Ada masa ketika aku merasa kehidupan modern memang pantas ditinggalkan. Bangun pagi, bekerja, mengejar uang, membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, kemudian mengulanginya lagi besok, melelahkan. Tapi tetap saja, kita menyebutnya kehidupan yang normal-normal saja.
Padahal kalau dipikir-pikir sebentar, normal itu sebenarnya apa? “Captain Fantastic” datang dengan pertanyaan yang mengusik kita semua, bagaimana kalau semua yang kita anggap normal ternyata cuma sesuatu yang diwariskan tanpa pernah kita pertanyakan?
Film garapan Matt Ross ini bercerita tentang Ben Cash (Viggo Mortensen), seorang ayah yang membesarkan enam anaknya di tengah hutan Pacific Northwest. Bersama istrinya, Leslie, Ben memilih hidup jauh dari masyarakat dan memberikan pendidikan yang sangat berbeda dari sekolah konvensional.
Anak-anaknya membaca filsafat dan sastra, berlatih fisik, berburu, bertahan hidup di alam, sekaligus dituntut menjelaskan apa yang mereka pikirkan. Bukan sekadar membaca dan menghafal isi bukunya saja, tetapi mempertanggungjawabkan tafsir mereka sendiri.
Dan jujur saja, bagian ini sangat memuaskan. Ketika anak-anak lain mungkin sibuk menghafalkan sesuatu untuk ujian, anak-anak Ben bisa mendiskusikan buku, memainkan alat musik, memanjat tebing, berburu, dan memperdebatkan gagasan politik. Mereka bahkan memperingati ulang tahun Noam Chomsky dengan misi membebaskan makanan dari supermarket. Gila. Sementara kita sibuk memperdebatkan tempat makan untuk merayakan Valentine, keluarga Cash memperingati Chomsky.
Film ini kemudian seperti sengaja menampar kebiasaan-kebiasaan modern yang kita anggap alamiah. Pakaian, misalnya. Mengapa tubuh manusia harus selalu ditutup? Mengapa tubuh telanjang otomatis dianggap memalukan? Mengapa makanan harus selalu tersedia di supermarket? Mengapa anak harus belajar dengan kurikulum tertentu? Mengapa pendidikan harus berlangsung di sekolah?
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa menjemukan dan tidak penting sekali untuk dipikirkan, tetapi justru di situlah kekuatan film ini, ia membuat sesuatu yang terlalu biasa menjadi terasa asing kembali.
Namun “Captain Fantastic” tidak berhenti sebagai propaganda hidup di tengah hutan. Justru di sinilah filmnya menjadi menarik. Ben ternyata tidak sepenuhnya benar. Anak-anaknya memang tangguh, kritis, dan berpengetahuan, tetapi mereka juga tumbuh dalam ruang yang sangat terkontrol. Ketika harus berhadapan dengan dunia yang tidak mereka kenal, kemampuan bertahan hidup di hutan tidak otomatis membuat mereka mampu memahami seluruh kompleksitas kehidupan sosial.
Kontradiksi itu terasa ketika salah satu anak Ben mulai mempertanyakan kehidupan yang mereka jalani. Ada yang memilih pergi, ada yang ingin mengenal dunia luar, dan ada pula yang menyadari bahwa keterampilan hidup yang diberikan ayahnya tidak selalu relevan dengan kehidupan yang akan mereka hadapi. Ben akhirnya berhadapan dengan kenyataan sederhana yang selama ini mungkin luput darinya bahwa anak-anaknya bukan proyek ideologis orang tuanya.
Matt Ross sendiri pernah menjelaskan bahwa film ini berangkat dari pertanyaan tentang apakah dirinya merupakan orang tua yang baik. Dalam wawancara Festival Cannes, Ross mengatakan bahwa film tersebut mempertanyakan batas antara melakukan terlalu banyak dan terlalu sedikit dalam membesarkan anak. Jadi, film ini sebenarnya tidak sedang mengatakan bahwa sekolah itu buruk atau masyarakat modern itu sampah. Ia hanya sedang bertanya bahwa sampai sejauh mana orang tua boleh menentukan dunia seperti apa yang harus diwariskan kepada anak?
