Sekar Anindyah Lamase | Windy Aritonang
Screenshot video klip lagu Great Expectations (YouTube/ SienaSpiro)
Windy Aritonang

Pernahkah Anda merasa begitu yakin bahwa seseorang akan menjadi bagian penting dalam hidup, meskipun hubungan yang dijalani sebenarnya belum memiliki kepastian? Perasaan seperti ini mungkin pernah dirasakan ketika seseorang mulai memberikan perhatian, mengajak berbicara lebih sering, atau menunjukkan sikap yang membuat kita merasa ada sesuatu yang berbeda. 

Dari hal-hal kecil tersebut, tanpa sadar kita mulai membangun cerita sendiri tentang hubungan yang mungkin terjadi. 

Kita membayangkan bagaimana orang tersebut akan memperlakukan kita, bagaimana hubungan itu akan berkembang, bahkan seperti apa akhirnya nanti. Padahal, belum tentu semua yang kita bayangkan benar-benar akan terjadi. 

Perasaan tersebut yang dibawakan dalam lagu Great Expectation” milik Sienna Spiro. Lagu ini mengajak pendengar melihat bagaimana seseorang bisa memiliki harapan yang begitu besar terhadap orang lain sampai akhirnya harapan tersebut terasa lebih nyata daripada kenyataan yang sedang dihadapi.

Melalui “Great Expectation”, Sienna  membawa pendengar masuk ke dalam perasaan seseorang yang berada di antara harapan dan kenyataan.

Ada keinginan untuk tetap percaya bahwa hubungan tersebut memiliki arti, tetapi ada pula kesadaran bahwa sosok yang diharapkan ternyata tidak selalu hadir seperti yang dibayangkan.

Pada awal lagu, Sienna langsung membawa pendengar ke dalam pikirannya melalui lirik "In my head". Setelah kalimat tersebut, ia menggambarkan seseorang yang berada di dekatnya, memberikan ciuman, memeluknya dengan penuh perhatian, hingga mengucapkan selamat tinggal. 

Bagian ini menurut saya menjadi pembuka yang penting karena banyak orang mungkin tidak sadar bahwa ekspektasi dalam hubungan sering kali dimulai dari hal sederhana. Gambaran tersebut terasa seperti sebuah hubungan yang benar-benar terjadi, tetapi sebenarnya hanya berlangsung dalam pikiran. 

Perasaan tersebut kemudian semakin jelas melalui lirik "If you can’t be what I want". Kalimat ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa orang yang diharapkan ternyata tidak mampu menjadi sosok yang diinginkan. 

Ketika seseorang sudah memiliki gambaran ideal tentang sebuah hubungan, perbedaan tersebut bisa terasa menyakitkan karena kita berharap orang lain mampu memenuhi gambaran yang sudah kita bangun. 

Padahal, mencintai seseorang dan menginginkan seseorang berubah menjadi seperti yang kita harapkan merupakan dua hal yang berbeda. 

Ketika kita mulai lebih mencintai versi ideal seseorang daripada dirinya yang sebenarnya, hubungan tersebut akan semakin sulit dijalani karena kita terus membandingkan kenyataan dengan bayangan yang ada di kepala. 

Hal inilah yang membuat bagian ketika Sienna menyebut "change the plot" terasa begitu kuat. Ia menggambarkan bagaimana dirinya terus kembali dan mengubah cerita agar orang tersebut bisa hadir sesuai dengan keinginannya. Jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, maka pikirannya mencoba membuat cerita lain yang terasa lebih menyenangkan. 

Menurut saya, bagian ini sangat dekat dengan kebiasaan banyak anak muda terutama saya sendiri, ketika menjalani hubungan yang belum memiliki kepastian. Kita mulai menyusun kemungkinan bahwa sebenarnya dia cinta, hanya saja belum siap.

Bahkan, ketika hubungan tidak pernah memiliki arah yang jelas, kita tetap percaya bahwa suatu hari semuanya akan berubah. 

Kemudian, lagu ini sampai pada bagian yang menurut saya inti utama dari lagu ini "You exist inside my mind". Setelah melalui berbagai harapan, ketakutan, dan usaha untuk mempertahankan bayangan tentang seseorang, akhirnya muncul kesadaran bahwa sosok tersebut ternyata lebih banyak hidup di dalam pikiran daripada dalam kenyataan.

Sienna Spiro melalui lagu ini seperti mengajak pendengar untuk melihat kembali bagaimana sebuah ekspektasi terbentuk. Apakah kita benar-benar menyukai seseorang sebagaimana dirinya, atau justru menyukai versi dirinya yang kita ciptakan sendiri.

Melalui lagu ini, kita mungkin bisa belajar bahwa tidak semua perhatian harus diterjemahkan menjadi cinta, tidak semua kedekatan harus berakhir menjadi hubungan, dan tidak semua kemungkinan harus dipaksakan menjadi kenyataan. 

Sebab, yang paling menyakitkan terkadang bukan ketika seseorang pergi, melainkan ketika kita menyadari bahwa sosok yang selama ini kita tunggu ternyata hanya hidup dalam ekspektasi sendiri. 

Setelah mendengarkan lagu "Great Expectation", pernahkah kita berpikir bahwa mungkin yang kita sukai bukan orangnya, tetapi sosok yang kita ciptakan sendiri di dalam pikiran?