Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Buku Khotbah dari Bawah Mimbar (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Fathorrozi 🖊️

Dari judulnya, Khotbah dari Bawah Mimbar, saya mengira akan menemukan semacam kumpulan khotbah atau tulisan reflektif yang secara langsung mengajak pembaca berbicara tentang persoalan agama. Apalagi frasa “khotbah” biasanya membuat saya membayangkan mimbar, masjid, khutbah Jumat, dalil-dalil, dan bahasa keagamaan yang cukup serius. Ternyata dugaan saya meleset.

Buku setebal 234 halaman ini justru berupa antologi cerita pendek dengan tokoh-tokoh yang sama. Gus Mut dinobatkan sebagai tokoh utama, Kiai Kholil sebagai ayahnya, lalu Mas Is, Kang Fanshuri, dan beberapa warga lainnya. Mereka hadir dalam berbagai persoalan sederhana yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari perbedaan praktik ibadah, persoalan halal-haram, cara menyikapi orang lain, sampai bagaimana seharusnya seseorang menempatkan keyakinan agama tanpa merasa paling benar sendiri.

Ahmad Khadafi tidak mengajak saya duduk sebagai pembaca yang sedang mengikuti kuliah agama. Namun, ia seperti mengajak saya duduk di teras rumah, ikut mendengarkan obrolan warga, lalu perlahan-lahan menyadari bahwa percakapan sederhana itu ternyata sedang membicarakan sesuatu yang penting.

Islam yang Hadir dari Obrolan Sehari-hari

Tokoh Kiai Kholil dan Gus Mut menjadi pusat dari hampir seluruh cerita. Keduanya digambarkan sebagai kiai kampung yang tidak berjarak dengan masyarakat. Mereka tidak selalu tampil sebagai sosok yang memberikan ceramah panjang dengan bahasa yang rumit. Sebaliknya, mereka menjawab pertanyaan dan kegelisahan orang-orang di sekitarnya dengan cara yang sederhana, santai, tetapi tetap memiliki dasar pemikiran keagamaan yang kuat.

Saya suka cara Ahmad Khadafi membangun karakter tokoh-tokohnya. Kiai Kholil tidak digambarkan sebagai kiai yang hanya tahu hukum agama, sedangkan Mas Is dan Fanshuri juga tidak sekadar menjadi tokoh pelengkap. Mereka justru mewakili orang-orang awam yang sering bertanya tentang agama dengan cara yang polos, seperti ini boleh atau tidak, ini dosa atau bukan, ibadah saya diterima atau tidak, dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terasa manusiawi. Sebab, bukankah kita juga sering memiliki pertanyaan yang sama?

Menariknya lagi, jawaban Kiai Kholil dan Gus Mut tidak membuat persoalan agama terasa semakin berat. Mereka justru menghadirkan Islam sebagai sesuatu yang bisa dipahami dengan akal sehat, hati yang tenang, dan sikap saling menghargai.

Di antara bagian yang paling berkesan bagi saya adalah ketika persoalan doa qunut muncul. Kiai Kholil diundang untuk menjadi imam di masjid tetangga yang masyarakatnya tidak terbiasa menggunakan qunut. Alih-alih memaksakan kebiasaan yang selama ini ia jalankan, Kiai Kholil memilih menghormati jamaah setempat.

Ia mengatakan, “Hukum itu keyakinan kita bahwa doa qunut itu disarankan, tapi sikap hukum kita terhadap yang tidak melakukan itu, ya, baiknya biasa saja.” (hlm. 41).

Bagi saya, percakapan ini sederhana, tetapi pesannya dalam. Perbedaan dalam praktik keagamaan tidak selalu harus berakhir dengan pertengkaran. Kita boleh meyakini sesuatu, tetapi keyakinan itu tidak otomatis memberikan izin kepada kita untuk merendahkan orang yang berbeda.

Bahkan Kiai Kholil melanjutkan bahwa menghormati tuan rumah lebih baik daripada mempertahankan kebiasaan yang tidak terlalu prinsipil (hlm. 41). Di sinilah saya merasa bahwa judul buku ini benar-benar menemukan maknanya: khotbah ternyata tidak selalu membutuhkan mimbar.

Dari Soal Jilbab hingga Sikap kepada Orang yang Berbeda

Salah satu kekuatan buku ini adalah keberaniannya mengangkat persoalan agama yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, soal perempuan yang tidak menutup aurat.

Mas Is merasa geregetan ketika melihat perempuan Muslim yang tidak berjilbab. Bahkan muncul anggapan bahwa orang Islam yang tidak mengenakan jilbab seolah-olah bukan Muslim. Gus Mut kemudian memberikan penjelasan yang menurut saya sangat penting.

