Cemara merupakan kumpulan cerpen Hamsad Rangkuti yang menghimpun cerita-cerita dengan warna yang beragam, seperti kisah tentang persahabatan, kehidupan rakyat kecil, perempuan, petani, politik, mitos, hingga absurditas yang muncul dari kejadian sehari-hari.
Di dalamnya terdapat cerita yang terasa realistis, tetapi ada pula yang sengaja bermain-main dengan ironi dan sesuatu yang nyaris tidak masuk akal.
Yang menarik bagi saya adalah cara Hamsad mengolah sesuatu yang tampak sederhana menjadi cerita yang mempunyai lapisan makna. Ia tidak selalu membutuhkan peristiwa besar untuk membuat pembaca berpikir. Kadang-kadang cukup dengan sate kambing, rambut panjang, bangku bus, seekor menjangan, atau sebungkus nasi uduk.
Misalnya dalam cerpen Penyakit Sahabat Saya, terdapat kalimat yang sederhana tetapi terasa ganjil sekaligus mengundang rasa penasaran.
“Selalu saja saya membabat pohon begitu saya selesai makan sate kambing.”
Dari kalimat semacam ini, Hamsad memperlihatkan kehebatannya, bahwa ia tengah membuat sesuatu yang tidak lazim terasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari.
Hal serupa saya temukan dalam cerpen Anak Menjangan. Cerita tentang anak-anak yang berusaha menyelamatkan seekor menjangan dari jeratan pemburu sebenarnya sederhana. Namun, di balik kesederhanaan itu terdapat pembicaraan tentang kebebasan dan kasih sayang.
“Ibu Guru pernah bercerita. Anak-anak perlu kebebasan. Anak-anak tidak boleh dikungkung. Apalagi kalau disakiti. Makanya anak menjangan itu tidak boleh dikurung.”
Kalimat tersebut terasa semakin menarik jika dibaca dalam konteks sekarang. Kita sering berbicara tentang kebebasan anak, hak hidup makhluk lain, dan lingkungan, tetapi dalam praktiknya manusia masih sering merasa berhak menguasai segala sesuatu. Hamsad sudah mengangkat kegelisahan semacam itu melalui cerita yang tampaknya sederhana.
Sementara itu, cerpen bertajuk Perhiasan menghadirkan ironi melalui benda yang bagi sebagian orang menjadi simbol status sosial.
“Saya mengenakan kalung emas murni bila perlu saja. Misalnya, kalau menghadiri arisan keluarga. Atau menghadiri arisan di lingkungan tetangga. Pada saat-saat seperti itu kita harus mengenakan kalung emas mumi.”
Di sini saya merasa Hamsad sedang bermain dengan kebiasaan sosial manusia, berupa keinginan terlihat berada, keinginan memperoleh pengakuan, dan kecenderungan mengukur harga diri melalui penampilan. Menariknya, persoalan seperti ini justru semakin relevan di zaman media sosial.
Kalau dulu orang mengenakan perhiasan untuk terlihat mapan ketika datang ke arisan, sekarang seseorang bisa memamerkan gaya hidup melalui Instagram, TikTok, atau platform digital lainnya.
Cemara dan Luka yang Tidak Sederhana
Cerpen Cemara, yang menjadi judul utama buku, menjadi salah satu cerita yang paling membekas bagi saya. Cerita ini berkisar pada Mariam, seorang perempuan yang bekerja di sebuah pabrik. Rambut panjangnya menjadi bagian penting dari cerita sekaligus sumber tragedi.
Hamsad menggambarkan kecelakaan Mariam dengan detail dan cukup mengerikan.
“Tetapi, ujung rambut itu melilit cepat pada bagian mesin yang berputar itu, dan seketika saja menyentakkan kepala Mariam hingga mesin penggulung benang itu merenggut kulit kepalanya.”
Adegan ini terasa kuat karena tragedinya tidak dibangun dengan dramatisasi berlebihan. Justru detail yang dingin dan sederhana membuat peristiwa tersebut terasa nyata. Mariam dirawat, kemudian meninggal. Setelah pemakamannya, sahabatnya, Rini, menerima cemara milik Mariam sebagai amanat.
Di titik ini, judul Cemara menjadi lebih dari sekadar nama. Ia menjadi simbol kenangan, kehilangan, persahabatan, dan sesuatu yang ditinggalkan seseorang setelah kematian.