Karena itu, menurut saya, meninggalkan peradaban bukanlah solusi. Kita boleh muak terhadap konsumerisme, pendidikan yang terlalu seragam, budaya membeli, atau kehidupan kota yang membuat manusia terasa seperti mesin. Tetapi melarikan diri sepenuhnya juga dapat menjadi bentuk lain dari keterbatasan. Kita tidak membebaskan anak dari sistem dengan mencabut mereka sepenuhnya dari masyarakat. Kita hanya mengganti satu sistem dengan sistem yang kita bangun sendiri.
Di situlah “Captain Fantastic” menjadi lebih dari sekadar film keluarga eksentrik. Film ini mengingatkan bahwa mungkin persoalan terbesar manusia modern adalah karena kita terlalu sering menerima jawaban yang sudah tersedia. Kita memakai pakaian karena semua orang memakainya. Sekolah karena semua orang sekolah. Bekerja, membeli, memiliki, mengejar, dan mengulanginya karena begitulah kehidupan katanya harus dijalani.
IMDb mencatat “Captain Fantastic” memperoleh rating 7,8/10 dari lebih dari 253 ribu penilaian pengguna. Rotten Tomatoes memberinya 82 persen dari kritikus dan 85 persen dari penonton. Film ini juga memperoleh 15 kemenangan dan 51 nominasi, termasuk nominasi Oscar untuk Viggo Mortensen sebagai Aktor Utama.
Tetapi bagi saya, nilai terbesar film ini justru terletak pada keberaniannya membuat kita merasa sedikit tidak nyaman terhadap kehidupan sendiri. Setelah menontonnya, mungkin kita tidak perlu pindah ke hutan. Tidak perlu berburu rusa untuk makan malam. Tidak perlu mendirikan negara kecil bernama keluarga Cash. Cukup mulai saja dari satu pertanyaan: “mengapa kita melakukan semua yang selama ini kita lakukan?” Sebab mungkin kebebasan barangkali dimulai ketika kita cukup berani untuk mempertanyakan sistem yang selama ini kita anggap normal.
Baca Juga
-
Ulasan Buku Penghancuran Buku: Saat Buku Dibakar & Ingatan Dihapus
-
Strava dan Komodifikasi Keringat, Saat Lari Jadi Validasi Sosial
-
5 Skill Non-AI yang Wajib Dimiliki Fresh Graduate di Era Otomatisasi
-
Invasi Micro-Drama China, Saat Cerita Singkat Menguasai Gen Z
-
Kartun Edukatif atau Etalase Politik? Membongkar Agenda Terselubung di Film Melangkah dari Timur
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Serial X-Men '97 Season 1: Keberhasilan Nostalgia yang Sangat Keren!
-
Skenario Manipulasi dan Teror Psikologis dalam Film Gone Girl
-
Belajar Memahami Manusia Lewat Buku The Art of Dealing with People
-
A Book of Maps for You, Ketika Sebuah Peta Menjadi Hadiah Perpisahan
-
Cinta yang Tumbuh di Tanah Suci: Menyusuri Sabar dalam Asmara di Atas Haram
Terkini
-
Igor Tolic Enggan Berpikir Terlalu Jauh Meski Tiket ACL Two Sudah di Tangan
-
Episode Spesial My Happy Marriage Tayang 25 Oktober, Hadirkan Karakter Baru
-
Satu Kebijakan Publik Bisa Mengubah Harga dan Hidup Masyarakat
-
5 Inspirasi Daily Outfit Bergaya Kasual ala Jang Gyuri, Mudah Ditiru!
-
Darksiders 4 dan Kingdom Come Baru Ditargetkan Rilis 2027-2028