“Menutup aurat itu memang kewajiban, tapi jangan lantas kalau ada orang Islam belum menjalankan kewajiban itu, kamu cap jadi nggak Islam.” (hlm. 10).

Dialog ini mengajak saya membedakan antara sebuah kewajiban agama dengan cara kita memperlakukan orang yang belum menjalankannya. Seseorang mungkin belum sempurna dalam menjalankan kewajibannya, tetapi bukan berarti kita berhak menghapus identitas keislamannya.

Pesan semacam ini terasa relevan karena dalam kehidupan sehari-hari kita sering terlalu cepat memberikan penilaian. Kita melihat seseorang melakukan sesuatu yang menurut kita salah, kemudian merasa punya hak untuk menghakimi seluruh dirinya.

Padahal, sebagaimana digambarkan Ahmad Khadafi melalui Gus Mut, mengingatkan orang lain seharusnya tidak membuat kita kehilangan adab.

Pesan serupa muncul ketika buku ini membahas sikap kepada orang yang dianggap melakukan kesalahan. Ada satu kalimat yang menurut saya cukup menohok, “Mentang-mentang merasa benar dan lebih berkuasa, bukan berarti kita bisa semena-mena memperlakukan orang yang salah.” (hlm. 13).

Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak. Sebab, terkadang masalahnya bukan pada apakah kita benar atau salah. Bisa jadi kita memang benar. Namun, cara menyampaikan kebenaran juga tetap membutuhkan akhlak.

Benar tidak berarti boleh kasar. Benar tidak berarti boleh merendahkan. Dan merasa memiliki pengetahuan agama tidak otomatis membuat kita lebih tinggi daripada orang lain.

Cerita Pendek, tetapi Gagasannya Panjang

Saya menikmati cara Ahmad Khadafi menyusun buku ini. Setiap cerita terasa seperti memiliki satu persoalan utama, kemudian bergerak menuju penyelesaian. Karena ceritanya pendek, saya tidak merasa sedang membaca buku agama yang berat.

Justru sebaliknya, saya merasa seperti sedang membaca fiksi. Ada tokoh, percakapan, konflik, humor, dan penyelesaian. Namun, setelah ceritanya selesai, selalu ada sesuatu yang tertinggal di kepala.

Itulah yang menurut saya menjadi keistimewaan Khotbah dari Bawah Mimbar. Buku ini mampu menyamarkan pesan keagamaan di balik cerita yang ringan.

Saya juga menangkap bahwa banyak cerita dalam buku ini terinspirasi dari ceramah dan pengajian Gus Baha. Pengaruh tersebut terasa dalam cara persoalan agama dibicarakan: tidak tergesa-gesa menghakimi, tidak gemar menakut-nakuti, dan berusaha melihat persoalan secara lebih luas.

Oleh karena itu, membaca buku ini bagi saya seperti mendengarkan pengajian yang berlangsung dalam suasana santai. Bukan pengajian yang membuat saya merasa sedang diuji pengetahuan agamanya, melainkan pengajian yang membuat saya tersenyum, berpikir, lalu sesekali mengoreksi diri sendiri.

Setelah selesai membaca buku ini, saya akhirnya memahami bahwa “bawah mimbar” bukan sekadar tempat. Ia adalah simbol bahwa dakwah tidak selalu harus dilakukan dengan cara formal.

Kiai Kholil dan Gus Mut berdakwah melalui obrolan. Mereka hadir di tengah masyarakat, mendengarkan pertanyaan orang-orang, lalu memberikan jawaban dengan bahasa yang mudah dipahami. Dakwah menjadi bagian dari kehidupan, bukan sesuatu yang hanya muncul ketika seseorang berdiri di atas mimbar.

Saya menyukai pendekatan seperti ini karena agama terasa lebih dekat. Tidak ada kesan bahwa Islam hanya berisi aturan yang harus ditakuti. Sebaliknya, ada ruang untuk memahami, bertanya, berbeda pendapat, dan belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Buku ini mengingatkan saya bahwa menjadi benar saja belum cukup. Kita juga perlu belajar bagaimana menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar. Sebab, dakwah yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang mendengar, tetapi juga tentang seberapa lembut pesan itu sampai ke hati.

Identitas Buku

  • Judul: Khotbah dari Bawah Mimbar
  • Penulis: Ahmad Khadafi
  • Penerbit: Buku Mojok
  • Cetakan: I, April 2021
  • Tebal: 234 Halaman
  • ISBN: 978-623-7284-54-3
  • Genre: Religi