Saya juga menikmati Muntah Emas, salah satu cerpen yang paling unik. Hamsad mampu membuat pembaca merasa jijik sekaligus penasaran. Seorang penumpang bus memilih duduk di dekat muntahan yang dihindari semua orang. Bagi penumpang lain, itu menjijikkan. Namun bagi tokoh tersebut, benda yang dianggap menjijikkan itu justru mengingatkannya pada pengalaman menemukan gigi emas.
Cerita seperti ini menunjukkan bahwa Hamsad pandai mengubah sesuatu yang remeh menjadi bahan renungan. Kita bisa tertawa, merasa jijik, lalu tiba-tiba menyadari bahwa manusia memang sering melihat sesuatu berdasarkan kepentingannya sendiri.
Kritik Sosial yang Tidak Menggurui
Di antara kekuatan terbesar buku kumpulan cerpen Cemara menurut saya adalah keberanian Hamsad menyelipkan kritik sosial dan politik tanpa harus membuat ceritanya berubah menjadi ceramah.
Dalam cerpen berjudul Musuh Petani, misalnya, persoalan petani tidak berhenti pada babi-babi yang merusak tanaman. Perlahan cerita membuka kenyataan bahwa petani juga berhadapan dengan manusia yang mengambil keuntungan dari kesulitan mereka, seperti pengijon dan aparat tertentu.
Ada pula Dua Orang yang Kecewa, yang menurut saya menarik karena membawa persoalan persahabatan dan perubahan manusia. Dua orang yang pernah berjuang bersama akhirnya berhadapan dengan jarak yang diciptakan waktu, keadaan, dan perubahan diri. Cerita ini membuat saya berpikir bahwa persahabatan bukan semata-mata soal siapa yang tetap menjadi orang yang sama, melainkan bagaimana hubungan itu bertahan ketika manusia di dalamnya berubah.
Kemudian ada Lagu di Atas Bus. Cerita ini menggunakan bus sebagai ruang tunggal. Para penumpang terus meminta lagu diganti sesuai selera masing-masing, yakni jazz, disko, keroncong, dangdut, pop, gending Jawa, kecapi Sunda, saluang, Tapanuli modern, hingga mars perjuangan. Pada akhirnya, lagu Indonesia Raya diputar dan tidak seorang pun berani menghentikannya.
Cerpen ini memang terasa lebih monoton dibandingkan beberapa cerita lainnya. Percakapannya cukup panjang dan ide pergantian lagu berkali-kali bisa terasa berlebihan. Namun, justru di situlah ironi Hamsad bekerja. Bus menjadi semacam miniatur masyarakat yang banyak orang membawa selera, kepentingan, dan suara masing-masing, tetapi pada akhirnya ada suara tertentu yang tidak boleh dibantah.
Hamsad Rangkuti, Pengarang yang Tumbuh dari Kesederhanaan
Membaca buku kumcer Cemara rasanya tidak lengkap tanpa melihat sosok pengarangnya. Hamsad Rangkuti lahir di Titikuning, Medan, pada 7 Mei 1943. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dan mengalami kehidupan yang tidak mudah sejak kecil. Pendidikan formalnya hanya sampai tingkat SMA karena keterbatasan biaya.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalanginya menjadi salah satu cerpenis penting Indonesia. Sejak 1960 ia mulai menulis cerpen. Karyanya kemudian dimuat di berbagai media, termasuk Kompas, Mutiara, Gadis, Sarinah, Kartini, Femina, dan Horison.
Ada satu bagian dari kisah hidupnya yang menurut saya menarik. Ketika masih kecil, Hamsad sering menemani ayahnya bekerja sebagai penjaga malam. Untuk melawan kantuk, sang ayah kerap bercerita kepadanya. Hamsad kemudian pernah mengatakan, “Mungkin kepandaian bercerita itu kemudian menurun kepada saya.”
Kalimat tersebut terasa sederhana, tetapi ketika kita selesai membaca Cemara, kita bisa memahami maksudnya. Hamsad memang memiliki kemampuan bercerita yang khas, yakni sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi menyimpan sesuatu di baliknya.
