hilangnya keterikatan manusia dengan tanah kelahiran.
Kisah Kartijo membuat saya berpikir bahwa sebuah pembangunan mungkin terlihat megah dalam laporan dan angka, tetapi bagi orang tertentu pembangunan itu bisa berarti kehilangan rumah, makam leluhur, sawah, kenangan, bahkan keluarga.
Novel ini juga membuat saya memikirkan kembali arti keinginan. Apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup?
Di zaman sekarang, kita sering mengukur kebahagiaan dari benda yang dimiliki. Jam tangan harus lebih mahal, telepon genggam harus lebih baru, kendaraan harus lebih bagus, rumah harus lebih besar. Kita mengenal istilah self reward, seolah membeli sesuatu adalah cara paling mudah untuk menghadiahi diri sendiri. Padahal, semakin banyak yang kita punya, semakin banyak pula yang kita inginkan.
Sementara itu, Pipin dan kawan-kawannya mungkin hanya menginginkan makanan malam itu. Perbedaan tersebut membuat saya merenung, jangan-jangan masalah manusia bukan selalu karena tidak memiliki sesuatu, melainkan karena tidak pernah merasa cukup.
Bagi generasi muda masa kini, Ketika Lampu Berwarna Merah menurut saya masih sangat penting dibaca. Memang latarnya berasal dari Jakarta masa lalu, tetapi persoalan yang dibicarakannya belum benar-benar hilang. Kemiskinan kota, ketimpangan sosial, penggusuran, migrasi, anak jalanan, kesenjangan gaya hidup, penyalahgunaan kekuasaan, hingga kecenderungan masyarakat melihat orang miskin hanya sebagai objek belas kasihan masih bisa kita temukan dalam bentuk yang berbeda.
Generasi muda yang setiap hari akrab dengan media sosial juga perlu sesekali membaca karya seperti ini. Di media sosial, kemiskinan kadang berubah menjadi konten. Kesusahan seseorang dapat dijadikan tontonan, dikemas, dibagikan, lalu dilupakan. Novel ini mengingatkan saya bahwa kemiskinan bukan komoditas untuk mendapatkan simpati. Kemiskinan seharusnya membuat kita belajar menjaga empati.
Itulah kekuatan Ketika Lampu Berwarna Merah. Hamsad Rangkuti tidak mengajari saya untuk merasa kasihan kepada orang miskin. Ia justru mengajak saya melihat mereka sebagai manusia yang mempunyai sejarah, pilihan, kesalahan, harapan, dan cara sendiri untuk bertahan hidup.
Identitas Buku
- Judul: Ketika Lampu Berwarna Merah
- Penulis: Hamsad Rangkuti
- Penerbit: Diva Press
- Cetakan: I, 2022
- Tebal: 228 Halaman
- ISBN: 978-602-391-148-6
- Genre: Fiksi/Novel
Baca Juga
-
Huawei Mate XT 2 Resmi Rilis 7 September: Desain U-Shape dan Kirin 9050 Pro
-
POCO F9 Series Resmi Menuju Pasar Global, BawaSnapdragon 8 Elite Gen 5 dan Baterai 8.050 mAh
-
Khotbah dari Bawah Mimbar: Dakwah Sederhana yang Diam-diam Sampai ke Hati
-
Grand Seiko SBGA527: Jam Tangan Eksklusif Hanya 50 Unit, Harga Rp120 Jutaan
-
Huawei Pura X View Resmi Meluncur,HP Wide Screen Pertama dengan Layar 6,39 Inci
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Malice: Ketika Iri Hati Menjadi Alasan untuk Membunuh
-
Cabbage Your Life: Potret Kehidupan Desa dan Makna Bahagia yang Sederhana
-
Ketika Utang Menjadi Jerat: Pelajaran Penting di Buku Merah MTR
-
Masjid At Taqwa Pare, Lebih Seabad Berdiri Menjaga Jejak Sejarah Kediri
-
Ulasan Pelukis Bisu dan Rahasia Kelam di Balik Sebuah Pembunuhan
Terkini
-
Rekening Diblokir Jelang Demo, Penegakan Hukum atau Pembungkaman?
-
Rakyat Jaga Rakyat: Ketika Solidaritas Lebih Cepat Datang daripada Negara
-
Review Film Paket Santet: Eksperimen Dinna Jasanti Keluar dari Zona Nyaman
-
Review Serial Tires Season 2: Ketika Kegagalan Bisnis Dihadapi dengan Humor
-
Anime A Pen, Handcuffs, and a Common-Law Marriage Resmi Tayang Januari 2027