Kelebihan dan Kekurangan
Menurut saya, kelebihan utama buku ini terletak pada kemampuan Hamsad membangun ironi. Ia bisa membuat cerita yang tampaknya biasa menjadi ganjil dan membuat pembaca berpikir. Deskripsinya juga cukup kuat sehingga beberapa adegan mudah terbayang.
Ending sejumlah cerpen juga tidak selalu memberikan jawaban secara gamblang. Pembaca diberi ruang untuk menafsirkan sendiri. Bagi saya, ini justru membuat beberapa cerita bertahan lebih lama dalam pikiran.
Namun, buku ini tentu tidak sempurna. Beberapa cerita terasa panjang dan kurang mudah dipahami bagi pembaca yang belum terbiasa dengan karya sastra lama. Lagu di Atas Bus, misalnya, bagi saya memiliki ritme yang lebih lambat dan percakapan yang terasa berulang.
Masih Relevan untuk Generasi Muda
Lantas, apakah Cemara masih relevan untuk generasi muda sekarang? Menurut saya, sangat relevan.
Memang, bus dalam cerita Hamsad tidak sama dengan transportasi online yang kita gunakan sekarang. Orang-orang dalam ceritanya tidak sibuk dengan smartphone. Mereka juga tidak hidup dalam budaya algoritma dan media sosial.
Tetapi manusia tetaplah manusia. Keinginan untuk diakui masih ada. Keserakahan masih ada. Persahabatan yang diuji waktu masih ada. Ketimpangan sosial masih ada. Orang yang mengejar keuntungan dari kesulitan orang lain juga masih ada. Bahkan persoalan tentang kebebasan, lingkungan, dan tekanan sosial semakin dekat dengan kehidupan anak muda.
Oleh karena itu, membaca buku Cemara bukan sekadar bernostalgia terhadap sastra lama. Buku ini justru bisa menjadi cara untuk melihat bahwa sebagian persoalan manusia tidak pernah benar-benar menjadi tua.
Cemara mungkin lahir dari dunia yang berbeda dengan dunia kita sekarang. Namun, rasa getir, lucu, getir, absurd, dan manusianya tetap terasa akrab. Hamsad Rangkuti mengingatkan saya bahwa sastra tidak selalu harus berbicara dengan bahasa yang rumit. Kadang-kadang, cerita tentang orang biasa dan kejadian sederhana justru mampu memperlihatkan wajah kehidupan dengan lebih jujur.
Identitas Buku
- Judul: Cemara
- Penulis: Hamsad Rangkuti
- Penerbit: DIVA Press
- Cetakan: I, 2016
- Tebal: 168 Halaman
- ISBN: 978-602-391-234-6
- Genre: Fiksi/Cerpen
Baca Juga
-
Samsung Galaxy Watch Ultra2: Jam Tangan Pintar Premium dengan Baterai 800 mAh, Harga Rp10 Jutaan
-
Vivo X500 Series Resmi Meluncur September 2026, Usung Kamera 200 MP dan Video Sinematik
-
POCO Pad, Tablet Serbaguna Rp3,9 Jutaan dengan Layar 2.5K 120Hz
-
Huawei MateBook Pro S Resmi Hadir, Laptop 798 Gram dengan Layar OLED 3,1K
-
Ketika Lampu Berwarna Merah: Hamsad Rangkuti dan Wajah Lain Jakarta
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Buku The Art of Stoicism: Seni Menjadi Diri yang Tenang di Masa Kini
-
Review Film Chiikawa the Movie: Misi Berbahaya Chiikawa di Pulau Duyung
-
Ulasan May I Help You?: Merayakan Kehidupan Lewat Kisah-kisah Kehilangan
-
Ulasan Gadis Minimarket: Ketika Menjadi Berbeda Bukan Berarti Salah
-
Review Drama No Tail to Tell, Kisah Asmara Atlet Sepak Bola dan Gumiho Gen Z
Terkini
-
Setelah 5 Laga Melempem, Messi Bawa Inter Miami Pesta 7 Gol
-
Boyfriend Material Banget! 5 Inspirasi Outfit Kekinian ala Song Kang
-
Standar Rekrutmen Makin Tinggi, Mengapa Gaji Tak Ikut Mengimbangi?
-
Erick Thohir Bicara Target Indonesia di Asian Games 2026, Berapa Emas?
-
Mesin Meledak di Sprint Race GP Aragon, Fabio Quartararo: Saya Sudah Tahu